Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang  

IDEALISASI GANTI RUGI PEGADAIAN SYARIAH TERHADAP BARANG JAMINAN RAHIN YANG CACAT TERSEMBUNYI

Ditulis oleh : Dr. Holijah, SH, MH., | 22/03/2017 WIB

IDEALISASI GANTI RUGI PEGADAIAN SYARIAH

TERHADAP BARANG JAMINAN RAHIN YANG CACAT TERSEMBUNYI

 

 (Oleh: Dr. Holijah, SH, MH., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang, Jln. Prof.K.H.Zainal Abidin Fikry (30126), Email.holijah_uin@radenfatah.ac.id) (Paper telah di sampaikan dalam Seminar Internasional pada tanggal 3 Desember 2017 di UIN Raden Fatah Palembang dan di muat dalam Proceding:  Internasional Seminar”The Dynamics of Malay Islamic World in Responding to Contemporary Global Isssue”, ISBN 978-602-71703-4-6.)

Abstrak

Dengan adanya  pegadaian  syariah, masyarakat semakin banyak  pilihan  dalam memilih  sarana untuk mendapatkan dana pembiayaan terutama  dalam  memenuhi  kebutuhan  tertentu  yang  sangat   mendesak.  Keberadaan  dan  perkembangan   minat  masyarakat untuk  setiap   aktifitas  kehidupannya bersandarkan  pada  prinsip-prinsip  syariah  juga  menjadi  pedukung  bagi  keberadaan   pegadaian  syariah  sebagai salah satu  pembiayaan non  bank. Dukungan  pemerintah  sebagai  regulator dan pengawas  sangat  penting  untuk  menjaga rasa  aman   dan keadilan para pihak yang terlibat di pegadaian syariah terutama menyangkut perlindungan konsumen mengenai ganti rugi terhadap pengembalian  barang  jaminan  rahin  (pemberi  gadai)  yang  ternyata  mengandung  cacat  tersembunyi. Penelitian ini merupakan  penelitian hukum  normatif dengan sumber utama menggunakan data sekunder. Perlindungan  terhadap  ganti  rugi di pegadaian  syariah  di masa  yang  akan datang  sudah  selayaknya  menerapkan  prinsip  tanggung  jawab  mutlak (strict liability) dengan demikian dapat menyokong minat masyarakat untuk menggunakan  jasa  pegadaian  syariah.

Kata Kunci: Ganti Rugi, Perlindungan Konsumen, Pegadaian Syariah

Abstract:

With the sharia pawnshop, society have more and more way to choose financing fund especially  in  fulfill  the  urgent needs. The  excistence  and  the  development  of  society interest  for  every  daily  activities  based  on  the  sharia  priciple  becomes  the  support for the  excistence  of the  sharia pawnshop  as one  of  the  nonban k finance. The  support  from the  goverment as the regulator and the controller is very important to keep the sense of security and equirity  for  the people who involve in sharia pawnshop  especially in the concern  of  consumer  protection  about  the  loss  for returning  the  pledgor  guarantee  item, that contains the hidden defect. This research is the normative law research with secondary  data  as  the  main sources.  The protection   for  the  loss  in  sharia  pawhshop  in the future has to be  apply  the strict liability principle, therefore  it  can substain  the  society interest  for using  the  sharia  pawnshop.

Keywords: Loss, Consumer Protection, Sharia Pawnshop.

  1.  

              Perkembangan  perekonomian  yang  menglobal,  semakin berkembanganya  budaya  konsumtif dan  kebutuhan  masyarakat, bertambahnya jumlah buruh menganggur akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) saat ini yang mana menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2014, dari 37,17 juta jumlah penduduk Indonesia orang, yaitu 16,58% penduduk Indonesia masuk kategori miskin.Keadaan telah  berimplikasi pada salah satu  perubahan perilaku  masyarakat  yang  menggangap  bahwa masalah  utang  piutang  bukan  lagi  masalah  tabu dalam mencari dana pembiayaan.

              Mencermati permasalahan ini, pentingnya upaya alternatif  pemerintah  dalam  melindungi  dan membantu masyarakat  khususnya golongan ekonomi  lemah  menengah  ke  bawah. Upaya  tersebut  sebagai  upaya  agar   pelaku  usaha dan masyarakat  umumnya terhindar  dari  lintah  darat  ataupun  semacamnya  yang  menerapkan   sistem   bunga  tinggi  dan  tidak  jelas dalam memenuhi  kebutuhan  akan  dana  baik  untuk  keperluan konsumtif  induvidu  maupun  untuk  modal  usaha  para  pelaku  usaha  adalah  mutlak  ada,  sehingga  dapat  menjawab   tantangan   perekonomian  di  masa yang  akan  datang.

              Salah  satu  lembaga  pembiayaan  bidang  jasa  keuangan  yang banyak peminatnya  saat  ini  karena  prosedurnya  tidak  rumit  adalah  pegadaian,  sesuai  motonya, melayani  masalah  tanpa  masalah. Namun demikian  saat  ini  sudah  berkembang  jasa  usaha  gadai  swasta yang  berkembang di  masyarakat  bahkan  di  pinggir  jalan banyak  spanduk yang menawarkan jasa gadai swasta. Gadai swata  melakukan  praktik  mirip  seperti usaha  jasa  pegadaian  namun  aturannya tidak  jelas. Hal ini, tentunya akan sangat merugikan  konsumen.

               Lembaga gadai ini hadir sebagai satu bentuk jaminan kebendaan yang dimaksudkan untuk menjamin pembayaran piutang seorang kreditor secara didahulukan.Jasa pergadaian di Indonesia menunjukkan menunjukkan grafik yang terus meningkat. Meskipun demikan, pranata gadai masih di gunakan untuk pembiyaan konsumtif, seperti BRI Syariah hanya membukukan kisaran 11 persen untuk porsi pembiayaan gadai pada usaha produktif.

              Dengan adanya pegadaian masyarakat  dapat memperoleh  kredit  melalui  perjanjian   gadai. Isi  perjanjian  tersebut  tercantum  dalam Surat Bukti  Kredit (SBK) yang  antara  lain  berisikan  hak-hak dan kewajiban kreditur yaitu  Perusahaan  Pegadaian  untuk  menjaga dan  memelihara  barang jaminan  gadai  yang  ada  dalam  kekuasaannya. Pegadaian ini, sejak  berdiri pengelolaanya  adalah  pemerintah  sejak 1 Juni 2012, perusahaan  pegadaian  ini  berbentuk  Perseroan Terbatas  (PT).

