Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang  

INTEGRASI PENDIDIKAN, PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKA DI PERGURUAN TINGGI

Ditulis oleh : Prof.Dr.H.Jufri Suyuthi P.MA. | 22/03/2017 WIB

 

INTEGRASI PENDIDIKAN, PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKA DI PERGURUAN TINGGI

Oleh: J. Suyuthi Pulungan

Penulis adalah Guru Besar Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab

Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang

 

Abstrak: Artikel ini merupakan rangkuman umum hasil kunjungan (visiting) penulis ke University of Newcastle pada 21-25 November 2016 lalu. Pada intinya artikel ini menitikberatkan pada upaya integrasi pendidikan (pengajaran), penelitian, dan pengabdian pada masyarakat atau yang populer disebut Tridharma perguruan tinggi (PT). Dengan adanya artikel ini diharapkan memberikan konstribusi pemikiran terhadap strategi implementasi Tridharma PT, khususnya bagi UIN Raden Fatah Palembang.

Tridharma PT sebagai salah satu arah dan tujuan yang harus dicapai semua PT. Tridharma PT merupakan tiga  pilar  dasar  pola  pikir  yang  harus  terbentuk, sehingga  akan  mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru. Baik pendidikan, penelitian dan pengadian pada masyarakat harus berjalan simultan dan integrited. Pengabdian pada masyarakat tidak berdiri sendiri dan program ini benar-benar mampu memberikan nilai plus kepada masyarakat. Mahasiswa tidak diharapkan hanya datang ke suatu desa lantas mengecat pagar, membangun tugu, dan sebagainya. Namun lebih dari itu, mahasiswa harus memberikan program yang bernilai edukasi (pendidikan) dan impresi (kesan) yang pada akhirnya dapat berguna bagi masyarakat dalam kurun waktu yang lama, sekalipun mahasiswa itu telah ditarik oleh kampus masing- masing. Di sinilah pentingnya Participatory Rulal Appraisal (PRA) adalah sebuah metode pemahaman lokasi dengan cara belajar dari, untuk dan bersama dengan masyarakat dengan tujuan untuk mengetahui, menganalisis dan mengevaluasi hambatan dan kesempatan melalui multidisiplin dan  keahlian untuk menyusun informasi dan pengambilan keputusan sesuai dengan kebutuhan

Dalam konteks UIN  Raden  Fatah Palembang ke  depan  sudah  harus  dipikirkan dan  dirancang perencanaan  pengabdian  pada  masyarakat  tidak  terbatas  pada  masalah-masalah  pendidikan  dan pembinaan agama an sich. Tetapi secara simultan dan terfokus pada masalah penyelesaian konflik antar agama,  penanganan  bencana  alam  dan  kegiatan  dakwah  bil  hal  lainnya.  Konsekuensinya,  secara akademik dalam kurikulum harus berani memasukkan materi tentang bagaimana mengatasi konflik antar agama dan konflik sosial lainnya, bagaimana dengan cepat dapat memberikan bantuan penanggulangan bencana alam dan lain sebagainya yang sangat ramah dengan kehidupan manusia.

Kata Kunci: Integrasi, Tridarma, dan Perguruan Tinggi

 

 

A. Pendahuluan

Artikel ini merupakan rangkuman umum hasil kunjungan (visiting) penulis ke University of Newcastle pada 21-25 November 2016 lalu. Rangkuman ini selanjutnya dikombinasikan dengan beberapa refrensi lain yang pada intinya menitikberatkan pada upaya integrasi pendidikan (pengajaran), penelitian, dan pengabdian pada masyarakat atau yang populer disebut Tridharma perguruan tinggi (PT). Dengan adanya artikel ini diharapkan   memberikan   konstribusi   pemikiran   terhadap   strategi   implementasi Tridharma PT, khususnya bagi UIN Raden Fatah Palembang.

Seperti telah banyak diulas oleh pakar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan bahwa paling tidak ada dua peran yang dimainkan PT dalam mendukung pembangunan bangsa  Indonesia  ini  menuju  bangsa  yang  maju  dan beradab,  yakni;  pertama,  PT sebagai agen perubahan (agent of change) dan kedua, PT sebagai pencipta dan pendukung   gagasan-gagasan baru.   Peran   PT   dalam pengembangan   sumber   daya manusia   Indonesia   sangat   besar, terutama sebagai   penghasil   agen-agen perubahan (change agent) yang mampu merancang, mendorong dan mempelopori perubahan. PT adalah pencipta   dan   pendukung   gagasan-gagasan   baru,   dan   PT   telah   memberi sumbangan yang besar bagi kemajuan intelektual dan sosial masyarakat.1  PT sebagai pendorong kemajuan intelektual dan sosial masyarakat memiliki posisi yang sangat strategis  dalam  membangun  bangsa  ini  lewat  pendidikan  yang  diselenggarakannya.

Karena itu, kualitas PT harus senantiasa diperhatikan dan tidak diselenggarakan secara asal-asalan.   Jika   PT   diselenggarakan   secara   asal-asalan,   maka   alumni   yang dihasilkannya juga akan menjadi orang-orang yang asal-asalan. Karena itu pula, pemerintah harus lebih ketat lagi dalam melakukan pengawasan terhadap kualitas penyelenggaraan PT dan tidak dengan mudahnya memberikan izin penyelenggaraan PT jika sarana dan prasarana yang dibutuhkan tidak mendukung. PT bukan hanya sekedar tempat untuk pengajaran atau kuliah saja, tetapi sebagai pencipta dan pendukung gagasan-gagasan  baru  melalui  penelitian  dan pengabdian  masyarakat.  Jika  PT  tidak melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, maka peran perguruan tinggi sebagai agent    of    change    dan pencipta    gagasan-gagasan    baru    di    masyarakat kurang dirasakan manfaatnya.

Karenanya, saat ini kampus PT tidak bisa lagi diasumsikan sebagai “menara gading” karena kemewahan yang dimilikinya. PT tidak tidak lagi sebagai pabrik atau bengkel industri yang akan menghasilkan robot-robot intelektual dan tenaga kerja. Kampus  sudah berubah  menjadi  “kampus  hijau”,  “kampus  biru”,  “kampus  unggu”, “kampus kuning”, dan sebagainya yang akan memberi inspirasi kepada semua civitas academica   untuk   menjadi   sumber   daya   manusia   yang   akan   menjadi   panutan masyarakat. Kampus sudah tidak ekslusif lagi, tetapi sudah inklusif,  campus for all.

