Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang   Kepada Yth Wali Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN RF Untk menghadiri acara Silaturahmi dan pertemuaan wali MAHASISWA FITK ANGKATAN 2018 pada HARI: JUMAT TANGGAL: 14 SEPTEMBER 2018 Jam: 08.30 SD 11.00 Tempat: Academic Center UIN Raden Fatah  

MEMBONGKAR KHAZANAH YANG TERPENDAM

Ditulis oleh : Prof. Dr. Duski, M.Ag. | 21/03/2017 WIB

 

MEMBONGKAR  KHAZANAH YANG TERPENDAM  (Metode penelitian dalam Kajian Islam)

Oleh:  Duski Ibrahim

 

Muqaddimah

 Metode penelitian dalam kajian Islam adalah ilmu tentang cara-cara yang digunakan secara runtut dalam meneliti, memahami dan menggali ajaran-ajaran atau pengetahuanpengetahuan dari sumber-sumber yang diakui oleh pedoman otoritatif, Al-Qur`an. Dalam skema Al-Qur`an, pengetahuan itu dapat diperoleh melalui wahyu (haqq al-yaqin), rasionalisme atau inferensi yang didasarkan pada pertimbangan dan bukti („ilm al-yaqin), imperisisme dan melalui persepsi, yakni dengan observasi, eksperimen, laporan sejarah, deskripsi pengalaman („ain al-yaqin) (Moten, 1990: 164).   

 Pada periode kejayaan peradaban Islam, para ulama, fuqaha`, ilmuwan, filosof muslim dan para sufi telah mememanfaatkan berbagai metode yang diakui Al-Qur`an. Melalui usaha semacam ini, para ulama dan ilmuwan tersebut telah banyak menghasilkan ilmu-ilmu, yang menjadi khazanah suatu peradaban Islam, baik kategori ilmu-ilmu riwayat (al-„ulum an-naqliyah maupun ilmu-ilmu rasional (al-„ulum al-„aqliyah ), termasuk ilmuilmu terapan yang langsung dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata (Ibn Khaldun, 1973: 537). Tidak hanya itu, ilmu-ilmu yang dihasilkan melalui at-taqarrub ila Allah pun juga dihasilkan oleh kaum sufi. 

Tetapi, dewasa ini, kebanyakan pengkaji dalam memahami ajaran-ajaran Islam, telah memanfaatkan metode-metode dan teori-teori sosial yang nota bene adalah produk peradaban Barat, sementara metode-metode produk muslim klasik hampir terlupakan. Pemanfaatan metode-metode dan teori-teori sosial produk Barat tersebut tidaklah salah sama sekali, tetapi ketika ajaran-ajaran Islam  yang tidak lepas dari otoritas wahyu diabaikan, maka pesan-pesan yang akan didapatkan akan menjadi semu, tercerabut dari dasar pijakannya. Dengan ungkapan lain, ketika seorang ilmuwan Muslim melakukan kajian-kajian Islam dengan memanfaatkan metode dan teori yang berasal dari tradisi Barat modern itu, apalagi secara kesendirian, tanpa melibatkan atau menyandingkannya dengan khazanah-khazanah metodologis produk muslim klasik, maka seringkali akan berbenturan dengan basis ontologis, epistemologis dan aksiologisnya, yang memang sejak semula telah berbeda,  atau paling tidak akan semakin mengaburkan metode-metode dan teori-teori yang pernah ada dalam tradisi muslim klasik.  

Argumen yang dikemukakan, bahwa pemanfaatan metode-metode produk pemikir Barat, karena metode penelitian dalam kajian Islam, dianggap kurang menyentuh kajiankajian tentang prilaku sosial yang tidak terkait langsung dengan norma-norma wahyu. Klaim semacam ini, apabila yang dimaksudkan adalah metode bayani atau normatif semata-mata maka mungkin benar adanya, tetapi manakala dikembalikan lagi eksistensi metode penelitian Islam maka masih perlu dipertanyakan. Sebab, dalam sejarah perkembangan pemikiran

Islam, paling tidak ada empat macam metodologi penelitian yang pernah dikembangkan oleh para pemikir Islam, namun cenderung dilupakan, yaitu: Metode bayani, metode burhani, metode tajribi dan metode „irfani. Melalui metode-metode ini, baik dilakukan secara alternern maupun secara terpadu, bukan hanya dapat menyentuh persoalan hablm min Allah dan habl min al-„alam, tetapi juga akan merambah kepada hablm min an-nas atau persoalanpersoalan sosial.

Oleh karena itu, dipandang perlu untuk membongkar atau me-recovery metodemetode penelitian yang digunakan para pemikir muslim dalam kajian Islam dari perspektif worldview Islam. Hal ini dimaksudkan, selain untuk memelihara peradaban Islam yang cenderung terlupakan, adalah dalam rangka mengatasi problem metode yang muncul dari peradaban yang tidak mengakui otoritas wahyu. Pertanyaan-pertanyaan yang didiskusikan jawabannya dirumuskan sebagai berikut: Apa sumber-sumber ilmu dalam kajian Islam? Bagaimana bentuk metode-metode penelitian Muslim Klasik dalam kajian-kajian Islam? Bagaimana bentuk produk-produk metode penelitian dalam kajian Islam?  

 

Al-Qur`an Tentang Sumber-Sumber Ilmu 

Dalam Al-Qur`an ditemukan banyak ayat yang membicarakan berbagai macam ilmu. Manusia dan alam adalah sumber ilmu inderawi dan rasional.  Tuhan juga adalah sumber ilmu melalui wahyu dan ilham-Nya. Al-Qur`an, di samping mengandung pengetahuan tentang aqidah (keyakinan atau kepercayaan), ibadah (aktivitas hubungan vertikal), mu‟amalah (aktivitas hubungan horizontal), termasuk ekonomi, akhlak, sejarah, geografi, kesehatan, matematika dan lain sebagainya, juga membicarakan tentang eksistensi akal dan indera, sebagai media atau sumber yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu. Dalam padangan Islam, akal mempunyai pengertian tersendiri dan berbeda dari pengertian umumnya, akal bukanlah otak, melainkan daya berpikir yang ada dalam jiwa manusia. Akal dalam Islam, adalah pertalian antara pikiran, perasaan, dan kemauan. Indera yang lima (al-hawas al-khams) juga diakui sebagai sumber ilmu yang valid (sah), dan dalam batas-batas tertentu, dapat dipercaya. Media atau jalur untuk memperoleh ilmu yang juga diakui Al-Qur`an adalah melalui  intuisi hati (qalb) atau ilham, yaitu petunjuk Tuhan yang diberikan pada manusia secara langsung, dalam bentuk ilmu atau pengetahuan.

 Manusia itu, siapapun dia, dari suku manapun atau dari ras apapun, pada mulanya tidak memiliki ilmu. Kemudian, dengan kasih sayang-Nya, Tuhan memberikan media kepada mereka untuk dimanfaatkan secara baik dan maksimal dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya sesuai dengan perkembangan hidup masyarakat. Media tersebut dikenal dengan sumber ilmu, yang keberadaan dan validitasnya diakui Islam. berkenaan dengan ini, dalam beberapa ayat Al-Qur`an, Allah berfirman:   

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q. An-nahl: 78)

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orangorang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya serta menyaksikannya‟, (Q. Qaf: 37)

Dan sesungguhnya Kami jadikan mayoritas jin dan manusia untuk (isi neraka) Jahannam, [karena) mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami (pesan-pesan Tuhan), mereka mempunyai mata, namun tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga, namun tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sama dengan binatang, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah-lalai‟, (Q. al-a‟raf, 7: 179).

Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, serta mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengannya dapat mendengar? Memang sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi telah buta hati yang ada di dalam dada, (Q. al-hajj, 22: 46)

Demikianlah perumpamaan-perumpamaan Kami buat bagi manusia, tetapi yang dapat memahaminya hanyalah orng-orang yang tahu (Q. al-„Ankabut: 43)

Mereka berkata: Sekiranya kami mau mendengar dan mau mengerti, tidaklah kami menjadi penghuni neraka (Q. Al-Mulk: 10)

 Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa‟, (Q. Ali „Imran: 138)

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang memberi penjelasan (Q. al-Ma`idah:15).

 Dari ayat-ayat di atas, dapat kita pahami bahwa manusia itu pada mulanya benarbenar tidak mempunyai ilmu apapun. Kemudian Tuhan memberinya alat untuk melihat (albashar), alat untuk mendengar (as-sama‟), alat untuk merasa (az-zauq), dan lain-lain untuk memahami dan menyadari sesuatu. Selanjutnya, tidak hanya itu, Tuhan juga memberinya akal untuk berpikir atau bernalar (an-nazhar), sebagai pelengkap dari pemberian utamanya berupa pedoman-pedoman yang dapat dijadikan petunjuk bagi semua manusia (hudan li annas), sebagaimana dimuat dalam Kitab Al-Qur`an dan disampaikan oleh Rasul kepada umatnya. Alat pendengar, alat penglihat, alat penyadar, alat pikir, lalu wahyu Tuhan, semua itu adalah media yang dapat dijadikan sebagai sumber-sumber ilmu. 

Dengan demikian, dalam Islam diakui empat saluran utama yang dapat dijadikan sebagai sumber-sumber ilmu, yaitu:

1. Panca Indera

Yang dimaksud dengan panca indera (al-hawas al-khams) adalah indera pendengar (as-sam‟), indera pelihat (al-bashar), indera pencium (asy-syamm), indera perasa (az-zauq), dan indera peraba atau penyentuh (al-lams) (asy-Syirazi, t.t.: 2). Ada lagi indera keenam, yang disebut al-hiss al-musyatarak atau common sence, yang menyertakan daya ingatan atau memori (adz-dzakirah) atau imajinasi atau daya estimasi (al-wahm).

Pancaindera  merupakan sumber ilmu pengetahuan bagi manusia, melalui media yang bersifat realitas dan empirikal. Melalui jalur pancaindera ini manusia dapat memperoleh ilmu tentang alam sekelilingnya.  Data-data yang didapatkan melalui pancaindera ini merupakan data al-mahsusat al-zahirah, yaitu  berupa pengetahuan yang didapat melalui indera, terutama melalui organ penglihatan. Mengingat data yang didapatkan bersifat saintik, maka data berupa ilmu tersebut dapat sampai kepada tingkat „ilm al-yaqin. Oleh karena itu, data semcam ini dapat membawa manusia kepada ilmu yang benar tentang alam sekeliling kita (al-Ghazali, 1964: 15-16).  

2. Akal

Sebagai sumber ilmu, akal melakukan nalar atau pikir dalam proses pencarian ilmu. Dalam al-Qur`an, selain kata akal (al-„aql) dengan berbagai derivasinya, untuk mengungkapkan “perbuatan berpikir”, ditemukan kata nazhara, yang secara abstrak dalam arti berpikir dan merenungkan, juga kata tadabbara, yang berarti merenungkan, kata tafakkara yang berarti berpikir, kemudian ada kata tadzakkara, yang berarti mengingat, mendapat pelajaran, memperhatikan, selanjutnya ada kata fahima yang berarti memahami atau mengerti. Juga ditemukan kata derivasi al-fiqh untuk menggambarkan arti pengertian atau pemahaman  dalam kaitannya dengan perbuatan berpikir. Kata-kata tersebut diungkapkan dengan berbagi derivasinya, baik dalam bentuk isim maupun dalam bentuk fi‟il.

Terlepas dari itu, Islam mengakui kedudukan akal sebagai sumber ilmu. Ilmu yang didapat melalui akal tersebut bersifat rasio dan apriori, yaitu pengetahuan yang didapat melalui cara berpikir tertentu terhadap sesuatu fakta, tanpa memerlukan perhatian dan pengalaman yang khusus, yakni akal mentafsirkan sesuatu data berdasarkan kepada kerangka logikanya. Umpamanya akal memberikan ilmu bahwa bilangan sepuluh lebih banyak daripada bilangan satu. Contoh lain adalah bahwa seseorang itu tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Pengetahuan semacam ini bersifat aksioma, yakni ilmu ini akan terbukti dengan sendirinya, melalui proses apriori (Al-Ghazali, 1964: 15).

Dalam konteks fiqih, an-nazhar adalah cara untuk mengetahui hukum fiqih melalui proses penalaran yang dilakukan seorang mujtahid atau pemikir hukum yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam inferensi hukum (asy-Syirazi, t.t.: 3). Dengan nalar dan alur pikir, seorang dapat berartikulasi, dapat menyusun proposisi, menyatakan pendapat dengan baik, melakukan analogi, membuat abstraksi terhadap gejala-gejala yang dihadapi, membuat keputusan dan menarik kesimpulan.

Selain itu, pemanfaatan akal (istikhdam al-„aql) sebagai sumber ilmu sangat urgen dalam pemikiran hukum Islam, terutama dalam melakukan perluasan makna hukum. Dalam hal ini, para ahli hukum Islam telah meletakkan peranan ijtihad dengan memfungsikan akal dalam menentukan sumber hukum tambahan yang tidak ditemukan secara eksplisit di dalam Al-Qur`an dan as-Sunnah. Umpamanya qiyas, ijma`, istihsan, maslahah, siaysah syar‟iyah, masalih mursalah dan sebagainya, sebagaimana banyak diuraikan dalam kitab-kitab ilmu ushul al-fiqh. Sejauh itu, dalam Islam, akal adalah syarat utama seseorang itu dibebani hukum syara‟ (taklif), tanpa akal seseorang tidak dikenai kewajiban hukum apapun.

3. Intuisi hati (qalb) atau Ilham.

Pengetahun seseorang terkadang didapatkannya melalui intuisi hati (qalb) atau ilham. Intuisi atau ilham merupakan sumber ilmu bersifat batin yang berkaitan dengan hati dan jiwa seseorang dalam memberikan sesuatu pengetahuan. Dengan intuisi hati (qalb) atau ilham, seseorang dapat menangkap pesan-pesan ghaib, isyarat-isyarat ilahi, menerima ilham, al-fath, kasyf, dan sebagainya. Dengan ungkapan lain, intuisi itu diberikan Allah ke dalam jiwa hambanya yang bersih melalui kasyf. Melalui jalan kasyf ini, pintu hati seseorang yang bersih tersebut akan terbuka, sehingga ilmu atau pengetahuan akan dicapainya secara langsung, tanpa ada penghalang. Hal ini terjadi tentunya, setelah melalui berbagai tahapan yang dikenal dengan maqamat dan ahwal.

Dua istilah yang sangat terkenal di kalangan kaum sufi ini akan diuraikan dalam bahasan tentang epistemologi „irfani. 

Sehubungan dengan hal di atas, Al-Ghazali mengatakan bahwa pencapaian ilmu atau pengetahuan melalui intusi hati atau ilham tersebut  langsung sampai atau jatuh ke dalam hati seseorang tanpa berusaha dan belajar (Al-Ghazali, 1967.3:24). Namun demikian, perlu dikemukakan, bahwa hati yang menjadi tempat penerimaaan ilham ialah hati nurani yaitu hati yang bersifat ketuhanan dan kerohanian, bukan hati dalam arti segumpal daging yang berbentuk bulat panjang yang terletak di dada sebelah kiri. Dengan ungkapan lain, hati yang bersifat ketuhanan dan kerohanianlah yang dapat menangkap segala pengertian dan pengetahuan. (Al-Ghazali, 1967.3:4).

Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa prinsip untuk menerima ilham adalah mempelajari semua dasar-dasar ilmu di alam semesta ini.  Ketika seseorang beramal-ibadah dengan tekun, maka akan memudahkan jiwanya untuk menerima ilham, dan demikian juga aktivitas berpikir secara sungguh-sungguh akan dapat menjadi media datangnya ilham itu (al-Ghazali, 1986.3: 111). Sejalan dengan pandangan al-Ghazali ini, Al-Attas juga mengatakan dengan tegas bahwa intuisi merupakan salah satu saluran yang sah dan penting dalam menghasilkan pengetahuan yang berbentuk kreatif. Aktivitas-aktivitas seperti membaca, berpikir, melakukan eksperimen, dan berdoa (masuk zikir) merupakan salah satu daripada usaha dalam menghasilkan ilmu melalui saluran ilham (Wan Mohd. Nor Daud, 2005: 235-236).

4. Informasi Yang Benar/Al-Khabar ash-Shadiq

Al-khabar ash-shadiq diartikan informasi yang benar. Informasi yang benar adalah suatu informasi yang berasal dari dan bersandar pada otoritas tertentu. Dalam masalah agama, sumber informasi ini berasal dari wahyu, baik yang ditilawatkan (kitab suci) maupun yang tidak ditilawatkan (Sunnah Nabi), kemudian disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Al-Qur`an adalah sumber ilmu tidak diragukan setiap muslim. Sebab, ia adalah kebenaran mutlak yang membawa kepada keyakinan. Dalam surat (al-„Alaq. 96: 5) dijelaskan bahwa sumber segala ilmu adalah dari Allah. Dialah yang mengajari manusia apa yang tidak mereka diketahui. Sementara dalam surat al-baarah ayat 32 dikatakan bahwa para malaikat mengakui tidak mempunyai ilmu sediktpun, melainan apa yang diberikan Allah SWT kepada mereka. 

Selanjutnya Al-Qur`an mengisyaratkan bahwa ada sumber-sumber ilmu lain, manakala dilakukan kajian dan orientasi yang betul akan mebawa kepada kebenaran wahyu Ilahi. Ini disebabkan pada akhir sesuatu kajian itu akan bermuara kepada sumber yang sama, yaitu Allah SWT (Wan Mohd. Nor Daud, 1994: 61). Oleh karena itu, Al-Qur`an sendiri merupakan sumber utama berbagai bentuk ilmu. 

 

Islam Menegasikan Dikotomi Ilmu

Dalam memandang ilmu, Al-Qur`an tidaklah meletakkannya dalam kerangka dikotomis; tidak ada istilah ilmu agama dan ilmu non agama atau ilmu agama dan ilmu umum. Yang membedakannya adalah nilai-nilai manfaat dan maslahat.  Dengan ini,  ilmu yang dimaksudkan Al-Quran adalah ilmu yang dibangun atas asas manfaat dan maslahat, bukan bertujuan untuk kerusakan (al-fasad), dan bukan untuk kesombongan.

 Dari kalimat tauhid jelas disebutkan La ilaha illa Allah yang ditafsirkan oleh bergabai kalangan ulama, yang orientasi maknanya menuju kepada kesatuan ciptaan yang diproduk oleh Sat Pencipta. Tidak ada tuhan Yang sebenarnya, selain Allah. Tidak ada Tuhan yang disembah, melainkan Allah. Tidak ada yang menciptakan, selain Allah. Tidak ada makhluk, kecuali maKhluk Allah, dan Tidak ada tuhan yang menciptakan ilmu, kecuali Allah, dan lain sebagainya. Landasan filosofis semacam ini tentu saja memberikan gambaran jelads bahwa tidak ada dikotomi ilmu dalam Islam.    

Munculnya pemikiran yang diklaim sebagai paham dikotomis ilmu agamawi dan duniawi, secara historis, tampaknya salah satu konsekuensi dari era disintegrasi. Kelanjutannya, muncul statemen bahwa ilmu yang agamawi (ilmu-ilmu agama) harus mendapat perhatian yang lebih ketimbang ilmu yang duniawi (ilmu-ilmu dunia). Selanjutnya, pahala ilmu agamawi dipandang lebih banyak dibanding ilmu-ilmu duniawi. Statemen dan pandangan semacam ini tentu saja tidak memiliki dasar pijakan atau dalil yang jelas.

Selanjutnya, akibat pemikiran dikotomis di atas, maka yang berkembang  adalah produk  ilmu-ilmu yang didapatkan dan dipahami dari nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah. Sedangkan ilmu yang dihasilkan melalui eksperimen, observasi atau metode-metode ilmiah, tidak berkembang secara baik.  Padahal, kalau kita cermati secara teliti, bahwa dalam Islam, ayat-ayat yang menjadi sumber ilmu itu ada yang disebut dengan ayat-ayat qauliyah juga ada ayat-ayat kauniyah, yang semaua itu bersumber dari Yang Satu, Allah, Tuhan semesta alam. 

Al-Qur`an membicarakan tentang proses penciptaan manusia. Menurut Al-Qur`an, manusia berasal dari suatu sumber yang dari sanalah unsur badan manusia diciptakan, melalui proses penciptaan hingga berwujud janin. Firman Allah: Dia diciptakan dari air yang terpencar, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan (Q. Ath-Thatriq: 6-7). Kemudian dijelaskan oleh ayat lain yang berbunyi: Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging (Q. Al-Hajj: 5). Selanjutnya diterangkan bahwa janin, sebagai rangkaian proses penciptaan manusia, mengalami tiga kegelapan, yaitu: Kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutupi anak dalam rahim. Ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur`an : Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demia kejadian dalam tiga kegelapan (Q. Az-Zumar: 6). 

Al-Qur`an juga menerangkan pentingnya air sebagai sumber kehidupan segala makhluk, seperti difirmankan Allah: Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup (Q. Al-Anbiya`: 30). Coba hubungkan dengan pandangan salah seorang filosof alam pertama, bernama Thales, yang memandang bahwa asal segala sesautu adalah air. Semuanya berasal dari air, kemudian berproses menjadi berbagai macam makhluk, sesuai dengan perkembangan dan spesifikasinya.

Tidak hanya itu, Al-Qur`an juga membicarakan tentang kejadian hujan, langit dan bumi, tentang bulatnya bumi, sehingga tidak semuanya mendapat kulminasi sinar  matahari (umpamanya daerah Kutub), tentang peredaran matahari tetap berputar pada porosnya yang sangat berarti dalam kehidupan manusia, tentang binatang dan tumbuh-tumbuhan. Al-Qur`an juga membicarakan tentang kehidupan lebah, tentang pasangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan makhluk-makhluk lain. Allah berfirman: Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (Q. Yasin: 36).

Al-Qur`an juga membicarakan tentang sarana transportasi  yang dapat dikembangkan, mulai dari kendaraan grobak, kuda, onta, hingga kendaraan mewah yang dapat dijadikan perhiasan. Allah berfirman: Dan Dia (tekah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai supaya kamu dapat mengendaraainya dan (menjadikannya) perhiasan dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui (Q. An-Nahl: 8). Dengan demikian, berdasarkan ayat ini, melalui kaidah tausi‟ah al-ma‟na, masing-masing orang hendaklah memiliki kendaraan untuk kelancarannya beraktivitas dalam mewujudkan kemaslahatan (li ajl al-mashlalah) bagi masyarakat, bahkan manusia dibenarkan untuk memiliki kendaraan yang mewah, dengan berbagai asesoris yang lengkap.