             Gadai dalam  Pasal  1150  Kitab  Undang-Undang  Hukum  Perdata  (KUHPerdata), adalah,  “suatu  hak yang diperoleh  seseorang  yang  mempunyai  piutang  atas  suatu  barang bergerak. Dimana  barang  bergerak tersebut diserahkan  kepada orang  yang  berpiutang oleh  orang  yang  mempunyai  hutang  atau  oleh  orang  lain  atas  nama  orang  yang mempunyai  hutang”.  Sementara  itu,  transaksi  gadai  dalam  Fikih  Islam  terkenal   dengan istilah  ar-rahn  yang  secara  bahasa  berarti  tetap,  kekal  dan  jaminan. Adapun  gadai  syariah  (rahn)  itu  sendiri  adalah  adalah  produk  jasa  berupa  pemberian  pinjaman  yang  menggunakan  sistem  gadai  berdasarkan  prinsip-prinsip  syariat Islam. Menurut  Dewan  Syariah  Nasional (DSN), gadai  syariah  (rahn) adalah  menahan  barang  sebagai  jaminan  atas utang.

              Usaha  inti  pegadaian  adalah  memberikan  jasa  pembiayaan  berupa   KCA (Kredit Cepat Aman) kepada masyarakat  atas  dasar  hukum gadai. Pegadaian  yang  mengeluarkan  produk  jasa  berbasis syariah ini dinamakan Pegadaian Syariah. Saat ini, penerapan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan ekonomi bagi umat Islam sangat diharapkan, tidak saja bagi individu tetapi penerapannya secara serentak bagi umat Islam di Indonesia.Keberadaan produk-produk pegadaian syariah di Indonesia tentu akan terus meningkat, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Pegadaian syariah sebagai salah satu bentuk dari lembaga keuangan Islam memangku tiga amanah, yaitu amanah beroperasi secara syariah, keberpihakan kepada masyarakat miskin dan untuk menghasilkan laba, walaupun pemerintah pernah tidak mengizinkan pendirian lembaga perbankan syariah.

               Perbedaan  gadai  syariah  dengan gadai  konvensional  adalah adalah  dalam  hal  pengenaan  bunga. Operasional keberadaan penggadaian syariah yaitu yang dijalankan oleh kantor-kantor cabang   pegadaian  syariah/Unit  Layanan Gadai  Syariah (ULGS)  sebagai  satu  unit  sebuah organisasi di bawah  pembinaan  divisi  usaha  lain  PT  Pegadaian. Pegadaiaan syariah menerapkan beberapa sistem pembiayaan, yaitu qardhul hasan (pinjaman kebajikan),  mudharabah  (bagi hasil)  dan  muqayadah   (jual  beli).

            Konsep  pegadaian syariah mulai marak di Indonesia  secara  histirokal  adalah  berawal tahun 2000  di  mana  Bank  Muamalat  Indonesia (BMI)  pada  saat itu  menawarkan  kerjasama  dan  membantu  segi  pembiayaan  dan  pengembangan  melalui  pegadaiaan  yang berdasarkaan  pada  prinsip  syariah dan pada  tahun 2003  pegadaian  syariah  resmi  beroperasi dan Pegadaian Cabang Dewi  Sartika  menjadi  kantor cabang  pegadaian  pertama  yang  menerapkan  sistem  pegadaian  syariah. Respon masyarakat terhadap  pegadaian  syariah  menurut  survei BMI, dari  target operasional  tahun  2003 sebesar  1.55  milyar  rupiah. Pegadaian  syariah cabang  Dewi Sartika mampu  mencapai target  5  milyar  rupiah. Pada  2006  dari  target  omzet  sebesar  Rp 323 miliar, hingga September  2006  ini  sudah  tercapai  Rp 420 miliar dan  pada  akhir tahun 2006 omzet bisa mencapai  Rp 450   miliar.

               Konsep gadai  syariah dapat di lihat  di antaranya dalam QS. Albaqarah (2) ayat 283  yang  berbunyi:

Jika  kamu  dalam  perjalanan  (dan  bermu’amalah  tidak  secara  tunai)  sedang kamu  tidak  memperoleh  seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan  yang  di  pegang (oleh yang berpiutang). Akan  tetapi, jika   sebagian kamu  mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan  amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan  janganlah  kamu (para  saksi)  menyembunyikan   persaksian. Dan  barangsiapa  yang  menyembunyikan-nya,  maka sesungguhnya ia adalah orang yang   berdosa  hatinya, dan  Allah  Maha  Mengetahui  apa  yang  kamu  kerjakan.    

                Dalam Hadist riwayat Abu Huraira ra, berbunyi, “Barang gadai tidak boleh  disembunyikan dari pemilik yang menggadaikan, baginya resiko, dan hasilnya”. Nabi Muhammad  SAW sendiri  pernah  menggadaikan  baju  besinya  untuk mendapatkan makanan   dari  seorang  Yahudi.

                 Bank Islam sebagai pemegang gadai mengambil manfaat dari barang jaminan adalah sebagai imbalan atas pemeliharaan barang tersebut. Artinya, pihak bank akan mendapatkan manfaat langsung dari biaya-biaya konkrit yang harus dibayar oleh nasabah untuk pemeliharaan dan keamanan aset tersebut. Dengan   kata lain,   gadai   dalam  Islam memperbolehkan  selama  tidak  mendatangkan  kemudharatan   bagi  kedua  belah  pihak karena  ada  penghianatan   salah  satu  pihak  atau  kedua  belah  pihak  akibat transaksi utang  piutang  dengan  gadai  tersebut.

               Objek gadai dalam Hukum Perdata  hanya benda bergerak, dan objek gadai Pegadaian  Syariah  meliputi  benda  bergerak  maupun  tidak  bergerak  sebagaimana juga objek  gadai  menurut Hukum Islam.Dalam  praktik  perbankan  syariah  untuk  kemudahan,  keamanan, dan  nilai  ekonomis  barang  jaminan  tersebut, maka  jaminan  gadai  baik  berupa  benda  bergerak  dan  tidak  bergerak tersebut  mempunyai  karakteristik utama yaitu  mudah  di jaminkan  dan diuangkan.