Di sinilah peran pentingnya Tridharma PT sebagai salah satu arah dan tujuan yang harus dituju dan dicapai oleh semua PT. Walaupun begitu Tridharma PT bukan hanya sebagai kewajiban dosen, tetapi mahasiswa juga memiliki tugas untuk mewujudkannya. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran merupakan proses humanisasi bagi mahasiswa dengan cara transformasi pengetahuan dan nilai-nilai dari dosen. Apa

yang  telah  mahasiswa  peroleh  dari  perkuliahan  sebagai  dasar  untuk  melakukan 1Pembahasan lebih lanjut bisa dibaca Prayoto, “Peran Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan IPTEK”. Panel Acience, Seminar Nasional Dies Natalis ke-45 UGM, 20-21 Desember 1994. Lihat juga Toto Sugiharto, “Peran Perguruan Tinggi Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi melalui Pasar Modal: Is Entrepreneurial University the Answer?”. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Pasar Modal ”Dunia Akademis Sebagai Jembatan Masyarakat Berinvestasi di Pasar Modal”, Auditorium Universitas Gunadarma Jakarta, 17 Desember 2008. Penelitian  yang  akhirnya  bermanfaat  untuk  pengembangan  ilmu  dan  penerapan teknologi. Dalam kegiatan penelitian dan kegiatan ilmiah mahasiswa bebas mengemukakan gagasan-gagasan dengan cara yang ilmiah, jujur dan santun serta menyebarluaskan temuannya melalui forum-forum ilmiah dan jurnal. Memang, sepertinya ada kecenderungan menurunnya kesadaran mahasiswa akan tanggung jawabnya dalam menjalankan Tridharma PT. Oleh karena itu pihak PT harus berbenah agar mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap terlaksananya Tridharma PT.

Tridharma PT merupakan tiga pilar dasar pola pikir yang harus terbentuk, sehingga akan mendorong terciptanya inovasi-inovasi  yang bermuatan karakter dari mereka di masa yang akan datang. Hasil penelitian yang dihasilkan dosen hendaknya ditransformasikan kepada mahasiswa dan diimplementasikan kembali pada kegiatan pengabdian pada masyarakat. Payung penelitian yang dikembangkan dosen dengan mengikut sertakan mahasiswa sebagai pembelajaran dan pengembangan diri mahasiswa untuk berpikir ilmiah dan menghasilkan karya-karya inovatif yang akan bermanfaat bagi kemajuan masyarakat.

Dengan demikian mahasiswa akan menjadi knowledge generator, terlatih untuk berpikir kritis, kolaboratif dalam menghadapi masalah, dan mengkaji kebijakan yang tidak sesuai dengan undang-undang dan/atau kebutuhan masyarakat. Akhirnya akan dihasilkan sebuah teori dan rekayasa produk yang akan diterapkan melalui pengabdian pada masyarakat, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Eksistensi PT dalam mengaplikasikan Tridharma PT baik yang dilakukan dosen dan mahasiswa akan membelajarkan masyarakat, sehingga tercipta transformasi pola pikir, nilai sosial dan terjaganya nilai-nilai budaya. PT juga dapat mengembangkan model  pembangunan  yang  berbasis  keilmuan  dan  sumberdaya  lokal  yang  relevan dengan kebutuhan masyarakat untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal dan menguranggi pengangguran.  Misalnya,  dengan  melakukan  pembinaan  terhadap  industri  kreatif di masyarakat, pembangunan pertanian, pembinaan sekolah sehingga dapat melahirkan sekolah percontohan, dan sebagainya.

 

B. Otonomi  PT Suatu Keniscayaan

Dalam Pasal 1 Permedikbud Nomor 49 tahun 2014 dijelaskan bahwa Perguruan

Tinggi (PT) adalah “satuan pendidikan  yang menyelenggarakan pendidikan tinggi”, yaitu “jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, program profesi, program spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia”.2  Sebagai penyelenggara pendidikan tinggi, PT “memiliki otonomi untuk mengelola sendiri  lembaganya sebagai  pusat  penyelenggaraan  Tridharma Perguruan Tinggi” (Pasal 2 PP 04/2014).3

Otonomi pengelolaan PT dimaksud terdiri atas otonomi akademik dan non akademik. Otonomi akademik meliputi “penetapan norma dan kebijakan operasional serta pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Adapun otonomi non akademik meliputi  “penetapan  norma dan  kebijakan  operasional  serta  pelaksanaan  organisasi, keuangan, kemahasiswaan, ketenagaan, dan sarana prasarana, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan” (Pasal 22 PP Nomor 04/2014).

Di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), menurut PP Nomor 04 tahun 2014, otonomi bidang   akademik   meliputi   dua   aspek.   Pertama,   penetapan   norma,   kebijakan operasional, dan pelaksanaan pendidikan terkait dengan persyaratan akademik mahasiswa  yang  akan  diterima,  kurikulum  program  studi,  proses  pembelajaran, penilaian hasil belajar, persyaratan kelulusan, dan wisuda. Kedua, penetapan norma, kebijakan operasional, serta pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam bidang non akademik, otonomi PTN meliputi lima aspek. Pertama, penetapan norma, kebijakan operasional, dan pelaksanaan organisasi terkait dengan rencana strategis dan rencana kerja tahunan, serta sistem penjaminan mutu internal. Kedua, penetapan norma, kebijakan operasional, dan pelaksanaan keuangan terdiri atas pembuatan perjanjian dengan pihak ketiga dalam lingkup Tridharma PT dan sistem pencatatan dan pelaporan keuangan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Ketiga, penetapan norma, kebijakan operasional, dan pelaksanaan kemahasiswaan terdiri atas kegiatan kemahasiswaan intrakurikuler dan ekstrakurikuler; organisasi kemahasiswaan; dan pembinaan bakat dan minat mahasiswa. Keempat, penetapan norma, kebijakan operasional, dan pelaksanaan ketenagaan terdiri atas: penugasan  dan  pembinaan  sumber  daya  manusia  dan  penyusunan  target  kerja  dan

jenjang karir sumber daya manusia. Kelima, penetapan norma, kebijakan operasional,

2.Lihat Salinan Permendikbud Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

3. Lihat Salinan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

dan pelaksanaan pemanfaatan sarana dan prasarana terdiri atas: penggunaan sarana dan prasarana; pemeliharaan sarana dan prasarana; dan pemanfaatan sarana dan prasarana; sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (lihat Pasal 23 PP 04/2014).

Otonomi yang begitu penuh dan mencakup semua aspek kegiatan Tridharma membuat lembaga pendidikan tinggi menjadi faktor paling menentukan dalam pembinaan semua input, proses, dan output yang ada. Para pimpinan PT bertanggug jawab penuh terhadap kuantitas dan kualitas input, proses, dan output yang ada dan relevansi serta signifikansi dari berbagai program yang diselenggarakan. Kinerja para pengelola lembaga pendidikan tinggi dapat dilihat pada kuantitas dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada para anggota civitas akademika, terutama para mahasiswa.

Mahasiswa harus menjadi salah satu fokus dan prioritas utama dalam sistem pengelolaan lembaga pendidikan tinggi. Kuantitas, kualitas, relevansi, dan efektifitas pembinaan dan pelayanan pada mahasiswa banyak menentukan tercapainya tujuan pendidikan tinggi, yaitu untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mahasiswa agar menjadi sarjana yang berilmu, berkompeten, dan berakhlakul karimah (PP Nomor 04 tahun 2014).4  Untuk mencapai tujuan tersebut,  lembaga pendidikan)

Perguruan Tinggi dituntut memiliki “standar kompetensi lulusan,” yaitu “kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran lulusan” (Pasal 5 Permendikbud Nomor 49 tahun 2014). Standar kompetensi lulusan berfungsi sebagai “acuan utama pengembangan standar isi pembelajaran, standar proses pembelajaran, standar penilaian pembelajaran, standar dosen dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana pembelajaran,  standar  pengelolaan  pembelajaran,  dan  standar  pembiayaan pembelajaran” (Pasal 5 Permendikbud Nomor 49 tahun 2014).