Demikianlah antara lain isyarat Al-Qur`an yang meotivasi manusia supaya terusmenerus menggali ilmu pengetahuan, menggali lebih lanjut ilmu-ilmu yang dasar-dasarnya atau keberadannya telah disebutkan dalam Al-Qur`an secara umum. Oleh karena itu, masingmasing ahli di bidang keilmuwan tertentu hendaklah terus-menerus melakukan studi mendalam sesuai dengan yang disebutkan dalam Al-Qur`an. Ketika Al-Qur`an menyebutkan tentang kedokteran, maka seorang ahli di bidang ini harus melakan kajian empiris tentang hal tersebut. Ketika Al-Qur`an menyebut tentang hal yang berkaitan dengan pertanian, maka seorang insinyur atau ahli pertanian melakukan penelitian lebih mendalam secara empiris... demikian seterusnya.

 

Metode-Metode Penelitian Muslim Klasik 

Dalam sejarah peradaban Islam, paling tidak ada empat macam metode dalam kajiankajian Islam dalam rangka menemukan atau menyelesaikan berbagai mpersoalan yang dihadapi umat, yaitu: Metode bayani, metode atau burhani, metode tajribi dan metode „Irfani.

Metode Bayani

Metode bayani dimaksudkan adalah suatu metode penelitian untuk menemukan ilmu, dengan melalui usaha maksimal membaca, memahami, mempelajari dan mengkaji penjelasan-penjelasan dari nash-nash Al-Qur`an dan Sunah untuk menangkap pesan-pesan yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, metode bayani ini sangat diperlukan dalam rangka memahami pesan-pesan yang terdapat dalam wahyu, baik yang ditilawatkan (AlQuran) maupun yang tidak ditilawatkan (Sunnah). Di samping itu, alasan lain diperlukan metode bayani adalah bahwa teks-teks atau sering disebut dengan nash-nash Al-Qur`an tersebut memiliki aspek lahir dan batin atau simbolis, yang masing-masing mengandung pesan-pesan yang harus diungkap secara baik dan tepat. 

Pengungkapan kandungan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah dengan metode bayani ini, pada prinsipnya dapat dilakukan dengan perangkat metodologis (manhajiyah) yang telah disusun oleh para ulama. Para ulama tafsir (mufassirun) telah menyusun perangkat metodologis berupa rumusan tentang kaidah-kaidah penafsiran ayat-ayat Al-Qur`an, yang dikenal dengan Ulum al-Qur`an. Para ulama hadits (muhadditsun) juga telah menyusun perangkat metodologis berupa rumusan tentang kaidah-kaidah penafsiran hadits-hadits Nabi, yang dikenal dengan, „Ulum al-Hadits. Demikian juga para ulama ushul al-fiqh (ushuliyun) telah menyusun ilmu Ushul al-Fiqh, yang memuat kaidah-kaidah ushuliyah atau kaidah lughawiyah, kaidah-kaidah ma‟nawiyah dan kaidah-kaidah fiqih.  

Dalam metode bayani ini, ayat-ayat Al-Qur`an dan juga Sunnah diklasifikasi ke dalam beberapa kategori, seperti ayat-ayat muhkmat dan mutsayabihat. Kemudian disusul dengan klasifikasi dari aspek kebahasaan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah. Dari aspek ini, bentuk lafaz ada yang ditinjau dari aspek cakupan makna („amm, khash, musytarak, muthlaq, muqayyad). Atau dari aspek cara penunjukan lafaz terhadap makna atau hukum (dilalah alalfaz a‟ala al-ahkam), ada yang membaginya kepada „ibarah an-nash, isyarah an-nash, dilalah an-nash dan iqtidha` an-nash, dan ada yang membagina kepada manthuq dan mafhum. Ada  pula yang membaginya dengan dilalah al-muthabaqah, dilalah al-iltizam dan dilalah at-tadhammun. Dan dari segi wudhuh al-ma‟na, ada yang disebut zahir, nash, mufassar dan muhkam.  Dan dari segi khafiy al-ma‟na,  ada yang disebut khafi, mujmal, musykil dan mutasyabih. Termasuk kajian tentang ta‟wil.

Klasifikasi-klasifikasi di atas, dalam metode bayani sangat diperlukan untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur`an dan Sunnah, baik untuk memahami masalah-masalah fiqih, teori-teori teologis, filosofis, bahkan tasawwuf, mengingat Al-Qur`an adalah sumber bagi segala ilmu-ilmu dalam Islam. Oleh karena itu, bagi para peneliti, dengan penggunaan metode bayani, baik fuqaha`, teolog, filosof maupun sufi, adalah suatu keniscayaan untuk memahami konsep dari masing-masing klasifikasi nash-nash AlQur`an dan Sunnah di atas.

Metode Burhani

Metode burhani adalah suatu metode penelitian atau penemuan ilmu yang mengandalkan kemampuan berpikir logis, dengan kaidah-kaidah tertentu yang disusun secara runtut dan sistematis. Metode semacam ini tentu saja dilakukan untuk memahami suatu objek ilmu (ontologi) yang non-fisik. Sebab itu, dalam metode penelitian ini, akal sangat berperan. Sebab: Pertama, akal mampu memahami, bukan hanya objek yang lain tetapi juga dirinya sendiri. Ia dapat mempersepsi dirinya. Ia juga dapat melihat pengetahuan tentang dirinya. Kedua,  akal mampu melihat atau mempersepsi tentang hal yang jauh dan yang dekat, karena jauh dan dekat sama saja bagi bagi akal. Bahkan Ibn Khaldun mengatakan bahwa lintasan akal jauh lebih cepat dari kerjap mata. Ketiga, akal dapat dengan bebas melihat apa yang ada di balik dinding atau tembok, akal dapat bergerak bebas seputar dunianya bahkan tubuhnya sendiri. Keempat, akal dapat melihat atau menembus dimensi batin dan rahasia benda-benda. Akal dapat mencari sebab-sebab, bahkan sebab akhir. Kelima, akal mampu melihat hal-hal yang tersembunyi, seperti sifat-sifat batin jiwa, seperti rasa senang, bahagia, sedih, nelangsa, cinta, kekuasan, pengetahuan dan sebagainya. Oleh karena itu, keabsahan metode ini, selain memang berdasarkan isyarat-isyarat Al-Qur`an, juga pada kenyataannya para ilmuwan Muslim telah menjadikan akal sebagai alat pengetahuan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sumber ilmu, di samping suber lain seperti indera dan wahyu. 

Kendatipun demikian, untuk menjadikan metode burhani ini menjadi suatu metode yang akurat dalam penemuan suatu ilmu, haruslah dipenuhi syarat-syarat atau kaidah-kaidah tertentu. Syarat-syarat dan kaidah-kaidah tersebut telah dirumuskan dan disusun oleh para filosof Yunani, terutama dalam konteks metode ini, oleh Aristotels, yang diikuti dan dimanfaatkan oleh para filosof Muslim, bahkan sebahagian fuqaha`. Aristoteles telah menyusun metode berpikir ini secara sistematis, dalam bentuk silogisme. 

Mengikut para filosof Yunani, para ahli logika Muslim telah menyusun „Ilm alMantiq, yang bermuatan kaidah-kaidah berpikir yang benar. Dengan mengikuti apa yang dirumuskan oleh Aristoteles, para pemikir Islam telah menemukan lima macam metode, yang disebutnya hujjah „aqliyah, yaitu: Khithabah, syi‟ir, burhan, jadal dan safsathah

Dari lima macam metode logika (manthiq) di atas, metode demonstratif (metode burhani) sajalah yang dipandang para filosof sebagai metode logika yang paling dapat dipercaya. Sebab,  metode burhani inilah logika yang kebenarannya dapat terteruji, mengingat ia telah memenuhi unsur-unsur yang diperlukan dalam metode berpikir yang benar.  