               Memperhatikan  pendapat  fuqaha  mengenai  syarat  dari barang  yang  menjadi jaminan  dalam  gadai  syariah, dan  memperhatikan  kewajiban  kreditur  (murtahin)  kepada debitur (rahin) untuk mengembalikan barang yang menjadi barang jaminan sampai pelunasan hutangnya. Kemudian, berakhirnya akan rahin dapat terjadi salah satunya akibat rusak/cacatnya  barang  yang  digadaikan  oleh  tindakan/penggunaan murtahin.Berakhirnya akad rahn akibat rusaknya barang jaminan karena rusaknya barang jaminan yang menyebabkan berakhirnya  akad  rahin  akan  sangat menimbulkan  kerugian  debitur (rahin), apabila  tidak  jelas  bentuk  penyelesaian  ganti  rugi  bagi  debitur  (rahin)  dan tidak  adanya  hukum  yang  mengaturnya.

              Penuangan  transaksi  gadai  adalah  dalam  bentuk   perjanjian  gadai. Dengan adanya  perjanjian  gadai tersebut, maka  baik  kreditur (murtahin) dan  debitur (rahin) mempunyai  kewajiban  untuk  melakukan  prestasi  dari  akibat hak gadai dari perjanjian pokok yaitu hutang piutang sebagaimana dalam Pasal 1150 KUHPerdata dan 1157 KUHPerdata,”Si berpiutang  adalah  bertanggung  jawab  untuk  hilangnya  atau  kemerosotan  barangnya  sekedar  itu  telah   terjadi  kelalaiannya”. Ini  berarti  jika  salah satu  pihak  tidak  melakukan  isi  perjanjian  gadai,  maka  telah  terjadi  wanprestasi  perjanjian   gadai.

               Barang  jaminan rahin  yang  ada  pada  murtahin  adalah  merupakan  sebagai jaminan  utangnya,  apabila  setelah  berkahirnya  akad  gadai  ternyata  barang  jaminan ternyata  mengandung  cacat  tersembunyi, maka  sesungguhnya  rahin  dapat  menuntut  ganti  rugi  kepada  murtahin  karena  telah  terjadi  wanprestasi,  yaitu  tidak   menjaga barang   jaminan  sebagaimana  keadaan  barang  jaminan  sewaktu  penyerahan  kepada murtahin.  Adapun  suatu barang  atau  produk  barang  mengandung   cacat  tersembunyi apabila:

  1. Mengandung kecacatan yang melekat pada produk barang dan tidak ketahui oleh konsumen;
  2. Tidak dapat digunakan sesuai fungsinya;
  3. Berkurang manfaatnya;
  4. Tidak memenuhi syarat keamanan;
  5. Menimbulkan kerugian terhadap konsumen, seperti pada fisik, jiwa, lingkungan, harta yang bersifat fatal maupun ringan.

                Dengan  kata  lain,  apabila  barang  jaminan  dari  rahin  setelah  akad  gadai berakhir  dan  dikembalikan  kepada rahin  kembali  ternyata:

  1. Telah rusak berupa cacatnya barang jaminan;
  2. Tidak dapat digunakan sesuai fungsinya;
  3. Telah berkurang manfaatnya;
  4. Tidak memenuhi syarat keamanan lagi terutama untuk barang jaminan jenisbarang bergerak;
  5. Telah merugikan debitur (rahin) karena kemerosotan nilai barangnya.

              Kerugian  rahin  yang  merupakan  sekaligus  adalah  sebagai  konsumen  dari pemakai  jasa  pegadaian  syariah  berhak  untuk  menuntut  ganti  kerugian  akibat  adanya cacat  tersembunyi  pada  barang  jaminan  rahin  baik  rahin  maupun  murtahin  mengetahui ataupun  tidak. Adapun maksud kerugian itu adalah,  “hilangnya atau berkurangnya keuntungan  dari  penggunaan  suatu  barang  oleh  pihak  lain  yang  menyebabkan  adanya tanggung  jawab  pada pihak  penyebab  untuk  mengganti  kerugian  baik  secara materiil maupun   immateriil   yang  bersifat  subjektif”, yaitu  kerugian yang  nyata  di alami  baik berbentuk  materiil  yang  berupa  kerugian  nyata  yang  melekat  dari  adanya  kecacataan barang jaminan dan kerugian immaterial, seperti biaya perbaikan bahkan mungkin kemungkinan  cidera  fisik  dan  hilangnya  jiwa.  

              Rahin   sebagai   konsumen  dapat  menuntut  ganti   rugi  terhadap  murtahin  dengan tuntutan  tanggung  jawab  mutlak selama  pihak  pegadaian  (murtahin) tidak  dapat membuktikan   bahwa   cacat tersembunyi  dari  barang  jaminan rahin  tersebut  penyebabnya  oleh  rahin  itu  sendiri. Untuk  itu,  rahin  sebagai  pemakai  jasa  pegadaian  harus  mendapatkan  perlindungan  sebagai  konsumen  yaitu  untuk  dapat  menuntut  ganti  rugi  akibat  barang  jaminan  menjadi  cacat  yang  menjadi  tanggung  jawab  murtahin  sebagai  pelaku  usaha  sebagai  pelanggaran  jaminan (breach of warranty)  dari  perjanjian  gadai. 

               Indonesia telah  memberikan perlindungan terhadap konsumen, termasuk  juga mengenai tentang tanggung jawab ganti rugi, kompensasi dan penggantian terhadap konsumen sebagaimana  yang  tertuang  dalam  Pasal  4 haruf  (h)  Undang-Undang Republik  Indonesia Nomor 8 Tahun Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Transaksi   pegadaian  syariah  yang  tertuang   dalam  perjanjian  gadai  yang  mana  melalui perjanjian gadai tertuang apa yang menjadi kewajiban-kewajiban dari pelaku usaha sebagaimana  isi  dari  perjanjian  dan  undang-undang. Akan  tetapi,  apabila  dalam  kontrak/perjanjian  tersebut  apa  yang  menjadi  kewajiban  pelaku  usaha  tidak  jelas, maka  kewajiban   pelaku  usaha  berdasarkan   ketentuan  undang-undang  yang  berlaku  termasuk Undang-Undang  Republik  Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.  Untuk  kontrak  yang  ada  pengecualian  ketentuan  kewajiban  dari  undang-undang,  adalah mengembalikan  kepada  isi  kontrak  tersebut.

               Minat  masyarakat  terhadap  pegadaian  syariah  hendaknya pemerintah mendukung  dengan  adanya  perlindungan  bagi  rahin  sebagai  konsumen  yang  dapat menjadi  acuan  dalam  mekanisme  pengintegrasian  yaitu  melindungi  kepentingan induvidu atau  kelompok  secara  proposional,proposional mengenai keadilan  bagi  lembaga pegadaian  syariah, rahin  dan  murtahin, sehingga gadai ini menjadi produk keuangan syari’ah yang cukup menjanjikan.