Untuk  pendidikan  tinggi,  standar  yang digunakan  meliputi  Standar Nasional Pendidikan, ditambah dengan Standar Nasional Penelitian dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat. Standar Nasional Pendidikan, adalah “kriteria minimal tentang pembelajaran pada jenjang pendidikan tinggi di PT di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Standar Nasional Pendidikan terdiri atas delapan standar, yaitu 1. Standar kompetensi lulusan, 2. Standar isi pembelajaran, 3. Standar proses pembelajaran, 4. Standar penilaian pembelajaran, 5. Standar dosen dan tenaga kependidikan, 6. Standar sarana dan prasarana pembelajaran, 7. Standar pengelolaan

4Lihat salinan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

pembelajaran,  dan  8.  Standar  pembiayaan  pembelajaran  (Pasal  4  Permendikbud  49 Tahun 2014).

Adapun Standar Nasional Penelitian adalah “kriteria minimal tentang sistem penelitian pada perguruan tinggi yang berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia,” dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) adalah “kriteria minimal tentang sistem pengabdian kepada masyarakat pada perguruan tinggi yang berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.”  Dijelaskan  pada  Pasal  2  Permendikbud  Nomor  49  tahun  2014  bahwa Standar Nasional Pendidikan, Standar Nasional Penelitian, dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat adalah “satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.”

Pasal 3 Permendikbud Nomor 49 tahun 2014 menjelaskan bahwa Standar Nasional Pendidikan Tinggi memiliki tiga tujuan, yaitu: pertama, untuk “menjamin tercapainya tujuan pendidikan tinggi yang berperan strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia yang berkelanjutan.” Kedua, untuk “menjamin agar pembelajaran pada program studi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai mutu sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Ketiga, “mendorong agar perguruan tinggi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai mutu pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melampaui kriteria yang ditetapkan  dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi  secara  berkelanjutan.”  Ditegaskan  pada  pasal  yang  sama  bahwa  Standar Nasional Pendidikan Tinggi wajib “dipenuhi oleh setiap perguruan tinggi untuk mewujudkan  tujuan  pendidikan  nasional;  dijadikan  dasar  untuk  pemberian  izin pendirian perguruan tinggi dan izin pembukaan program studi; dijadikan dasar penyelenggaraan pembelajaran berdasarkan kurikulum pada program studi; dijadikan dasar penyelenggaraan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; dijadikan dasar pengembangan dan penyelenggaraan sistem penjaminan mutu internal; dan dijadikan dasar penetapan kriteria sistem penjaminan mutu eksternal melalui akreditas” (lihat Permendikbud 49 tahun 2014).

Dijelaskan pada Pasal 6 Permendikbud 49 tahun 2014 bahwa yang dimaksud

dengan sikap dalam stadar pendidikan tinggi adalah “perilaku benar dan berbudaya sebagai hasil dari internalisasi dan aktualisasi nilai dan norma yang tercermin dalam kehidupan spiritual dan sosial melalui proses pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran.”  Adapun  yang  dimaksud  dengan  pengetahuan  adalah  “penguasaan konsep, teori, metode, dan/atau falsafah bidang ilmu tertentu secara sistematis yang diperoleh melalui penalaran dalam proses pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran.

Adapun yang dimaksud dengan ketrampilan dalam standar pendidikan tinggi adalah  “kemampuan  melakukan  unjuk  kerja  dengan  menggunakan  konsep,  teori, metode, bahan, dan/atau instrumen, yang diperoleh melalui pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran.” Ketrampilan dimaksud mencakup dua jenis, yaitu ketrampilan umum dan kerampilan khusus. Keterampilan umum adalah “kemampuan kerja umum yang wajib dimiliki oleh setiap lulusan dalam rangka menjamin kesetaraan kemampuan lulusan  sesuai  tingkat  program  dan  jenis  pendidikan  tinggi.”  Adapun  ketrampilan khusus adalah kemampuan kerja khusus yang wajib dimiliki oleh setiap lulusan sesuai dengan bidang keilmuan program studi.”

Di lembaga pendidikan tinggi, semua standar pendidikan tinggi yang telah dirumuskan  adalah   rujukan   utama  bagi   para   penentu   kebijakan   dan   pengelola pendidikan tinggi dalam merancang berbagai kebijakan dan kegiatan pelayanan dan pembinaan terhadap semua unsur sivitas akademika, terutama mahasiswa. Mutu, kreativitas,   dan   karakteristik   para   mahasiswa   banyak   mempengaruhi   dinamika kehidupan kampus dan menentukan citra serta reputasi lembaga pendidikan tinggi. Karena itu maka dalam sistem pengelolaan lembaga pendidikan tinggi modern mahasiswa mendapat perhatian yang sangat besar. Mahasiswa dipandang sebagai aset yang sangat berharga, yang perlu diarahkan, difasilitasi, dan dibina sedemikian rupa, agar menjadi sarjana yang memiliki daya saing dan “nilai jual” serta manfaat yang tinggi di tengah masyarakat.  Semua kampus modern memberikan fasilitasi yang cukup untuk mendorong dan memfasilitasi aktifitas kemahasiswaan.

Efektif dan relevansi berbagai kegiatan atau program pembinaan yang diberikan pada mahasiswa tentu saja banyak menentukan kualitas dan daya saing mereka setela menjadi sarjana. Untuk itu maka pola, format, strategi, dan pendekatan yang digunakan untuk   memberikan   pembinaan   kepada   mahasiswa   perlu   dirancang   dan   dipilih sedemikian   rupa,   agar   dapat   mengoptimalkan   perkembangan   poteni   diri   para mahasiswa. Untuk itu maka para pengelola lembaga pendidikan tinggi perlu sedini mungkin memahami profil para mahasiswa, agar dapat ditentukan pola pembinaan yang tepat.

Otonomi pendidikan erat kaitannya dengan desentralisasi pendidikan. Menurut Alisjahbana,5 desentralisasi pendidikan secara konseptual dibagi menjadi dua jenis yaitu pertama,   desentralisasi   kewenangan   di   sektor   pendidikan   terkait   dengan   aspek pendanaan dan kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Otonomi pendidikan dijalankan dengan mengacu pada empat argument pokok dalam membuat kebijakan pendidikan, yaitu (1) peningkatan mutu, (2) efisiensi keuangan, (3) efisien administrasi, dan (4) perluasan kesempatan/pemerataan.