Adapun yang dimaksudkan dengan metode burhani adalah metode logika yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari premis-premis yang telah diketahui, sehingga menghasilkan kesimpulan, berupa pengetahuan atau informasi baru yang sebelumnya belum diketahui. Mengenai prosedur yang harus diikuti dalam penarikan kesimpulan dengan metode burhani tersebut adalah apa yang dikenal dengan prosedur silogisme, yang harus memiliki beberapa bagian pokok, yaitu: al-muqaddimah al-kubra (premis mayor) dan al-muqaddimah ash-shughra (premis minor), al-hadd al-wasath (middel term = kata yang berulang)  dan annatijah (konklusi = kesimpulan). 

Agenda kerjanya adalah sebagai berikut: al-muqaddimah al-kubra (premis mayor) + al-muqaddimah ash-shughra (premis minor) +  al-hadd al-wasath (middle term) + an-natijah (konklusi atau kesimpulan). Sebagai contoh adalah sebagai berikut:

Semua makhluk yang bernyawa akan mati

Aristoteles makhluk yang bernyawa

Aristoteles akan Mati

Semua makhluk yang bernyawa akan mati” disebut al-muqaddimah al-kubrah (premis mayor). “Badu makhluk yang bernyawa” disebut al-muqaddimah ash-shugrah (premis minor). “Badu akan Mati” adalah an-natijah (konklusi atau kesimpulan). Dari ungkapan di atas, yang disebut al-hadd al-wasath atau kata-kata yang berulang adalah “makhluk bernyawa.” yang ketika ditarik kesimpulan harus dihilangkan. 

Menurut keyakinan para filosof, kesimpulan yang diambil tersebut adalah benar, karena berkorespondensi dengan kenyataan, dengan syarat bahwa premis mayor dan minornya merupakan proposisi yang kebenarannya tidak diragukan. Oleh karena itu, metode burhani telah diperankan dalam perkembangan pemikiran filsafat Islam, yang hingga saat ini masih dianggap sebagai alat yang masih bisa diandalkan, bahkan diyakni dapat digunakan untuk memahami pemikiran dan filsafat modern serumit apapun.

Contoh fiqih:

 Semua benda yang memabukkan haram

Bir memabukkan

Bir haram

Semua benda  yang memabukkan haram” disebut al-muqaddimah al-kubrah (premis mayor). “Bir benda memabukkan” disebut al-muqaddimah ash-shugrah (premis minor). “Bir harama” adalah an-natijah (konklusi atau kesimpulan). Dari ungkapan di atas, yang disebut al-hadd al-wasath atau kata-kata yang berulang adalah “benda memabukkan” yang ketika ditarik kesimpulan harus dihilangkan. 

Kesimpulan semacam ini, tentu saja diyakini kebenrannya oleh para filosof dan para fuqha`, karena berkorespondensi dengan kenyataan atau bersesuaian antara premis mayor dan minornya, di mana proposisiya adalah suatu kebenaran tidak diragukan. Sebab, premis mayornya adalah sebuah hadits Nabi yang diyakni kebenrannya, berupa pernytaaan nabi “kullu muskir khamrun”.

Pada gilirannya, metode burhaniyah ini berkembang dalam berbagai bentuk metode penalaran atau metode ijtihad, baik yang berpola penalaran deduktif (istinbathi) maupun yang berpola penalaran induktif (istiqra`i). Pola-pola semacam ini, sesungguhnya telah dimulai oleh para ulama atau pemikir Islam, kemudian dapat dikembangkan oleh generasi selanjutnya, termasuk kita sekarang ini.

 

Metode Tajribi   

Metode tajribi  adalah suatu metode penelitian atau penemuan ilmu yang, selain memerankan kemampuan berpikir logis, juga dilanjutkan dengan tindakan eksperimen, observasi atau bentuk-bentuk metode yang dikenal dalam metode penelitian ilmiah sekarang ini.

Para ilmuwan muslim telah memanfaatkan metode tajribi ini dengan baik dan sungguh-sungguh. Mereka telah melakukan pengamatan-pengamatan  terhadap objek-objek fisik, baik dalam level teoritis, yaitu melakukan kajian mendalam dan kritis terhadap karyakarya ilmiah para filosof dan ilmuwan Yunani, seperti astronomi, kedokteran dan lain-lain, maupun dalam level level praktis, yaitu melakukan berbagai eksprerimen untuk membuktikan benar atau salah suatu teori tertentu atau menciptakan teori yang belum ada sebelumnya. Umpamanya, Ibn Haitsam telah melakukan penelitian tentang teori penglihatan langsung. Ia telah melakukan eksperimen-eksperimen yang tepat, sehingga ia menciptakan suatu teori pengihatan secara tepat dan akurat, yang sampai saat ini masih dipertahankan, yaitu suatu teori bahwa kita dapat melihat disebabkan adanya cahaya yang dipantulkan oleh sebuah benda, baik oleh dirinya sendiri, seperti matahari dan bintang, maupun cahaya yang dipantulkan dari benda lain, seperti planet dan benda-benda yang ada di bumi.

Metode metode tajribi ini, pada gilirannya di kalangan pemikir dan umat Islam kurang berkembang, bahkan betul-betul memprihatinkan, suatu keadaan yang sangat jauh dari yang diharapkan. Mengingat generasi pemikir Islam kelaluan telah memberikan contoh yang luar biasa dalam penelitian dengan metode tajribi ni, maka para pemikir dan ulama generasi muda kekinian harus di-ghairah-kan kembali untuk mencari „ilmu yang hilang itu‟ dan memaksimalkannya. Tampaknya, dalam konteks ini, tepat kalau ungkapan al-hikmah dhallatulmukmin telah terjadi di kalangan umat Islam.

Metode tajribi  di kalangan umat Islam, berbanding terbalik dengan para pemikir dan ahli di dunia Barat. Mereka telah melakukan dan mengembangkan metode ini dengan baik, sehingga di dunia mereka ilmu pengetahuan dan teknologi sangat maju pesat. Memang, mereka secara perlahan telah melepaskan diri dari metode bayani seperti terlihat dari „terpisahnya‟ gereja dengan ilmu pengetahuan. Mereka juga melepaskan dari metode burhani seperti terlihat „larinya‟ mereka dari „rasionalisme‟ menuju „empirisme‟, sembari memfokuskan diri para metode tajribi.  

 Dewasa ini, metode penelitian atau penemuan ilmu dalam bentuk metode tajribi ini, sangat berkembang pesat di dunia Barat, baik penelitian kualitatif maupun (terutama) kuantitatif.  Metode penelitian tajribi ini telah disusun secara lebih sistematis dan runtut, seperti dapat dilihat dalam buku-buku metodologi penelitian. 

 

Metode ‘Irfani.  

Metode „irfani adalah suatu metode penelitian atau penemuan ilmu yang mengandalkan at-taqartub ila Allah atau al-Ittishal bi al-ilahi, dengan melakukan langkahlangkah tertentu, mulai dari tindakan persiapan-persiapan (isti‟dad), dalam bentuk tazkiyah an-nafs (membersihkan diri dari segala kekotoran jiwa) dalam rangka menyambut sinar kebenaran yang hadir secara langsung ke dalam hati, tanpa melalui simbol dan atau presentasi.  

Dengan demikian, langkah-langkah yang dilakukan dalam metode „irfani adalah dengan melalui: Takhalli min ar-radza`il ,yaitu membersihkan diri dari segala sifat-sifat dan akhlak yang tercela (al-akhlaq al-mdzmumah). Kemudian dilanjutkan dengan melakukan  tahalli,yaitu menghiasi diri atau jiwa dengan sifat-sifat dan akhlak yang terpuji (al-akhlaq almahmudah). Selanjutnya, langkah tersebut sampai kepada tahap tajalli, yaitu mendapatkan kejelasan dan jawaban terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi secara langsung. 