               Untuk itu  dalam  paper  akan membahas  lebih  lanjut  mengenai  peranan pengaruh  adanya jaminan ganti  rugi  akibat  cacat  tersembunyi dari barang  jaminan rahin, dan pengembangan bentuk-bentuk ganti rugi yang ideal (sesuai)bagi murtahin yang  menyerahkan  barang  jaminan  yang  mengandung  cacat  tersebunyi  kepada  rahin  pada  akad  perjanjiaan  gadai  berkahir,  sehingga  harapan  rahin  sebagai  konsumen  dapat  terlindungi   untuk   mendapatkan  pembiayaan dengan  rasa  aman.

  1.  

            Penulisan  paper  ini  berbasis  pada penelitian  hukum  normatif/penelitian  hukum doktrinal, yaitu  penelitian  hukum  yang  dilakukan  dengan  meneliti  data  sekunder,  atau  penelitian hukum kepustakaan.Pada tulisan ini peneliti mengkonsepsikan sebagai kumpulan  norma-norma  positif  dalam  kehidupan  masyarakat.

             Dalam penelitian ini, menggunakan bahan hukum  yang  bersifat  normatif-preskriptif  untuk  melengkapi fakta  kemasyarakatan yang  bersifat  empris-deskriptif. Bahan  hukum  terdiri  dari  bahan  hukum primer,  bahan  hukum  sekunder  dan  bahan hukum  tersier  dan  studi   dokumen.

             Adapun teknik  pengumpulan  data  menyangkut  penelitian  ini adalah menggunakan  metode  penelitian  kepustakaan  (liberaryresearch)  yaitu   pengumpulan  data  dari  bahan-bahan  pustaka. Adapun  sumber  datanya  adalah  Al-quran, Hadis,  Fatwa Dewan  Syariah  Nasional, buku-buku, jurnal dan laporan  penelitian. Kemudian  data  yang  terkumpul   dianalisis  dengan  menggunakan  pendekatan  kualitatif  sebagaimana  sifat penelitian  ini   yaitu  deskriptif   analitis.

  1.  

3. 1.  Pengaruh Jaminan Ganti Rugi  terhadap  Perkembangan Pegadaian Syariah  

             Manusia  senantiasa  akan  mengalami  perubahan dinamis  dari  waktu  ke  waktu dalam  segala  segi  kehidupan. Perkembangan   manusia  merupakan  juga  perkembangan  pola hubungan  sosial  sebagai  wujud  dari   eksistensi  manusia  sebagai   mahluk  pribadi  dan sosial  yang  selalu  bersosialisasi dengan berbagai perkembagan perubahan sosial di sekelilingnya.Perkembangan  manusia  dalam berbagai  bidang  kehidupan  tidak  terlepas dari pengaruh era globalisasi, tekhnologi, dan  ilmu  pengetahuan sehingga  berpengaruh terhadap  bidang  ekonomi, sosial  dan  lain-lain  termasuk  persoalan-persoalan  hukum, sehingga  memerlukan  pemikiran  formulasi  hukum  dalam  menjawab  berbagai  persolaan  yang   berkembang.

              Perubahan sosial mutlak ada bagi perkembangan aktifitas manusia yang berimplikasi  terhadap  nilai  dan  hukum. Perkembangan  dunia  pegadaianpun  adalah  juga merupakan pengaruh  dari  adanya  perubahan  nilai  dalam   masyarakat  untuk  mendapatkan  dana pembiayaan atau utang  dengan  prosedural  yang  cepat  dengan  menjaminkan  barang  yang  ada  secara  aman karena  ada  kewajiban  untuk  menjaga  barang  jaminan  sampai  utang  lunas.  Hal ini di sebabkan dalam aplikasi dari produk gadai (rahn) tersebut memiliki kombinasi akad di dalamnya, yaitu transaksi di mana satu pihak menerima pinjaman dengan akad (qardh) dengan jaminan tertentu. Jaminan tersebut kemudian dipelihara pihak pemberi jaminan dengan menggunakan akad sewa-menyewa (al-ijârah), pihak pemelihara (murtahin) memungut keuntungan dari proses pemeliharaan.

             Perkembangan  selanjutnya,  minat  masyarakat  untuk  menggunakan  jasa  pegadaian  kemudian  juga  mengikuti  keinginana  untuk  ada  perlindungan  hukum  dalam  bertransaksi di pegadaian. Minat  masyarakat  terhadap pengadaian mengalami perkembangan  baik  mengenai  nilai-nilai  maupun  sistim  hukum  aturan  pegadaian  sesuai  perkembangan  keinginan masyarakat. Hal  ini  selaras  dengan  pendapat  Soerjono Soekanto  berdasarkan  pendapat  Arnold  M. Rose  tentang   teori  perubahan  sosial  yang  berhubungan  dengan   perubahan  hukum  bahwa   perubahan   hukum   itu  akan  dipengeruhi  oleh  tiga  faktor, yaitu:

  1. Adanya kumulasi progresif dari penemuan-penemuan dibidangteknologi;
  2.  
  3.  

             Keingianan   masyarakat  muslim  yang dominan di  Indonesia  untuk  setiap  aktifitas  kehidupannya termasuk  dari adanya  keberadaan  pegadaian Indonesia  berkembang  untuk  menerapkan  keinginan penerapan  pegadaiaan  yang  sudah  lama  berkembang saat  ini  untuk  kemudian adanya  keinginan pegadaian  yang  menerapkan  prinsip-prinsip  syariah. Transformasi ke arah keterbukaan pada pembaharuan yang terintegarasi dalam  mewujudakan masyarakat global yang berkeadilan adalah sangat diperlukan untuk membangun perkembangan pegadaiaan syariah di Indonesia. Filsafat maqasid al-syariah  sebagai  mekanisme  pemikiran  pembaharuan  sistem  hukum ekonomi Islam, yaitu  antara  lain  dalam  pengembangan  kegiatan  pegadaiaan syariah.

             Pertumbuhan  ekonomi  penting, akan tetapi tidak cukup  untuk  mencapai  kehidupan  manusia  yang  baik  (fallah)  yang juga  ada  peningkatan  ketenangan  jiwa  atau  kesehatan  spiritual  setiap  induvidu,  keadilan,  perilaku  yang  baik  dan  menurunya  tingkat  kejahatan.Sesungguhnya,  keberadaan  Islam sebagai  agama nomor dua  di  dunia  merupakan  salah  satu  potensi  besar  untuk  mengembangkan  prinsip-prinsip  syariah  di  bidang  ekonomi. Di mana penganutnya  hampir  mencapai 1,5  milyar  orang  atau  sekitar  25  persen  dari  jumlah  penduduk  dunia  yang  tersebar sekitar 1,1 tinggal di  empat  puluh  lima  negara  yang  berpenduduk  mayoritas  muslim  dan  sekitar  400  juta  lainya berada di 149  negara  sebagai  minoritas.