Untuk menghadapi tantangan PT, perlu pemberdayaan kelembagaan pendidikan tinggi. Pemberdayaan kelembagaan pendidikan tinggi bermakna mendorong dan menciptakan   iklim   kondusif   bagi   terpeliharanya   otonomi   keilmuan,   otonomi pengelolaan pendidikan, dan otonomi pengelolaan kelembagaan. Ketiga hal tersebut merupakan dimensi otonomi perguruan tinggi yang dikategorikan sebagai demokratisasi pengelolaan pendidikan, yang tidak terpisahkan dari penciptaan kesetaraan antara perguruan tinggi negeri (PTN) dengan perguruan tinggi swasta (PTS), dan peningkatan daya saing PT dalam negeri terhadap perguruan tinggi di negara-negara lain.

Dalan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan otonomi pendidikan bagi perguruan tinggi. Dimensi otonomi pendidikan  bagi  perguruan  tinggi  berdasarkan  UU  Sisdiknas,  yaitu  (1)  berlaku kebebasan akademik dan kebebasan akademik serta otonomi keilmuan, (2) memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya, (3) dapat memperoleh sumber dana dari masyarakat dan dikelola berdasarkan prinsip akuntabilitas publik, (4) menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya, dan (5) pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan.

Berkaitan dengan hal tersebut Adil Basuki Ahza,6  mengatakan otonomi mutlak diperlukan  agar  PT  untuk  dapat  meraih  dan  menyelenggarakan  pendidikan  yang

 

5 Armida S. Alisjahbana, Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan, (Bandung: Universitas Padjajaran, 2000).

6Adil  Basuki  Ahza,  “Penjelasan  Tertulis  Terhadap  Pertanyaan-Pertanyaan  SetJen  DPR  RI”.

Makalah  disampaikan  pada  Seminar  Otonomi  Peruguruan  Tinggi  Pasca  Keputusan  Mahkamah

Konstitusi, tanggal 21 Februari 2011, Setjen DPR RI Gd Nusantara 1 Lt 2 DPR RI Jln. Jend Gatot bermutu tinggi. Otonomi PT bukan berarti PT menjadi organisasi komersial yang berorientasi pada profit (profit oriented) yang meninggalkan prinsip humanisme dan dapat menciptakan kesenjangan sosial. Otonomi harus diartikan sebagai otonomi keilmuan dan academic freedom bukan otonomi mengelola dan mencari dana. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Soedijarto. Menurut Soedijarto,7  perkembangan ilmu pengetahuan memang memerlukan kemerdekaan dan otonomi tanpa campur tangan dari kepentingan yang berada di luar kepentingan ditemukannya kebenaran ilmiah dan dikembangkannya   teknologi   baru,   tetapi   untuk   memberikan   dukungan   terhadap keberlangsungan proses kependidikan dan keilmuan diperlukan dukungan dana.

Pentingnya otonomi PT juga disadari oleh banyak negara di dunia, khususnya di Eropa yang kemudian dinyatakan dan dikenal dengan Magna Charta Universitatum

1988 yang berbunyi: the university is an autonomous institution at the heart of socities. To meet the needs of the world around it, its reserach and teaching must be morally and intellectually  independent  of  all  political  authority  and  economic  power.8   Dampak positif dari pemberian otonomi kepada PT terbukti dari kesuksesan PT di Amerika Serikat yang mendominasi sepuluh besar dalam pemeringkatan universitas kelas dunia (world class university) sebagaimana yang dikemukakan oleh Cole dalam karyanya

yang berjudul The Great American University, yang menyebutkan delapan faktor utama yaitu:   kombinasi   pengajaran   dan   penelitian,   otonomi   dan   kebebasan   mimbar, meritokrasi dan sistem kepegawaian (tenure system), sistem peer-review, kompetisi, influks bakat dari seluruh dunia, philantrophy dan pendanaan pemerintah.9

Makna dan hakikat otonomi adalah kewenangan untuk secara leluasa mengatur diri dalam mengelola penyelenggaraan institusi dan program akademik yang meliputi pembelajaran, riset, dan pengabdian kepada masyarakat) bagi suatu Perguruan Tinggi untuk mencapai cita-cita dan aspirasinya sehingga menghasilkan dan menjamin mutuhasil pembelajaran, kompetensi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang

Subroto, Jakarta. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Sulistyowati Irianto bahwa otonomi PT merupakan suatu keniscayaan. Lihat Sulistyowati Irianto (ed), Otonomi Perguruan Tinggi Suatu Keniscayaan, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012) Soedijarto, “Otonomi Perguruan Tinggi (Universitas) Pasca Putusan “Judicial Review” Terhadap

UU No. 9 Tahun 2009 Tentang Badan Hukum Pendidikan”. Makalah disampaikan pada Diskusi dalam rangka Penelitian tentang Otonomi Perguruan Tinggi Pasca Putusan Judicial Review terhadap UU No. 9

Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan DPR RI tanggal 11 Februari 2011.

8 Ratna Sitompul, “Otonomi Perguruan Tinggi Suatu Keniscayaan”, dalam Sulistyowati Irianto (ed), Otonomi Perguruan Tinggi Suatu Keniscayaan, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012), hlm. vii.

9 ihat Hendra Gunawan, “Quo Vadis Perguruan Tinggi di Indonesia”, dalam Sulistyowati Irianto

(ed), Otonomi Perguruan Tinggi Suatu Keniscayaan, hlm. 3.

bermutu  setinggi  kemampuan  dan  kondisinya.  Otonomi  bukan  diberikan  dengan sebebas-bebasnya   melainkan   sesuai   dengan   peraturan   perundang-undangan   yang berlaku. Otonomi bukan pula berarti otonomi pengelolaan uang melainkan memberikan otonomi   keilmuan   dengan   dukungan   dana   sesuai   dengan   kebutuhan   untuk mensukseskan Tridarma PT, termasuk otonomi untuk melakukan kerjasama dengan dunia industri, pemerintahan, dan departemen-departemen. Oleh karena itu tanggungjawab yang begitu besar yang dibebankan pada sektor pendidikan dalam hal ini institusi-institusi pendidikan diantaranya PT harus dibarengi dengan pemberian otonomi dalam penyelenggaraannya. Tanpa otonomi, maka harapan itu tidak akan terwujud dan pada akhirnya daya saing bangsa menjadi lemah sehingga negara ini dengan mudah ditekan, tidak mempunyai martabat, menjadi objek bukan subjek dalam kancah percaturan hubungan internasional.10

 

C. Integrasi Tridharma Perguruan Tinggi

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Tridharma berasal dari bahasa Sangsekerta, yakni “Tri” berarti “tiga” dan “Darma” yang artinya “kewajiban”.11  Bila diartikan secara bebas Tridarma PT adalah tiga kewajiban yang harus dijalankan oleh perguruan tinggi dalam mengelola seluruh komponen yang ada di dalamnya (civitas akademika). Tridharma PT merupakan hal mendasar yang harus ada saat menjalani aktivitas akademik. Dasar dan tanggung jawab tersebut dilakukan secara terus-menerus dan dikembangkan secara beriringan. Adanya Tridharma PT merupakan wujud dari keseriusan perguruan tinggi untuk menyajikan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat  yang berkualitas. Oleh karena itu,  Tridharma PT sepatutnya telah menjadi  budaya  dan  kesadaran.  Tanggung  jawab  Tridharma  Perguruan  Tinggi  itu sendiri sebenarnya diberikan kepada seluruh civitas akademik terutama dosen dan mahasiswa. Dosen sebagai pengajar, pembimbing sekaligus pendamping. Sedangkan mahasiswa sebagai peserta didik yang menuntut ilmu. Dua elemen ini akan terus berkaitan mengingat tak bisa disebut dosen tanpa adanya mahasiswa, begitu sebaliknya.