Sedangkan teknik dalam metode „irfani ini adalah dengan melakukan riyadhah, yaitu latihan-latihan dalam arti melakukan amalan-amalan secara terus menerus dengan cara-cara tertentu. Umpamanya, dengan melakukan secara rutin hal-hal sebagai berikut: Membaca AlQur`an, wirid-wirid dengan asma` al-husna, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, hauqalah, shalawat, baik secara individu maupun secara kelompok dengan mengikuti mursyid, seperti terlihat dalam berbagai kelompok thariqat. 

Dengan langkah-langkah dan teknik-tenik tersebut di atas, umpamanya, maka akan hadir kebenaran di dalam hati secara langsung, tanpa melalui perantaraan apapun, baik itu berupa simbol, konsep maupun representasi.  Paradigma metodologis semacam ini biasa dikenal sebagai epistemologi atau metode „irfaniyah, yang biasa digunakan oleh para sufi atau teosofer Muslim.

Dewasa ini, dalam rangka menumbuh-kembangkan lagi aspek spiritual kaum muslimin yang sekarang sudah semakin menjauh dan terpengaruh dengan kapitalisme, duniawiyah, metode „irfani ini sudah selaiknya dikembangkan secara baik, dengan mewujudkan dan mengghairahkan kembali generasi melakukan cara-cara dan teknik-teknik yang dianggapdapat pendekatkan diri kepada Allah, dengan berbagai bentuknya yang sesuai atau minimal tidak  keluar dari uswah hasanah dari Rasul.

Perlu dikemukakan, bahwa melalui metode „‟irfani ini, seseorang akan sampai kepada maqam untuk mendapat pengetahuan secara langsung. Tetapi, seseorang itu tentu saja harus melalui tahap-tahap sebagai berikut: Pertama, seseorang itu dalam tahap mubtadi` terlebih dahulu. Dalam tahap ini, ia mempelajari syariat, mengamalkan atau melakukan latihanlatihan amalan-amalan yang bersifat zahiriyah dengan cara-cara tertentu yang tidak keluar dri aturan syariat. Kedua, seseorang itu sudah melangkah ke tahap mutawassith, yaitu tahap pertengahan. Dalam tahap ini, ia sudah dapat melewati tingkat mubtadi`, ia telah mempunyai pengetahuan syariat yang memadai dan mempunyai pengalaman-pengalaman yang cukup, sehingga ia telah mulai mdemasuki pengetahuan dan amalan yang versifat bathiniyah, dan berlatih mensucikan diri menuju kepada pencapaian makarim al-akhlaq (akhlak yang mulai) dan mahasin al-„adat (tradisi yang baik). Ketiga, seseorang itu telah sampai ke tahap muntahi atau tahap akhir, yaitu seseorang itu telah benar-benar matang ilmu syariat, matang ilmu fiqih dan pengamalannya, sudah menjalani thariqat dan mendalami unsur bathiniyah, ia sudah jauh dari dosa-dosa lahir dan dosa-dosa bathin. Orang inilah yang telah dapat dikatakan sebagai seorang „arif, yaitu orang yang sudah mendalami hakikat dan dapat mendapat pengetahuan secara langsung dari Allah.  

Produk-Produk Metode dalam Kajian Islam

Dalam sejarah peradaban Islam, berdasarkan epistemologi Islam atau nazhariyah alma‟rifah di atas, secara garis besar, ada tiga macam produk ilmu atau pengetahuan yang beredar di kalangan kaum muslimin, yaitu:

1. Produk Ilmu Kategori al-Ilm at-Ta’limi

Kategori pertama dari produk ilmu yang dihasilkan oleh metode  penelitian dalam kajian Islam adalah al-„ilm at-ta‟limi atau al-„ilm al-bayani. Produk ilmu semacam ini dihasilkan oleh metode bayani, melalui usaha maksimal dalam memahami, mengkaji dan mempelajari penjelasan-penjelasan dari nash-nash atau teks-teks Al-Qur`an dan Sunnah. Ilmu-ilmu yang dihasilkan oleh metode naqliyah ini, ada yang sifatntya teoritis (nazhariyah) yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan sebagai prangkat dan metodologi untuk melakukan kajian dan penelitian bidang yang lebih detail dan rinci; dan ada yang sifatnya praktis („amaliyah) sehingga dapat langsung dipraktekkan atau diamalkan. Dengan ungkapan lain, produk ilmu yang dihasilkan oleh metode bayani ini ada yang disebut al-„ilm at-ta‟limi an-nazhari dan ada yang disebut al-„ilm at-ta‟limi al-„amali.  

Adapun al-„ilm at-talimi an-nazhari atau yang sifatntya teoritis, antara lain adalah ulum al-Qur`an, „ulum al-hadits, „ushul al-fiqh. „Ulum al-Qur`an adalah pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur`an, dari segi nuzulnya, tertibnya, mengumpulnya, menulisnya, membacanya, menafsirkannya, i‟jaznya, menolak syubhat-syubhat yang dihadapkan kepadanya dan yang seperti itu (Ash-Shiddieqy, 1972: 10-11). „Ulum al-hadits atau sering juga disebut dengan mushthalah al-hadits adalah pengetahuan tentang dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang dengannya diketahui keadaan sanad dan matan untuk diterima atau ditolak (Thahhan, t.t. 14). Ushul al-fiqh yaitu pengetahuan tentang kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan yang dengannya sampai kepada pemanfaatan hukum-hukum syara‟ „amaliyah dari dalildalilnya yang terinci. Atau Koleksi kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan yang dengannya sampai kepada pemanfaatan hukum-hukum syara‟ „amaliyah dari dalildalilnya yang terinci (Khallaf, 1968: 12). 

Sedangkan yang sifatnya praktis („amaliyah), antara lain, adalah ilmu fiqih. Secara kebahasaan, fiqih berarti faham atau faham yang mendalam (al-fahm al„amiq). Sedangkan menurut istilah, fiqih berarti : Pengetahuan tentang hukum-hukum syara‟ yang sifatnya operasional atau praktek yang diusahakan (didapatkan) dari dalil-dalilnya yang terperinci. Atau fiqih adalah: Koleksi hukum-hukum syara‟ yang sifatnya operasional atau praktek yang diusahakan (didapatkan) dari dalil-dalilnya yang terperinci (Khallaf, 1968: 11).

Adapun pembidangan fiqih adalah sebagai berikut: Pertama, ibadah. Kedua, mu‟amalah dalam arti luas. Ibadah mencakup, antara lain, masalah thaharah, shiyam, zakat, haji, jihad dan lain-lain. Sedangkan mu‟amalah dalam arti luas mencakup, antara lain, al-ahwal asy-syakhshiyah (pernikahan, waris, wasiat, wakaf), mu‟amalah dalam arti sempit atau al-„Uqud (jual-beli, sewa-menyewa, gadai, shuluh, hiwalah, dhaman, wakalah, wadi‟ah, „ariyah, dan lain-lain), jinayah (pembunuan, zina, qadzaf, hirabah, qishash, hadd, ta‟zir, dan lain-lain). Kemudian bidang al-qadha` atau ahkam al-murafa‟at yaitu fiqih yang membicarakab tentang proses penyelesaian perkara di pengadilan, termasuk masalah tahkim dan arbitrase. Selanjutnya, bidang fiqih siyasah, yaitu fiqih yang membahas tentang hubungan pemimpin dengan yang dipimpinya atau hubungan antara lembaga-lembaga kekuasaan dan rakyat-rakyatnya. Bidang fiqih siyasah ini mencakup, antara lain, siyasah dusturiyah, siyasah maliyah dan siyasah dauliyah.

Termasuk produk kategori al-„ilm at-ta‟limi di atas, adalah ilmu akhlak atau etika, yaitu ilmu yang membicarakan tentang prilaku dan sifat-sifat  terpuji (al-akhlaq al-mahmudah), seperti taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, ikhlash, tawakkal, dan lain-lain sifat terpuji. Demikian juga dalam ilmu ini dibicarkan tentang sifat-sifat atau akhlak tercela (al-akhlaq al-madzmumah), seperti:  takabbur, riya`, sum‟ah, pemarah, bermusuhan, hubbud dunia,bakhil dan lain sebagainya. 