              Saat ini, perlunya pengembangan  inovasi  instrumen  keuangan, akad-akad transaksi dalam  produk-produk syariah. Hal ini sangat perlu pembaharuan-pembaharuan  sebagai  akibat perkembangan industri keuangan syariah itu  sendiri. Namun demikian  keberlakuaan  Hukum Islam di bidang ekonomi  syariah  di  Indonesia  mempunyai  tahapan  pemberlakuan,  yaitu:

  1.  
  2.  

             Dalam  pandangan Islam  dalam  berbisnis tidak  semata-mata  untuk  mendapatkan  keuntungan, akan tetapi juga  dalam  mendapatkan  keuntungan itu  dengan  tidak  merugikan  orang  lain sebagai  konsumen.Oleh  karena  itu, akad perjanjian pegadaian sayriah  harus  juga  memuat  tentang  tanggung  jawab  pihak  pegadaiaan  untuk  bertanggung jawab  mutlak  atas  resiko  kerugian  rahin sebagai konsumen.

               Selanjutnya, jaminan  ganti  kerugian  dari  pegadaian  syariah  seharusnya tertuang dalam akad  gadai. Dengan demikian,  menunjukkan bahwa  kepentingan  pribadi  yang  benar  adalah  mengharuskan  hasrat  keinginan harus  dibatasi. Ini artinya, pihak  pegadaiaan syariah  mempunyai  kesempatan  seluas-luasnya  untuk mengembangkan  bentuk-bentuk  jasa  pengembangan  usahanya dalam mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, dalam  mengembangkan usaha  untuk  mendapatkan   keuntungan  juga  tidak   boleh   menyebabkan  rahin  merugi   dengan   memanfaatkan  keinginan  rahin   untuk  mendapatkan  pembiayaan  yang  cepat, sehingga  tidak  ada  jaminan  akan  adanya  ganti  rugi   jika  terjadi  sesuatu  yang menyebabkan  barang  jaminan itu  menjadi cacat  terkhusus  kerugiaan  dari adanya cacat tersembunyi.

              Untuk itu, permasalahan perlindungan dari gadai pada waktu setelah jatuh tempo adalah juga urgen, di mana rahin berhak menerima barang yang menjadi tanggungan hutang dan wajib membayar kembali hutang.Sementara itu, murtahin berhak menerima pembayaran hutang dengan ke-wajiban menyerahkan barang utuh tanpa cacat.Memperhatikan pentingnya perlindungan ini, maka praktik  pernyataan  kesepakatan  dalam  akad  rahn, sudah  selayaknya  memuat  juga  tentang   kesepakatan  tentang  klausul  bentuk-bentuk   jaminan  terhadap   barang  jaminan rahin.  Meskipun demikian, jika  pada  akhirnya jika ada  sengketa  antara rahin dengan  pihak  pegadaiaan  bahwa   dalam   akad  tersebut  terbukti  ada  ketidakadilan  bagi  rahin  akan  dapat  juga  mengajukan  adanya perbuatan   melanggar  hukum  untuk  menuntut   pihak   pegadaiaan.  

             Oleh  karena  itu, di  masa yang  akan  datang, ada  ataupun  tidaknya  wanprestasi  dari  isi  akad  rahn  dan   perbuatan   melanggar  hukum  dari  pihak  pegadaian,  harus  tetap  bertanggung   jawab  mutlak  atas  kerugian  rahin.  Pihak  pegadaian syariah  sebagai  pelaku usaha harus bertanggung jawab terhadap resiko  usahanya  bukan  hanya  berlandaskan  pada  aturan  perundang-undang  yang berlaku, namun juga  mempunyai  tanggung  jawab moral  dan etika  sebagai  pembisnis.  Hubungan  rahin  dengan  pihak  pegadaian  adalah  hubungan  yang  saling  membutuhkan. Pihak  rahin  mendapatkan  dana  pembiayaan, sementara  pihak  pegadaian  syariah  mendapatkan  keuntungan  dari  jasa  ijarah  dan  biaya   administarsi  dari   rahin.

              Pengaturan tentang  ganti  rugi  di pegadaian  sayariah  sendiri  sendiri  masih  dalam  bentuk fatwa ulama sebagai  pedoman. Untuk  itu,  pemerintah   sebagai  regulator  untuk  menindaklanjuti dari  fatwa  ulama  terutama Fatwa DSN No.43/DSN-MUI/VIII/2004 tentang Ganti  Rugi  (Ta’widh) untuk  mempunyai  kekuatan  mengikat   baik   melalui  Surat  Edaran ataupun bentuk undang-undang. Kekuatan mengikat hukum akan sangat  mempengaruhi  perlindungan  hukum  terhadap rahin, terutama  dari  praktik-praktik  bisnis  yang  tidak jujur  (unfair business practices).

              Akibat  barang  jaminan  rahin   yang  mempunyai  cacat  tersembunyi  tersebut, akan  berdampak  sangat  merugikan  rahin  bukan  materi  bahkan  bisa  nyawa  terutama  barang-barang  jaminan  yang  berhubungan  dengan  elektrolik.  Peran  pemerintah  sebagai  pengawas  adalah untuk pemastian terpenuhinya hak dan  kewajiban  dalam  usaha pegadaian  ini mutlak ada, pengawasan berguna untuk mempersempit kemungkinan adanya  pelanggaran  terhadap  ketentuan-ketentuan yang  berlaku.

              Dengan kata lain, perlunya  penegakan  hukum perlindungan konsumen, selain karena kondisi  konsumen  di Indonesia masih sangat  lemah perlu pembedayaan agar  posisinya tidak  selalu  dirugikan, selain  itu  sikap  pemerintah  yang  umumnya masih  melindungi  kegiataan  perekonomian-perekonomian   yang   menjadi  esensil  pembangunan  yang  memerlukan  dukungan permodalan untuk  kelancaran dunia usaha di Indonesia. Akibatnya banyak ketentuan-ketentuan yang  seharusnya  dapat  berfungsi  memberikan  perlindungan terhadap  konsumen  justru kurang  berfungsi  karena penerapannya tidak secara ketat.