Pendidikan dan pengajaran adalah point pertama dan utama dari Tridharma PT.

Pendidikan dan pengajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu proses

10Zahruddin, “Implikasi Kebijakan Politik Terhadap manajemen Perguruan Tinggi”, dalam Salam, Jurnal Sosial dan Budaya Syar’i. Vol. II No. 1 Juni, (Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, 2015), hlm. 140-141.

11Departemen  Pendidikaan  dan  Kebudayaan,  Kamus  Besar  Bahasa Indonesia,  Ed.  II,  Cet

9, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 1072 dan 210.

pembelajaran. Proses pendidikan dan pengajaran yang baik akan menghasilkan bibit unggul dari suatu PT  yang akan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih maju.

Di samping itu, pendidikan dan pengajaran dalam konteks Tridharma PT dimaknai bahwa dosen haruslah mengajar dengan sungguh-sungguh karena hanya kesunguhanlah suatu tanggung jawab dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam proses belajar mengajar itulah terjadi transfer ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa. Mahasiswa sebagai  kaum  intelektual  bangsa berkewajiban  meningkatkan  mutu  diri, secara khusus agar mutu bangsa pun meningkat, pada umumnya dengan ilmu yang dipelajari selama pendidikan di kampus sesuai bidang keilmuan tertentu. Mahasiswa dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga ketika mahasiswa melakukan segala kegiatan dalam hidupnya, semua harus didasari pertimbangan rasional, bukan dengan adu otot. Itulah yang disebut kedewasaan mahasiswa.

Peranan  etika bagi  aktivitas  mahasiswa menjadi  landasan  dalam  melakukan kegiatan yang tetap mengacu atau melihat nilai-nilai dan norma-norma, sehingga segala perbuatan   dan   tingkah   lakunya   dapat   diterima   masyarakat.   Mahasiswa   sebagai kelompok  terpenting dalam  sebuah  masyarakat  memiliki  kewajiban  menuntut  ilmu, menguasai ilmu dengan sungguh-sungguh agar menjadi orang yang berguna yang mengaplikasikan  atau  mengembangkan  disiplin  ilmunya  bagi  lingkungan  tempat  di mana ia tinggal, mematuhi peraturan yang berlaku dan tidak menyimpang dari ketetapan hukum-hukum Allah dan nilai-nilai dan norma-norma yang ada. Selain itu mahasiswa juga harus memainkan peranan penting sebagai pencetus perubahan. Dengan memahami peranan etika mahasiswa dapat bertindak sewajarnya dalam melakukan aktivitasnya. Dengan etika mahasiswa dapat berperilaku sopan dan santun terhadap siapa pun dan di mana pun.

Dosen juga turut perperan penting dalam hal pendidikan dan pengajaran ini. Dosen yang professional, tentu tidak sekedar bertugas menstranspalasikan materi dan mengajarkan hafalan. Tetapi dalam upaya membangun proses pencerdasan mahasiswa, maka dosen harus  berani bertindak dan mengemukakan isu-isu “subversive” yang membongkar hegemoni dan mendorong tumbuhnya sikap skeptif mahasiswa dan senantiasa kreatif untuk menampilkan pikiran-pikiran alternatif (counter-culture). Di samping itu, dosen juga dituntut untuk tidak stagnan, melainkan terus secara dinamis mengembangkan diri melalui proses pembelajaran bersama yang dialogis dengan mahasiswa. Mahasiswa yang kreatif, tentu ia juga tidak hanya puas duduk-diam dalam ruang perkuliahan dan kemudian langsung pulang ketika bel tanda selesai kuliah berbunyi. Tetapi mahasiswa yang kreatif harus pandai-pandai menjemput bola, selalu bersikap skeptis, gemar berdiskusi dan beradu argumentasi secara profesional.

PT harus mampu memberdayakan proses pendidikan yang sedemikian rupa agar seluruh mahasiswanya berkembang menjadi lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi paripurna secara intelektual, profesional, sosial, moral dan personal. Pendidikan merupakan wujud bakti PT untuk bangsa. Sebagai tempat pendidikan dan pembentukan moral anak bangsa, PT dituntut komitmennya untuk memberikan sumbangan terhadap pembangunan manusia yang berkelanjutan. Maka dari itu PT juga harus memperhatikan kurikulum yang ditetapkan dan diterapkan.12

Dalam  hal  inovasi  kurikulum  sebagai  suatu  proses  yang  terus  menerus dilakukan. Relevansi kurikulum akan dapat sangat diperbaiki bila di dalam semua disiplin diwajibkan mengadakan perbincangan tentang masalah kesempatan kerja dan keadilan sosial dalam kaitannya dengan disiplin-disiplin itu.  Satu sebab penting dari kesulitan yang ditemui oleh banyak sarjana dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai adalah kenyataan bahwa pengetahuan mereka sering tidak memenuhi syarat. Dari pengamatan sederhana menunjukkan bahwa kebanyakan mereka mengaharapkan suatu karir dalam pemerintahan dan berharap hidup di salah satu kota besar.

Tridharma yang kedua adalah melakukan penelitian atau riset ilmiah yang nantinya diharapkan menghasilkan temuan-temuan ilmiah untuk memperbaharui keilmuan itu sendiri. Jadi pada prinsipnya melakukan riset atau penelitian ilmiah ditujukan untuk pengembangan keilmuan dan kesejahteraan masyarakat. Ilmu yang mereka  kuasai  melalaui  proses  pendidikan  di  PT  harus  diterapkan.  Salah  satunya dengan langkah ilmiah, seperti melalui penelitian. Penelitian mahasiswa muapun dosen bukan hanya akan mengembangkan diri dosen dan mahasiswa itu sendiri, namun juga memberikan manfaat bagi kemajuan peradaban serta kepentingan bangsa dan masyarakat. Selain pengembangan diri secara ilmiah dan akademis, dosen dan mahasiswa pun harus senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya dalam hal softskill.