Termasuk dalam kategori al-„ilm at-ta‟limi adalah al-„ulum al-mu‟inah, yaitu ilmu yang membantu kita memahami A-Qur`an dan Sunnah, yaitu „ilmu-ilmu bahasa Arab, „ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu badi`,  ilmu ma‟ani, ilmu „arudh dan qawafi, ilmu qira`at dan ilmu sastra.

Seiring dengan produk kategori al-„ilm at-ta‟limi di atas, ada juga ilmu yang disusun dan dihasilkan melalui metode burhani Ilmu kalam. Ilmu kalam disebut juga dengan ilmu i‟tiqad atau pentetahuan tentang keyakinan-keyakinan. Dalam ilmu ini ini dibahas tentang keadaan zat Allah dan sifat-sifat-Nya, baik sifat salbiyah, tanzih, wujudiyah dan tsubutiyah. Dengan ungkapan lain, kalau menggunakan teori sifat dua puluh, maka yang dibahas adalah tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah, sifat-sifat yang mustahil dan sifat-sifat yang ja`iz. Sedangkan kalau menggunakan teori asma` al-husna, maka yang dibahsa adalah tentang sifat-sifat Tuhan seperti yang telah disebutkan dakam asma` al-husna. Sekaitan dengan bahasan tentang ilmu kalam ini dibahas juga tentang sifat-sifat Rasul, yaitu: shidiq (diuraikan), amanat (diuraikan), tabligh (diuraikan), fathanah (diuraikan). Bahasan-bahasan lain yang dikaji dalam ilmu kalam juga menyangkut berbagai hal yang terkait dengan kepercayaankepercayaan atau keyakinan-keyakinan, yang secara teoritis diperselisihkan oleh para ahli.  

2. Produk Ilmu Kategori al-Ilm at-Tahshili

Kategori kedua dari produk ilmu yang dihasilkan oleh metode penelitian dalam kajian Islam adalah al-„ilm at-tahshili atau al-„ilm al-hushuli.Yaitu ilmu yang dihasilkan melalui observasi dan eksperimen dan metode-metode ilmiah lainnya.  Produk ilmu yang masuk dalam kategori ini adalah ilmu yang dihasilkan melalui dua metode, yaitu: metode burhani dan metode tajribi atau metode „ilmiyah. Metode burhani membutuhkan kemampuan berpikir logis, dengan kaidah-kaidah tertentu. Sedangkan metode tajribi atau ilmiyah membutuhkan kemampuan observasi dan eksperimen.  

Dalam bahasa Ibn Khaldun, ilmu ini masuk dalam kategori  ilmu-ilmu

„Aqliyah, baik ilmu yang berkaitan dengan ilmu fisika („ilm ath-thabi‟i) atau yang berkaitan dengan ilm an-nazhir fi al-maqadir, yang sekarang dikenal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi atau sains atau scientific knowledge, yaitu: pengetahuan yang bersifat ilmiah, yakni pengetahuan yang dihasilkan melalui proses penelitian, pembuktian, pengujian dan percobaan secara mendalam, sistematik, objektif dan komprehensif dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan empirik. Perlu dikemukakan, bahwa selain scientific knowledge, ada yang disebut dengan natural sciences yaitu seperti yang ciri-cirinya telah dikemukakan di atas, juga ada yang disebut dengan social sciences yaitu pengetahuan yang sifatnya subjektif, tidak pasti, seperti sosiologi, ekonomi, sejarah dan lain sebagainya.                        

3. Produk Ilmu Kategori al-Ilm al-Hudhuri

Kategori ketiga dari produk ilmu yang dihasilkan oleh metodologi penelitian dalam kajian Islam adalah al-„ilm al-hudhuri atau al-„ilm at-tahdhiri atau al-„ilm alladunni. Yaitu ilmu yang dihasilkan melalui pendekatan diri kepada Allah (attaqarrub ila Allah) atau berhubungan langsung dengan Tuhan (al-ittishal ila al-Ilah). Produk ilmu yang masuk dalam kategori  al-„ilm al-hudhuri atau al-„ilm at-tahdhiri, atau juga disebut dengan  al-„ilm al-ladunni ini, dihasilkan melalui metode „irfani, dengan langkah-langkah tertentu, mulai dari melakukan tindakan persiapan-persiapan (isti‟dad), dalam bentuk tazkiyah an-nafs (membersihkan diri dari segala kekotoran jiwa) dalam rangka menyambut sinar kebenaran yang langsung hadir ke dalam hati, tanpa melalui simbol dan atau presentasi. Dengan ungkapan dan pemahaman yang lebih sederhana, produk ilmu ini adalah apa yang dikenal dengan ilmu tasawuf, baik tasawuf akhlaqi, tasawuf „amali dan tasawuf falsafi. 

Tasawuf akhlaqi adalah ilmu tentang cara hidup yang lebih mengutamakan rasa dan lebih mementingkan pengagungan Tuhan dan bebas dari ananiyah. Cara hidup seperti ini adalah dalam rangka mengontrol diri, kepatuhan dan realissi kehadiran tuhan yang ada dalam segala prilaku dan perasaan seseorang. Adapun sistem pembinaan tasawuf akhlaqi ini mereka lakukan dengan sistematika sebagai berikut: Pertama, tahap takhalli, yaitu mengosongkan diri dari segala akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah), seperti: „Ujub al-qalb, takabbur, riya`, sum‟ah, nafs al-ammarah, mengikuti syahwat perut dan faraj, pemarah, bermusuhan, hubbud dunia,bakhil dan lain sebagainya.  Kedua, tahap tahalli, yaitu tahap pengisian kekosongan diri itu dengan akhlak-akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah), seperti: Taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, ikhlash, tawakkal, mahabbat Allah, ridho, zikr al-maut dan lain sebagainya. Ketiga, tahap tajalli, yaitu tahap memantapkan dan mempertahankan pembinaan mental pada tahap tahalli, dalam rangka menyongsong datangnya nur ilahi atau nur ghaib ke dalam hati sanubari.

Tasawuf amali adalah suatu usaha nyata (amal) untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk amal-amal khusus, dan dengan jenjang atau tingkatantingkatan tertentu yang harus dilalui. Jenjang-jenjang dimaksud adalah sebagai berikut: Pertama, jenjang murid. Murid adalah orang yang mencari pengetahuan dan bimbingan dalam melaksanakan amal ibadahnya. Dalam tasawuf amali ini, murid dapat dibagi kepada tiga tingkatan, yaitu: (1) Mubtadi` atau tingkat pemula, yaitu orang-orang yang baru mempelajari syariat, mengamalkan amalan-amalan yang zahir, dan jiwanya masih terikat kuat dengan kehidupan duniawi; (2) Mutawassith atau tingkat menengah, yaitu orang yang sudah dapat melewati tahap mubtadi` dan menuju amalan-amalan yang bathin, dalam rangka mensucikan bathin supaya tercapai akhlak yang mulia; (3) Muntahi atau tingkat atas, yaitu orang yang telah matang ilmu dan amal-amal syariat, sudah menjalani thariqat dan mendalami amal-amal bathin, sudah bebas dari perbuatan maksiat sehingga jiwanya telah bersih. Orang yang sudah sampai tahap ini disebut dengan „Arif, yaitu orang yang sudah diperkenakan mendalami ilmu ma‟rifat, dan sudah bebas dari bimbingan guru. Kedua, jenjang Syeikh, yaitu seseorang yang telah memimpin kelompok kerohanian, pengawas murid-murid dalam segala prilaku kehidupannya, penunjuk jalan bagi murid-muridnya unntuk dekat kepada Tuhan, Allah. Ketiga, jenjang Wali dan Quthub, yaitu yaitu seseorang yang telah sampai kepada puncak kesucian bathin, memperoleh ilmu ladunni yang tinggi, sehingga terbuka tabir rahasia yang ghaib-ghaib.  