             Sesungguhnya, setiap konsumen  mempunyai  berbagai  hak,  yaitu  hak  sebagai  manusia  yang  perlu  hidup, hak konsumen sebagai  subyek hukum  dan  warga  negara  yang  bersumber dari  undang-undang/hukum  serta hak konsumen  sebagai  pihak-pihak dalam  kontrak. Pemberian ganti  rugi  dalam  praktik  pegadaiaan selama  ini  dengan  menetapkan ganti  rugi  kepada pemberi  gadai (rahin)  sebesar 125% dari taksiran harga barang  jaminan   pada   saat penyerahan.

              Besaran ganti rugi 125 % untuk semua jenis   barang  jaminan  apabila  ada kerusakan  atau  kehilangan  belum  memberikan  kepuasaan  bagi  pemberi gadai  (rahin). Hal  ini  penetapannya  sama  untuk  semua jenis barang jaminan, penentuannya  besarannya hanya  sepihak.  Berdasarkan  fakta  ini  dengan  jenisi-jenis  barang  yang  menjadi barang  jaminan   gadai   syariah  akan  terlihat  perbedaaan  resiko  kemungkinana  rusak/cacat, yaitu:

  1. Barang-barang atau benda perhiasan, antara lain: emas, perak, intan, berlian, mutiara, platina dan jam;
  2. Barang-barang berupa kendaraan seperti mobil (termasuk bajaj dan bemo), sepeda motor dan sepeda biasa (termasuk becak);
  3. Barang-barang elektronik, antara lain, telivisi, radio, radio tape, video, komputer, kulkas, dan mesin tik;
  4. Mesin-mesin seperti mesin jahit dan mesin kapal motor;
  5. Barang-barang keperluan rumah tangga seperti :
  • Barang tekstil, berupa pakaian, permadani atau kain batik,
  • Barang pecah belah dengan catatan bahwa semua barang yang dijaminkan harus dalam kondisi (masih mempunyai nilai jual).

            Kemudian  dengan  memperhatikan  jaga  masalah  manfaat  dari  pegadaian  syariah  baik  bagi  bank  yang  menjalankan  unit  pegadaiaan  syariah, adalah :

  1. Menjaga kemungkinan nasabah untuk lalai atau bermain-main dengan fasilitas pembiayaan yang diberikan bank tersebut;
  2. Memberikan keamanan bagi semua penabung dan pemegang deposito bahwa dananya tidak akan hilang, apabila nasabah peminjam ingkar janji karena ada suatu aset atau barang jaminan(marhun)di bank;
  3. Penerapan rahn dalam mekanisme penggadaian, akan sangat membantu masyarakatyang kesulitan dalam dana terutama di daerah-daerah.

             Dengan demikian, perlindungan rahin akan adanya jaminan ganti rugi terhadap  adanya  barang jaminanan  yang  mengandung  cacat  tersebunyi  sangat  perlu  penerapannya. Untuk itu  pemerintah   harus  berperan  aktif  untuk  mewujudkan perlindungan  hukum  ganti rugi  bagi  rahin dan  pegadaian  syariah  itu sendiri. Perlindungan  hukum  suatu  negara  akan  berjalan  baik  apabila   penegakan   hukum   dalam   negara  tersebut  juga  berjalan  dengan  baik. Untuk Indonesia  sebenarnya lebih  efektif  saat  ini adalah  melalui  pemerintah itu sendiri  sebagaimana Riant Nugroho, mengatakan bahwa:

There are four models of implementation which are developed in most developing countries : government alone, govermnent as the dominant actor and people as minority patner, goverment as minority partner and people as the dominant actor, and people alone. Indeed, the first implementer is always government but we take into account to the overall process.

             Urgennya  perlindungan  akan  adanya  jaminan  ganti  rugi  terhadap  barang jaminan  (marhun)  ini sesungguhnya  adalah  untuk  kemanfaatan   bagi  pemberi  gadai  dan pihak  pegadaian  syariah  yaitu:

  1.  
  •  
  •  
  1.  
  •  
  •  

              Implikasi  dari  adanya  perlindungan  yang  mengikat  mengenai  jaminan  ganti  rugi  bagi  rahin terutama dari adanya pengembaliaan barang jaminan rahin yang  mengandung  cacat  tersembunyi  adalah  rasa  aman. Rasa aman dalam  menjalankan  pegadaiaan  bagi  baik  pihak  pegadaian  itu  sendiri  maupun  bagi  pemberi gadai, maka  dengan  sendiri  upaya  pemerintah dalam menghadapi  tantangan  era globalisasi  yang  memerlukan  berbagai  langkah alternatif  untuk  dapat  memberikan  kontribusi  menjawab  tantangan  perekonomian  di  masa yang akan datang  akan  terwjud   dengan   semakin  tumbuhnya  kepercayaaan  masyarakat   pada  pegadaian  syariah.

3. 2. Gagasan Pemikiran tentang Bentuk-Bentuk Ganti Rugi dari Pengembalian Barang Gadai Jaminan yang Mengandung Cacat Tersembunyi bagi Rahin di Pegadaiah  Syariah

             Agama  Islam  mengajarkan  agar  saling  membantu  sesama  manusia untuk tujuan  kemaslahatan. Kemaslahatan merupakan salah satu tujuan dari syariat Islam. Saling membantu dapat  berwujud  dalam  bentuk  yang  berbeda-beda, baik berupa pemberian tanpa  ada  pengembalian, seperti zakat, infak dan  shadaqah, maupun  berupa  pinjaman yang  harus  dikembalikan   kepada   pemberi  pinjaman  adalah  gadai.

            Pada pegadaian syariah yang menjadi barang jaminan tetap milik orang yang mengadaikan, tetapi penguasaannya ada pada pegadaian. Akad gadai menimbulkan  tanggung jawab bersama, yang menggadaikan barang berarti mempunyai utang dan  bertanggung  jawab melunasi  utang. Selanjutnya, yang memberi gadai utang juga harus menjaga  keutuhan  barang  jaminannya, dan apabila  utang  telah lunas  maka  penahanan  barang  jamina  tidak  boleh  lagi karena akad telah berakhir dengan sendirinya. Apabila telah jatuh tempo pembayaran utang, maka pemegang gadai wajib pula menyerahkan barang gadai dengan segera kepada pemilik barang gadai tersebut.