PT  harus  mampu  menjadi  salah  satu  institusi  ilmiah  akademik  yang  dapat menghasilkan  berbagai  temuan  inovatif  melalui  kegiatan-kegiatan  penelitian.  Pada

12Muhammad Akbar bin Yazid, “Perguruan Tinggi: Tri  Dharma Perguruan Tinggi (TDPT)”,

dalam http://muhammadakbar2.blogspot.co.id/2015/09/tri-dharma-perguruan-tinggi-tdpt.html, diaskes 9

Desember 2016, pukul 19.00 WIB

akhirnya dapat mengembangkan dirinya serta memberikan sumbangan nyata bagi pengembangan keilmuan dan aplikasi dalam berbagai upaya pembaharuan, sehingga dapat mengembangkan penelitian yang bertujuan menghasilkan suatu bentuk referensi ilmiah yang baru dan bermanfaat.

Tridharma yang ketiga adalah tinggi pengabdian. Logikanya ketika Tridharma pertama dan kedua telah berhasil, maka semua itu harus diaplikasikan pada masyarakat. Artinya, Tridharma ini harus mampu membawa perubahan pada masyarakat. Dalam konteks  globalisasi  dewasa  ini,  maka  perguruan  tinggi  melalui  perpaduan  dari Tridharma yang diembannya, harus mampu berperan dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai etika masyarakat dan nilai budaya bangsa agar tidak hanyut oleh terpaan arus global yang menggiring kepada proses homogenisasi atau penyeragaman nilai budaya. Sebab jika itu terjadi maka suatu bangsa akan kehilangan martabat dan jati dirinya serta kepribadian  masyarakatnya  akan  terkikis  oleh  nilai-nilai  baru  yang  datang  seiring dengan arus besar globalisasi.13

Di dalam tulisan Margono Slamet14  dikatakan bahwa tujuan pengabdian pada masyarakat oleh perguruan tinggi adalah; a). Mempercepat proses peningkatan kemampuan sumberdaya manusia sesuai dengan dinamika pembangunan; b). Mempercepat upaya pengembangan masyarakat ke arah terbinanya masyarakat dinarnis yang siap mengikuti perubahan-perubahan ke arah perbaikan dan kemajuan yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat; c). Mempercepat upaya pembinaan institusi dan profesi masyarakat sesuai dengan perkembangannya dalam proses modernisasi; dan d). Memperoleh umpan balik dan masukan lain bagi perguruan tinggi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dan penelitian yang dilakukannya dengan kebutuhan situasi.

Dari tujuan di atas dapat ditegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat oleh PT dapat diartikan sebagai praktik langsung dari teori ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan ilmu lainnya sesuai prosedur kaedah keilmuan, dilakukan secara melembaga, langsung kepada masyarakat sasaran (yang akan menikmatinya), dengan sasaran masyarakat   baik   perorangan,   kelompok,   organisasi   pemerintah/swasta/masyarakat

umum. Pada umumnya terdapat enam bentuk kegiatan yang sering dilakukan dalam

 

13Pembahasan menarik mengenai tantangan perguruan tinggi menghadapi globalisasi dapat dibaca Sofian  Effendi,  “Pengelolaan Perguruan Tinggi  Menghadapi Tantangan  Global”,  Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional Majelis Rektor Indonesia Di Makassar, 31 Januari-2 Februari

2003.

14Lihat Agussalim Sitompul, (ed), Metodokgi Pengabdian pada Masyarakat, (Yogyakarta: P3M IAIN Sunan Kalijaga,1993), hlm. 36.

 

 

pengabdian kepada masyarakat di sebuah PT, yaitu: pertama,   pendidikan kepada masyarakat Yang dimaksud dengan pendidikan kepada masyarakat adalah pemberian pendidikan non-formal dalam rangka continuing education dengan berbagai bentuk kegiatan;  kursus-kursus,  penataran,  lokakarya,  latihan kerja,  penyuluhan,  bimbingan kerja.15 Perlu diperhatikan dalam bentuk kegiatan pendidikan kepada masyarakat adalah program yang bersifat praktis, harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar, melihat kondisi sosio kultural masyarakat serta tingkat pendidikan masyarakat. Jika hal tersebut tidak dipertimbangkan kemungkinan besar apa yang dilakukan menjadi tidak berguna

dan mubazir.

 

Kedua, pelayanan kepada masyarakat. Kalau di dalam masyarakat modern telah ada secara simultan tenaga pelayan masyarakat yang profesional yang sewaktu-waktu dapat membantu masyarakat yang membutuhkannya. Namun pada masyarakat  yang masih berkembang hal ini masih sangat terbatas kalau tidak mau dikatakan belum ada. Sehubungan dengan hal tersebut perlu di sini PT memberi pelayanan secara profesional kepada masyarakat yang memerlukan PT. Di negara tertinggal atau sedang berkembang perguruan tinggi masih dipercaya sebagai tempatnya para ahli yang jumlahnya masih sangat terbatas. Kemampuan para ahli ini harus dapat dimobilisasi untuk kepentingan masyarakat luas melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat terutama tugas yang memerlukan keahlian profesional, pelayanan profesional. Kegiatannya dalam berbentuk, perencanaan tata kota, proyek khusus, studi kelayakan, evaluasi proyek, perencanaan kurikulum  pendidikan,  pelayanan  kesehatan,  bantuan  hukum,  dan  berbagai  macam konsultasi.16

Ketiga, pengembangan  hasil penelitian. Hasil penelitian perlu dikembangkan agar masyarakat dapat menikmatinya. Produknya dapat berupa pengetahuan terapan, teknologi ataupun seni yang hasilnya siap pakai. Bentuk kegiatannya dapat berupa; cara kerja, prosedur kerja, metode mengajar, materi pelajaran dan sebagainya.17  Dalam hal yang berkaitan dengan pengembangan hasil penelitian yang menjadi problem utamanya adalah ketika sebuah lembaga pendidikan tinggi itu tidak memproduk hasil yang tepat guna, atau ilmu sosial yang meneliti masalah-masalah konsep dan teori sehingga sulit untuk mereduksikannya dalam praktek karena belum disiapkan dalam bentuk aplikatif.

Ditambah lagi kalau penelitian itu suatu penelitian yang tidak rnenyentuh hajat hidup

 

 

 

15Ibid., hlm. 40-41.

16Ibid., hlm. 42.

17Ibid., hlm. 43.

 

 

masyarakat banyak, maka sudah dapat dipastikan hasil penelitiannya itu hanya sekedar pengisi gudang.

Keempat, pengembangan wilayah secara terpadu. Dengan melakukan kerja sama dengan  beberapa  instansi  daerah,  PT  yang  telah  memiliki  tenaga  ahli  yang  telah memiliki konsep perencanaan pengembangan wilayah dapat melakukan pengabdian dalam  bentuk  desa  binaan  melakukan  perencanaan  pembangunan  wilayah  secara terpadu dan bersifat komprehensip. Hal ini tentu sangat berkaitan erat dengan penataan wilayah di suatu daerah yang telah ada tata aturan sebagai pedoman. Di sini kerjasama antara PT dengan pemerintah daerah merupakan suatu keniscayaan. PT tidaklah etis melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi tanpa berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Di sini program yang dilakukan dapat berupa perbaikan wilayah yang baru terkena musibah, penangan masalah pengungsi dan  lain sebagainya yang dilakukan dengan simultan diselaraskan dengan program pemerintah setempat.