Tasawuf Falsafi adalah ilmu tentang konsepsi Sufi yang berkenaan dengan Tuhan. Dalam pandangan para sufi, konsepsi tentang Tuhan dapat diklasifikasikan kepada tiga kelompok, yaitu: Pertama, konsepsi etika, yakni konsepsi tentang Tuhan sebagai Pencipta tertinggi dari segala sesuatu termasuk tingkah laku manusia. Kedua, konsepsi tentang estetika, yaitu suatu konsepsi yang menganggap bahwa antara Tuhan dan manusia ada jalur timbal balik. Karakteristik konsepsi ini terwujud dalam teori mahabbah, yaitu rasa kecintaan yang luar biasa kepada Tuhan. Ketiga, konsepsi kesatuan wujud, yaitu konsepsi yang mengatakan bahwa dunia fenomena ini hanyalah “bayangan‟ dari “realita” yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Satu-satunya wujud yang hakiki hanyalah wujud Tuhan, Dialah yang menjadi dasar bagi segala sesuatu yang ada. Dari sinilah muncul faham-faham: Fana`, wahdatul wujud, al-ittihad, al-hulul dan al-isyraq.      

 

 

Kesimpulan

Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan petunjuk Al-Qur`an, sumber-sumber ilmu dalam Islam ada empat macam, yaitu: Pertama, panca indera (al-hawas al-khams). Kedua, akal  atau nalar atau pikir yang dimanfaatkan dalam proses pencarian ilmu. Ketiga, intuisi hati (qalb) atau Ilham, yang merupakan sumber ilmu bersifat batin yang berkaitan dengan hati dan jiwa seseorang dalam memberikan sesuatu pengetahuan. Keempat, al-khabar ashshadiq atau informasi yang benar, yang berasal dari dan bersandar pada otoritas tertentu, berupa Kitab Suci atau Sunnah Nabi).
  2. Landasan ilmu dalam peradaban Islam adalah: Pertama, unsur yang disebut dengan „ilm al-wujud, yaitu sesuatu yang dapat dijadikan sebagai objek pengamatan dan penelitian, melalui indera atau akal atau lainnya. Berbeda dari pemikir Barat modern yang hanya menjadikan fisika sebagai yang dapat diobservasi atau sebagai objek pengetahuan dan penelitian, para pemikir Muslim memandang bahwa objek penelitian, bukan hanya fisika, melainkan juga nash-nash (ayat Al-Qur`an dan hadits), dan metafisika. Kedua, unsur yang disebut dengan nazhariyah al-ma‟rifah, yaitu teori-teori dan cara-cara mendapat atau menemukan pengetahuan, yang dalam kajian filsafat ilmu sering dikenal dengan epistemologi. Berbeda dari para pemikir Barat modern, para pemikir Islam mengatakan bahwa epistemologi Islam yang dapat digunakan dalam penelitian dan pengembangan pengetahuan adalah: membaca, berpikir, eksperimen, penelitian, observasi, dan at-taqarrub ila Allah. Ketiga, unsur yang disebutl „ilm al-„amal, yang dalam kajian filsafat ilmu disebut dengan aksiologi. Dalam studi Islam, selain dua hal di atas, bangunan penting dari suatu ilmu adalah „ilm al-„amal, yaitu aspek praktek dan aktualisasi dari suatu ilmu yang telah didapatkan melalui berbagai epistemologi di atas.

Selanjutnya, Islam tidaklah meletakan ilmu itu dalam kerangka dikotomis.Yang membedakannya adalah nilai-nilai manfaat dan maslahat. Munculnya pemikiran yang diklaim sebagai paham dikotomis ilmu agamawi dan duniawi, secara historis, tampaknya salah satu konsekuensi dari era disintegrasi. Kelanjutannya, muncul statemen bahwa ilmu yang agamawi (ilmu-ilmu agama) harus mendapat perhatian yang lebih ketimbang ilmu yang duniawi (ilmu-ilmu dunia). Selanjutnya, pahala ilmu agamawi dipandang lebih banyak dibanding ilmu-ilmu duniawi. Statemen dan pandangan semacam ini tentu saja tidak memiliki dasar pijakan atau dalil yang jelas.

  1. Metode-metode penelitian dalam kajian-kajian Islam ada empat macam. Pertama, metode bayani yaitu suatu metode penelitian untuk menemukan ilmu, melalui usaha maksimal membaca, memahami, mempelajari dan mengkaji penjelasan-penjelasan dari nash-nash Al-Qur`an dan Sunah untuk menangkap pesan-pesan yang terdapat di dalamnya. Kedua, metode burhani adalah suatu metode penelitian atau penemuan ilmu yang mengandalkan kemampuan berpikir logis, dengan kaidah-kaidah tertentu yang disusun secara runtut dan sistematis. Ketiga, metode tajribi  yaitu suatu metode penelitian atau penemuan ilmu yang, selain memerankan kemampuan berpikir logis, juga dilanjutkan dengan tindakan eksperimen, observasi atau bentuk-bentuk metode yang dikenal dalam metode penelitian ilmiah sekarang ini. Keempat, metode „irfani yaitu suatu metode penelitian atau penemuan ilmu yang mengandalkan at-taqartub ila Allah atau al-Ittishal bi al-ilahi, dengan melakukan langkah-langkah tertentu, mulai dari tindakan persiapan-persiapan (isti‟dad), dalam bentuk tazkiyah an-nafs (membersihkan diri dari segala kekotoran jiwa). Teknik dalam metode „irfani ini adalah dengan melakukan riyadhah, yaitu latihan-latihan dalam arti melakukan amalan-amalan secara terus menerus dengan cara-cara tertentu. 
  2. Mengenai produk-produk ilmu, ada tiga macam, yaitu: Pertama, disebut al-„ilm atta‟limi atau al-„ilm al-bayani, baik sifatntya teoritis, seperti ulum al-Qur`an, „ulum alhadits, „ushul al-fiqh dan „ilm mantiq, maupun sifatnya praktis („amaliyah), seperti ilmu fiqih. Kedua, disebut al-„ilm at-tahshili atau al-„ilm al-hushuli, yaitu ilmu yang dihasilkan oleh metode tajribi atau metode „ilmiyah, yaitu ilmu-ilmu yang masuk dalam kategori natural sciences,seperti ilmu kedokteran dan social sciences, seperti ilmu ekonomi Islam. Ketiga, disebut al-„ilm al-hudhuri atau al-„ilm at-tahdhiri atau al-„ilm al-ladunni, yang dihasilkan melalui metode „irfani, seperti ilmu tasawuf, baik tasawuf akhlaqi, tasawuf „amali dan tasawuf falsafi. 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

„Abd Rabbih, Muhammad as-Sa‟id „Ali. 1980. Buhuts fi al-Adillah al-Mukhtalaf  fiha „Ind al-Ushuliyin. Mesir: as-Sa‟adah.

Abdullah, Amin. 2010. Islamic Sudies di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar).

Abdullah, Taufik & M. Rusli Karim. 1989. Metodologi Penelitian Agama: Sebah Pengantar, (Yogyakarta: Tiara Wacana).

Abu Sulayman, Abu Hamid. 1993. Towards an Islamic Theory of International Relations: New Directions For Methodology and Thought. Herndnon Virginia USA: The International institute of Islamic Thought.

Abu al-„Irfan Muhammad ibn „Ali ash-Shabban. t.t.  Syarh as-Sullam li al-Mallawi, (Jeddah: al-Haramain).

Arkoun, M. 1973. Membedah Pemikiran Islam. dit