             Dalam   pegadaian  syariah   barang  jaminan  harus  memenuhi  ketentuan  ketentuan- sebagai berikut :

1.    Barang  yang  tidak  boleh  dijual  tidak  boleh  digadaikan. Artinya  barang yang  digadaikan diakui oleh asyarakat memiliki nilai yang bisa dijadikan jaminan;

2.    Tidak  sah  menggadaikan  barang  rampasan  atau  barang  yang  pinjam dan semua barang  yang  diserahkan  kepada  orang  lain  sebagai  jaminan.

             Hak  penerima  gadai  (murtahin)  dalam  hal  ini  adalah  pegadaian syariah, adalah:

  1. Apabila rahin tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo, murtahin berhak untuk menjual barangjaminan (marhun);
  2. Untuk menjaga keselamatan marhun, pemegang gadai berhak mendapatkan penggantian biaya yang dikeluarkan;
  3. Pemegang gadai berhak menahan barang gadai dari rahin, selama pinjaman belum dilunasi;

   Adapun   hak   pemberi   gadai/konsumen  (rahin), adalah:

  1. Setelah pelunasan pinjaman, rahin berhak atas barang gadai tersebut;
  2. Apabila terjadi kerusakan atau hilangnya barang gadai akibat kelalaian murtahin, rahin  menuntut ganti rugi atas marhun (barangjaminan);
  3. Setelah dikurangi biaya pinjaman dan biaya-biaya lainnya, rahin berhak menerima sisa hasil penjualan marhun;
  4. Apabila di ketahui terdapat penyalahgunaan marhun (barang jaminan) oleh murtahin, maka rahin berhak untuk meminta marhunnya kembali.

              Sementara  itu,  kewajiban  dari  pegadaian (murtahin)  adalah:

  1. Apabila terjadi sesuatu (hilang atau cacat) terhadap marhun akibat dari kelalaian rahin maka rahin harus bertanggung jawab;
  2. Tidak boleh menggunakan marhun untuk kepentingan pribadi;
  3. Sebelum diadakan pelelangan marhun, harus ada pemberitahuan kepada rahin.

             Kewajiban  dari  pemberi  gadai/konsumen  (rahin)  adalah;

  1. Melunasi pinjaman yang telah diterima serta biaya-biaya yang ada dalam kurun waktu yang telah ditentukan;
  2. Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan rahin tidak dapat melunasi pinjamannya, maka harus merelakan penjualan atas marhun pemiliknya.

          Rahin  yang  mengadaikan  barang   untuk mendapatkan  dana  pembiayaan  akan  akan mendapatkan  Surat  Bukti  Rahn (gadai) serta  akad pinjam-meminjam yang  terkenal  dengan  istilah  Akad Gadai  Syariah  dan  Akad  Sewa  Tempat  (Ijarah).  Dalam  akad  gadai  syariah  memuat  hak dan  kewajiban  masing-masing  dari rahin dan murtahin, sementara  dalam  Akad Sewa Tempat (ijarah) memuat  kesepakatan  antara penggadai (rahin)  dengan  penerima  gadai (murtahin)  untuk  menyewa  tempat   untuk   penyimpanan dan  penerima  gadai  akan  mengenakan  jasa  simpan. Besaran  tarif   ijarah   adalah  Tarif berdasarkan   besaran   nilai   taksiran  barang   jaminan  atau  marhun  dengan   kelipatan  10 hari,  1  hari  di  hitung  10  hari.

              Kemudian, permasalahan  tidak terpenuhinya kewajiban dari pegadaian  syariah  mengenai  jaminan  atas  keselamatan  barang  jaminan dari  rahin, maka,  menurut  para ulama Syafi’iah dan Hanabilah  bahwa  masalah  resiko  kerusakan murtahin  tidak bertanggung jawab  atas  rusaknya barang  gadai  jika tidak  di  sengaja. Sedangkan ulama Hanafiah  berpendapat  adalah  menjadi  tanggungan  murtahin  sebesar  harga barang  minimum, terhitung  mulai  pada waktu  penyerahan  barang   gadai  kepada  murtahin sampai   barang   tersebut   rusak. 

               Permasalahan  ganti  rugi  dalam  pegadaian  sebagaimana yang  termaktub  dalam ketentuan  ganti  rugi  sebesar  125%  yang  terncantum  dalam  klausul  perjanjian di belakang Surat  Bukti  Kredit  (SBK), adalah   ketentuan  sepihak  dari  pegadaian.  Ganti  rugi  di  pegadaian  memberikan  rasa  keadilan  baik  secara  material  maupun  immaterial. Besaran   ganti   rugi  tidak  mencerminkan  prinsip  keadilan  seperti  yaitu  jumlah  ganti  rugi   yang  tidak  mencukupi  untuk  membeli  kembali  barang  jaminan yang sama dan  secara  psikologis  dan historis,  kondisi  barang  jaminan tersebut  tidak  dapat  kembali  seperti   bentuk   aslinya  karena  terlalu  rendah   tidak   sesuai   harga   pasar   yang   berlaku.

                Memperhatikan   permasalahan ganti  rugi  dari  barang  jaminan  rahin  kepada  pegadaian   yang  belum  memberikan  rasa  keadilan   terutama  jika  penyerahan  barang  jaminan rahin  mengandung cacat  tersembunyi   harus  ada  perlindungan   yang  berkepastian   hukum. Di  mana  barang  jaminan  (marhun) yang  berfungsi  sebagai  jaminan atas  hak  penyerahan uang. Dengan  demikian,  status  barang  gadai  selama  berada di  tangan  pemilik  uang  adalah  sebagai  amanah  dan  harus   menjaga   sebaik-baiknya. Ini  artinya  pihak   pegadaian   harus   memberikan  ganti  rugi  terlepas  adanya  kesalahan ataupun  tidak  ada  kesalahan  selama  rahin   dapat  membuktikan  barang  jaminan   yang  telah  di  kembalikan  kepadanya  cacat  tersembunyi   bukan  rahin  penyebabnya.  Dengan  kata  lain  pihak  pegadaiaan  mempunyai   tanggung  jawab  mutlak  (strict liability) bertanggung  jawab  penuh  terhadap   barang  jaminan  rahin   selama   di  pegadaiaan  sampai   rahin   menerima   kembali  barang  jaminan  tersebut. 