Kelima, transfer teknologi. Trasfer teknologi ini hasilnya produk baru berupa teknologi siap pakai. Agar bermanfaat kepada masyarakat maka diperlukan pengenalan kepada  masyarakat,  ditawarkan  kepada  masyarakat  agar  bisa  diadaptasi.  Sasaran transfer teknologi ini adalah dunia industri, dunia busnis, kelompok-kelompok dalam masyarakat, individu-individu, organisasiorganisasi masyarakat, dan instansi-instansi pemerintah.

Pada umunya pengabdian pada masyarakat yang banyak ditemukan di PT di Indonesia, tak terkecuali di UIN Raden Fatah adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Memang selama varian KKN sudah spesifik, tetapi intinya memadukan pendidikari dan pengajaran serta penelitian ke dalamnya, di samping itu melibatkan banyak personil baik dari kalangan mahasiswa maupun staf. KKN ini diharapkan dapat membawa misi PT  kepada  masyarakat,  sehingga  masyarakat  mengenal  PT  itu  secara  lebih  dekat. Dengan kata lain, KKN merupakan salah satu promosi PT secara tidak langsung ke tengah-tengah masyarakat. Untuk itu sebelum melakukan KKN perlu mempersiapkan strategi khusus dan perencanaan yang matang, sehingga menghasilkan manfaat tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga mahasiswa dan PT yang bersangkutan sehingga tidak terjadi pemborosan tenaga, materi dan pikiran.

Idealnya, KKN harus integrited dengan ranah pendidikan (pengajaran) dan penelitian. Namun terkadang ketiga ranah ini berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, ke depan diharapkan praktik pengabdian pada masyarakat harusnya integrited, dan yang terpenting KKN lebih banyak difokuskan pada upaya menggali potensi yang ada dalam

 

 

masyarakat tersebut. Seperti yang ditemukan di Universitas of Newcastle Australia, terlihat PT ini mensinergikan ranah pengajaran, riset, dan pengabdian pada  masyarakat (community outreach). Di antaranya, terdapat  Pusat Aksi Keluarga atau the Family Action Centre (FAC) yang diketuai oleh Dr. Deborah Hartman adalah pusat penelitian, pengajaran dan praktik yang difokuskan pada keluarga dan masyarakat. Lembaga ini telah berdiri 30 tahun yang memiliki track record yang inovatif dan dinamis yang bertujuan untuk memperkuat keluarga dan kesejahteraan masyarakat. Aset dan sumber daya yang beragam dari keluarga dan masyarakat menjadi faktor mendukung eksistensi masyarakat, sehingga mereka hidup, kohesif dan tangguh. FAC berkomitmen untuk mengatasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan, jalur sosial dan pendidikan keluarga. Bahkan FAC mengajarkan ke dalam lebih dari 20 program sarjana dan pascasarjana serta menawrkan kursus untuk Graduate Certificate dalam studi keluarga dan Master of Studi Family. Lulusan studi keluarga ini membuat perbedaan di dunia, dengan melibatkan pembelajaran dari seluruh dunia untuk mendukung daerah lokal, keluarga dan komunitas mereka. Lembaga ini pun, telah menjadi pusat disiplin ilmu kesehatan dan memiliki sekitar 60 relawan mahasiswa yang berpartisipasi dalam program keluarga dan pelayanan kemanusisan di bidang pendidikan, kesehatan, dan

keluarga dan masyarakat jasa.18

 

Selanjutnya,  terdapat  juga  Asset  Based  Community  Development  (ABCD). ABCD lebih difokuskan pada upaya membangun hubungan kolektif dan mengatur kelompok dan orang-orang di komunitas untuk bertindak bersama-sama. Fokusnya adalah pada kekuatan atau kemampuan untuk bertindak secara kolektif dan efektif. ABCD ini merupakan suatu metodologi untuk pembangunan yang berkesinambungan dari masyarakat berdasarkan kekuatan dan potensi mereka. Ini melibatkan sumber daya, keterampilan, dan pengalaman yang tersedia dalam masyarakat serta menentukan dan

mengambil tindakan yang tepat.19 Pendekatan ABCD menggunakan beberapa alat untuk

 

menilai dan memobilisasi masyarakat.20

Memperhatikan integrasi Tridarma PT di University of Newcastle terlihat jelas bahwa upaya pengabdian pada masyarakat lebih terfokus pada pemberdayaan potensi

 

 

18Lihat    http://www.newcastle.edu.au/research-and-innovation/centre/fac/about-us,   diakses    8

Desember 2016, pukul 19.00 WIB

19John McKnight & John Kretzmann,. “Mapping Community Capacity (PDF)”, (Report) (Revised ed.). Evanston, (IL: Northwestern University Institute for Policy Research, 1996).

20John Kretzmann & John McKnight, Building Communities From the Inside Out: A Path Toward

Finding and Mobilizing a Community's Assets (3rd ed.), (Chicago, IL: ACTA Publications, 1993), hlm.

14.

 

 

lokal (desa). Program KKN yang baik adalah program yang benar-benar mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Mahasiswa tidak diharapkan hanya datang ke suatu desa lantas mengecat pagar, membangun tugu, dan sebagainya. Namun lebih   dari   itu,   mahasiswa   harus   memberikan   program   yang   bernilai   edukasi (pendidikan) dan impresi (kesan) yang pada akhirnya dapat berguna untuk kesejahteraan masyarakat dalam kurun waktu yang lama, sekalipun mahasiswa itu telah ditarik oleh kampus masing-masing.

Di  sinilah  pentingnya  Participatory  Rulal  Appraisal  (PRA)  adalah  sebuah metode pemahaman lokasi dengan cara belajar dari, untuk dan bersama dengan masyarakat dengan tujuan untuk mengetahui, menganalisis dan mengevaluasi hambatan dan kesempatan melalui multidisiplin dan keahlian untuk menyusun informasi dan pengambilan keputusan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, apabila dalam suatu desa memiliki  potensi  hortikultura  yang baik,  seperti  kelapa namun  belum  dioptimalkan potensinya  oleh  masyarakat,  maka  mahasiswa  harus  mengedukasi  masyarakat  agar dapat mengoptimalkan potensi tersebut. Mahasiswa harus kreatif bagaimana potensi kelapa ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagi PTAI, khususnya UIN Raden Fatah program KKN lebih difokuskan pada upaya pembinaan kehidupan beragama di masyarakat. Misalnya, mendirikan TKPA atau kelompok majelis taklim bagi desa yang belum ada TPA dan majelis taklimnya, membantu pelaporan administrasi yang baik bagi sekolah dan mengajar anak-anak sekolah di desa tersebut. Kemudian juga bisa diterapkan Kuliah Kerja Nyata (KKN)Tematik Posdaya Berbasis Masjid. KKN Tematik Posdaya Berbasis Masjid, difokuskan pada pemberdayaan keluarga berbasis masjid dengan memperhatikan beberapa indikator sebagai berikut: 1) bidang pendidikan, 2) bidang ekonomi, 3) bidang sosial, 4) bidang agama, 5) bidang budaya, 6) bidang kesehatan, 7) bidang lingkungan hidup, dan sebagainya.

Apa yang dijelaskan hanya sebagian contoh kecil ketika melaksanakan KKN. Namun   yang  terpenting  program  KKN,  kembali  lagi,  harus  bersinergi  dengan pendidikan dan penelitian yang lebih difokuskan pada upaya pemberdayaan potensi yang ada di dalam masyarakat desa di mana lokasi KKN itu dilaksanakan. Kalau tidak, program KKN itu hanya bersifat seremoni dan tanpa meninggalkan kesan bagi masyarakat  setempat.  Lebih  jauh, mungkin  untuk  UIN Raden  Fatah Palembang ke depan perlu merencanakan secara simultan dan terfokus pada masalah  penyelesaian konflik antar agama, penanganan bencana alam dan kegiatan dakwah bil hal lainnya.

 

 

Kini mungkin sudah kurang gaungnya ketika masalah pengabdian ini hanya terfokus pada masalah konvensional seperti ceramah agama, penyuluhan, lebih-lebih dilakukan pada masarakat yang relatif telah terdidik. Semua ini bukan berarti dihilangkan, tetapi hanya tidak menjadi titik fokus kegiatan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka UIN Raden Fatah Palembang sejak dini harus mempersiapkan dengan benar kader-kadernya yang tentu saja karena tidak lepas dari kelembagaan, maka seluruh sivitas akademika harus  siap  dan  mempersiapkan  diri  menyambut  kebutuhan  masyarakat  dewasa  ini. Lebih jauh secara akademik kurikulum harus berani memasukkan materi tentang bagaimana mengatasi konflik antar agama dan konflik sosial lainnya, bagaimana dengan cepat dapat memberikan bantuan penanggulangan bencana alam dan lain sebagainya yang sangat ramah dengan kehidupan manusia. Hal ini mengingat hidup dewasa ini sudah menggelobal dan tentu antara satu dengan lain negara hampir tidak ada jarak yang tidak dapat ditempuh. Kajian-kajian terhadap materi ini harus dilakukan secara inten dengan melibatkan para pakar yang betul-betul memang ahlinya.

Bahkan  UIN  Raden  Fatah  Palembang  tidak  boleh  lagi  menganggap  hal  ini remeh, jika tidak mau ditinggalkan orang. Untuk saat ini pengabdian tidak cukup hanya menggunakan istilah bahasa agama. Lebih dari itu, kegiatan pengabdian harus dilakukan dengan perencanaan yang betul-betul sempurna, manajemen yang baik dan tujuan yang jelas-jelas menyentuh kebutuhan hidup manusia.

 

D. Simpulan

 

Berdasarkan uraian di muka dapat disimpulkan bahwa Tridharma PT sebagai salah satu arah dan tujuan yang harus dituju dan dicapai oleh semua PT. Walaupun begitu Tridharma PT bukan hanya sebagai kewajiban dosen, tetapi mahasiswa juga memiliki tugas untuk mewujudkannya. Tridharma PT merupakan tiga pilar dasar pola pikir yang harus terbentuk, sehingga akan mendorong terciptanya inovasi-inovasi yang bermuatan karakter dari mereka di masa yang akan datang.

Pengadian pada masyarakat harus integrited dengan ranah pendidikan (pengajaran) dan penelitian. Pengabdian pada masyarakat yang baik adalah program yang benar-benar mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Mahasiswa tidak diharapkan hanya datang ke suatu desa lantas mengecat pagar, membangun tugu, dan sebagainya. Namun lebih dari itu, mahasiswa harus memberikan program yang bernilai edukasi (pendidikan) dan impresi (kesan) yang pada akhirnya dapat berguna untuk kesejahteraan masyarakat dalam kurun waktu yang lama, sekalipun mahasiswa itu telah ditarik oleh kampus masing-masing. Di sinilah pentingnya Participatory Rulal Appraisal (PRA) adalah sebuah metode pemahaman lokasi dengan cara belajar dari, untuk dan bersama dengan masyarakat dengan tujuan untuk mengetahui, menganalisis dan mengevaluasi hambatan dan kesempatan melalui multidisiplin dan keahlian untuk menyusun informasi dan pengambilan keputusan sesuai dengan kebutuhan

Dalam konteks UIN Raden Fatah Palembang ke depan sudah harus dipikirkan dan dirancang perencanaan pengabdian pada masyarakat tidak terbatas pada masalah- masalah pendidikan dan pembinaan agama an sich. Tetapi secara simultan dan terfokus pada masalah penyelesaian konflik antar agama, penanganan bencana alam dan kegiatan dakwah bil hal lainnya. Konsekuensinya, secara akademik kurikulum harus berani memasukkan materi tentang bagaimana mengatasi konflik antar agama dan konflik sosial lainnya, bagaimana dengan cepat dapat memberikan bantuan penanggulangan bencana alam dan lain sebagainya yang sangat ramah dengan kehidupan manusia.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Adil Basuki Ahza, “Penjelasan Tertulis Terhadap Pertanyaan-Pertanyaan SetJen DPR RI”. Makalah disampaikan pada Seminar Otonomi Peruguruan Tinggi Pasca Keputusan Mahkamah Konstitusi, tanggal 21 Februari 2011, Setjen DPR RI Gd Nusantara 1 Lt 2 DPR RI Jln. Jend Gatot Subroto, Jakarta.

Agussalim Sitompul, (ed), Metodokgi Pengabdian pada Masyarakat, (Yogyakarta: P3M IAIN Sunan Kalijaga,1993), hlm. 36.

Armida S. Alisjahbana, Otonomi Daerah dan  Desentralisasi Pendidikan, (Bandung: Universitas Padjajaran, 2000).

Departemen Pendidikaan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. II, Cet

9, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 1072 dan 210.

Hendra Gunawan, “Quo Vadis Perguruan Tinggi di Indonesia”, Sulistyowati Irianto (ed), Otonomi Perguruan Tinggi Suatu Keniscayaan, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012)

 
 

Jadwal Sholat

Untuk Palembang & Sekitarnya
 
Imsak04:32 WIB
Subuh04:42 WIB
Syuruq06:03 WIB
Dzuhur12:04 WIB
Ashar15:28 WIB
Maghrib18:03 WIB
Isya19:16 WIB
2°59'LS, 104°47'BT
Ketinggian : 10 m
Arah kiblat : 65°27' (U-B)

Berita Terkini

Indeks Berita

Pengumuman

Jadwal Presentasi Pembuatan Film Pendek Tahun 2018
15/05/2018 23:03:56

Hasil Seleksi Prestasi Akademik Nasional Tahun 2018
03/05/2018 04:01:53

Perubahan Jadwal Wisuda Sarjana ke-66 Tahun 2018
03/05/2018 03:45:27

Pengumuman Seleksi Beasiswa Program S1 PT LN TimTeng 2018
20/04/2018 21:47:04

Hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN Tahun 2018
18/04/2018 10:10:09

Pengumuman Lainnya