                Tanggung  Jawab  mulak  ini  adalah  merupakan  upaya  perlindungaan  konsumen  yang  patut penerapannya. Secara implisit prinsip tanggung jawab mutlak ini dapat ditafsirkan  dari  isi  Pasal  19  ayat  (1),   Pasal 28,   Pasal  9  ayat  (1)  huruf  (f),  Pasal  11 huruf  (b)  dan  Pasal  4  haruf (h). Adanya  tanggung jawab  mutlak  dari  pihak  pegadaian  ini merupakan  bentuk  amanah  dari  rahn  itu sendiri.  Adanya  tanggung  jawab  mutlak  adalah  untuk  keuntungaan  kedua  belah  pihak  baik  untuk  rahin, yaitu  rahin  merasa  aman untuk  menggadaikan  barangnya maupun  murtahin   karena  rahin  akan   semakin   mempercayaai    pegadaian  yang  pada  akhirnya menunjang  perkembangan  perekonomian  bangsa.

                  Tanggung  jawab  pegadaian  terhadap  barang  jaminan  rahin  adalah  merupakan  tanggung  jawab  mutlak   ascetsisme  responsif  subjektif   pelaku  usaha, bahwa  tanpa   menghilangkan   kesempatan   pihak  pegadaiaan  untuk  mendapatkan  keuntungaan  dari  usaha  pegadaiannya,  akan  tetapi  juga   bertanggung  jawab  terhadap  barang  jaminan  rahin   sebagai  resiko  dari  pihak  pegadaian  termasuk   akibat   barang  jaminan  rahin  cacat   tersembunyi   yang   merugikan  rahin.  Penerapan   prinsip   tanggung   jawab  mutlak  terhadap pihak  pegadaiaan  termasuk   pegadaian  syariah  ini  berlaku  selama  pihak  pegadaiaan  tidak  dapat  membuktikan  cacat  tersebunyi  barang  jaminan  rahin  tersebut  adalah  bukan  karena  pihak  rahin  terlepas  dari  adanya  kesalahaan  atupun  tidak  ada kesalahan  pihak  pegadaain.  Akan tetapi  rahin  hanya  menuntut  ganti  kerugiaan  nyata  (subjektif)  saja  yang  benar-benar  telah  menimpa  rahin. Bagi  pihak  pegadaiaan  tetap  ada force majeure  sebagai  pembelaaan  diri  pelaku  usaha.

                Pengecualiannya  dari  adanya   tuntutan   ganti  rugi   barang  jaminan  yang  mengandung  cacat   tersembunyi, di antaranya  adalah:

  1. Terbukti rahin menjaminkan barangcacatsejak penyerahanmarhuntersebut;
  2. Terbukti tidak mungkin akan terjadi kerugian rahin ditinjau dari keadaan barang jaminan baik secara teknis maupun secara alamiah terhadap barang jaminantersebut atauforce  majeure;
  3. Terbukti kerugian yang di alami rahin merupakan akibat perbuatan dari rahin itu sendiri;
  4.  

                Gagasan  pemikiran   untuk  menuntut  kerugian  dari  adanya  kerugian  rahin akibat  pengembalian  marhun   yang  cacat  tersembunyi  adalah   selaras  dengan  Fatwa Dewan  Syariah  Nasional  No.43/DSN-MUI/VIII/2004  tentang  Ganti  Rugi  (Ta’wid),  bahwa  kerugian  yang  benar-benar di  alami  secara  riil  oleh  para  pihak  yang  bertransaksi   karena   wanprestasi   atau   karena   kelalaian   akan   menimbulkan  kewajiban  bagi   pihak   yang   menimbulkan   kerugian   tersebut   untuk  membayar  ganti   rugi.  Bentuk  ganti  rugi  dalam  Fatwa Dewan  Syariah  Nasional  No.43/DSN-MUI/VIII/2004  tentang  Ganti   Rugi  (Ta’wid),  adalah   sebagai   berikut:

  1.  
  2. Biaya-biaya rilldalamrangkapenagihanhakyangseharusnyadi bayarkan.

Bentuk  ganti  rugi  dalam  Pasal  19  ayat  (2) Undang-Undang Republik  Indonesia  Nomor  8  Tahun  1999  tentang  Perlindungan  Konsumen, adalah:

  1. Pengembalian uang atau;
  2. Penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau;
  3. Perawatan kesehatan dan/atau;
  4. Pemberian santunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

               Hakekat  ganti  rugi,  sesungguhnya  adalah  untuk:

                1.     Pemulihan hak-haknya yang telah dilanggar;

2.     Pemulihan atas kerugian materiil maupun immaterial yang telah  dideritanya;

3.     Pemulihan pada keadaan semula.             

               Oleh karena di  masa  yang  akan  datang agar  para  pihak  yang  terlibat  dalam trasaksi di  pegadaian  termasuk  di  pegadaian  syariah  tidak  merasa  ada  pihak-pihak  yang dirugikan  maka  pentingnya  penerapan prinsip  tanggung  jawab  mutlak  bagi  pihak  pegadaiaan  untuk  bertanggung jawab  atas  semua  kerugian  subjektif  yang benar-benar  nyata telah menimpa  rahin  baik  material  maupun  immaterial. Adapun  mengenai  bentuk  ruginya  sesuai  kesepakatan antara rahin  dan  pihak  pegadaiaan,  yang  mana  dapat  berupa:

  1.  
  2.  

                Dengan   adanya  penggantian   kerugian  subjektif   terhadap  rahin  atas  barang  jaminannya  yang  mengandung  cacat  tersembunyi, maka   hakekat  dari  adanya  unsur ganti  rugi   dari   pihak   bertransaksi di  pegadaian  syariah  terwujud.  untuk  kemaslahatan  manusia. Untuk itu,  bentuk  tanggung  jawab dan bentuk  ganti rugi dalam  transaksi  di  pegadaian  syariah termuat  dalam  undang-undang  sebagai upaya untuk kepastian hukum yang  menjadi  pedoman  di  pegadaian sayariah,  sehingga hukum tidak cukup hanya berperan sebagai alat, melainkan juga  sebagai  sarana  pembaharuan  masyarakat.Demikian juga tujuan  pegadaiaan  syariah   untuk   menjadi  lembaga  yang  menjalankan  syariat Islam dan  memberikan  kebaikan  bagi semua pihak dengan tidak adanya  pihak  yang  dirugikan  akan  terlaksana.

4.   Simpulan

             Berdasarkan  hasil   pembahasan  dari  pemasalahan dalam paper, maka penulis  menyimpulkan  bahwa:

  1.  
  2.  

Untuk itu penulis, menyarankan agar pemerintah membuat aturan  hukum yang komprehensif dan terintegarsi yang mengikat  berkepastian hukum. Aturan hukum tersebut mengatur mengenai aturan jaminan dan bentuk  ganti rugi dalam pegadaian syariah  termasuk juga mengenai ganti rugi dari pengembalian barang jaminan rahin yang mengandung cacat tersembunyi.