Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang   Kepada Yth Wali Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN RF Untk menghadiri acara Silaturahmi dan pertemuaan wali MAHASISWA FITK ANGKATAN 2018 pada HARI: JUMAT TANGGAL: 14 SEPTEMBER 2018 Jam: 08.30 SD 11.00 Tempat: Academic Center UIN Raden Fatah  

Tumbal Iwak Belido

Ditulis oleh : Dr. Yenrizal, M.Si | 22/04/2017 WIB

Tumbal Iwak Belido

Oleh : Dr. Yenrizal

(Doktor Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah)

 

                Jika tidak ada aral melintang, Pemerintah Kota Palembang akan segera merealisasikan pembangunan patung Iwak (Ikan) Belido di tengah-tengah pelataran Benteng Kuto Besak. Patung yang dikabarkan setinggi 12 m ini akan menjadi ikon baru Palembang, konon juga akan menyaingi patung Merlion di Singapura. Sebuah mimpi besar dari Pemkot Palembang, besar bukan pada mewujudkan patungnya, tapi mimpi besar terhadap efek patung tersebut. Satu lagi ornamen budaya massa akan hadir di kota ini, dan warga Palembang akan dibuat terpana olehnya.

                Membangun sesuatu yang monumental pada sebuah kota yang kemudian menjadi ikon utama kota tersebut, sudah menjadi gejala umum di berbagai tempat. Untuk kawasan Asia, dikenal Patung Merlion (berupa ikan kepala singa) di Singapura,Twin Tower Kualalumpur, Tugu Monas di Jakarta, Grand Royal Palace di Bangkok, Masjid Sultan Omar Ali Syaifudin di Bandar Sri Begawan (Brunei), Teluk Ha Long Bay di Vietnam, Angkor Wat di Kamboja, Pagoda Emas di Myanmar, Tembok Raksasa di China, Taj Mahal di India. Palembang sendiri sebenarnya sudah punya ikon yang selama ini dikenal yaitu Jembatan Ampera.

                Hampir semua objek tersebut, sengaja dibuat manusia dengan begitu spektakuler disebabkan berbagai alasan. Kecuali Teluk Ha Long Bay, yang lainnya adalah benda fisik buatan manusia yang memiliki sejarahnya tersendiri. Diciptakan karena ada peristiwa penting yang kemudian diabadikan melalui bangunan fisik. Taj Mahal dibangun karena kecintaan seorang raja pada istrinya, Monas dibangun sebagai bukti politis perjuangan rakyat Indonesia, Tembok China dibangun karena alasan membentengi diri dari ancaman pihak luar, Patung Merlion dibangun sesuai legenda terbentuknya Singapura, begitu juga dengan bangunan-bangunan lain yang kemudian menjadi simbol penting bagi sebuah kota.

                Apabila dikelompokkan, pendirian bangunan-bangunan tersebut, bisa disebabkan dua hal, yaitu karena ingin mengenang sesuatu, atau bisa juga karena alasan fungsional dari bangunan tersebut. Bentuk fisiknya yang unik, megah, sehingga punya nilai lebih, menjadi alasan penting kenapa ia harus dijadikan ikon. Manusia zaman sekarang, terkagum-kagum, membayangkan sebuah bangunan luar biasa, dibangun di masa semuanya serba terbatas dan minim teknologi.

                Hampir bisa dipastikan semua ikon-ikon yang dibangun tersebut punya nilai sejarah dan nilai fungsional. Nilai-nilai yang berkaitan dengan manfaat positif bagi manusia disekitarnya. Sangat jarang sebuah benda dijadikan ikon jika tidak memiliki dampak positif bagi manusia secara keseluruhan. Misalnya, kita tidak mengenal Patung Fir’aun dibuat ulang untuk dijadikan ikon, kecuali peninggalan yang dibuat semasa Fir’aun itu sendiri. Kalaupun sekarang melihat patung Fir’aun berupa spink di Mesir, yang terlintas dipikiran manusia adalah, inilah orang yang durhaka pada Tuhan.

                Oleh karenanya, sebuah ikon pada dasarnya menggambarkan peristiwa penting di daerah tersebut yang berhubungan langsung dengan benda yang dijadikan ikon. Ada sejarah dan ada fungsi positif yang melekat padanya. Kalaupun tidak didasari hal positif, seperti Fir’aun, maka ia menjadi ikon kemungkaran, ketidakadilan, kezholiman, dan sebagainya. Yang jelas ia punya manfaat bagi yang melihat dan mengenangnya.

                Dalam konteks masyarakat massa saat ini, kehadiran ikon kemudian tidak luput dari aspek budaya massa pula. Budaya yang dibesarkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat dan sangat kuat bermotifkan materialisme dan konsumerisme. Jembatan Ampera, sebagai bangunan bersejarah yang menjadi ikon kota Palembang, tidak luput dari fenomena budaya massa ini. Pertandanya tampak dari perlakuan terhadap jembatan itu sendiri, yang tidak lagi melihat sisi sejarahnya. Publik cenderung terpesona pada fisiknya dan merasa begitu bahagia ketika bisa berphoto dengan latar belakang jembatan hasil pampasan perang ini. Kebahagiaan ini kemudian disebar ke berbagai media, terutama media sosial, maka jadilah Ampera sebagai ajang komoditi, pertanda kesenangan bahwa sudah sampai ke tempat ini. Lebihkah dari itu? Tidak, hanya itu saja.

                Ampera sebagai jembatan bersejarah, yang dalam faktanya memang punya sisi strategis bagi bangsa ini, dan sampai saat ini sangat fungsional bagi masyarakat Palembang, mendapat perlakuan sebatas itu saja. Konon lagi sesosok ikan “elit” yang bernama Belido/Belida (Chitala lopis), mau dijadikan ikon pula. Yang terjadi kemudian adalah semakin memakmurkan budaya massa, menjadikan masyarakat-masyarakat yang terus berpacu dengan kesenangan-kesenangan sesaat, namun tak pernah tahu hakekat sesuatu itu.

                Dilihat sisi sejarahnya, ikan ini tidak punya nilai lebih bagi daerah ini (Palembang), kecuali rasanya yang dianggap lezat untuk bahan racikan pempek dan kemplang. Karena rasanya yang lezat itu pula, Belido punya nilai tinggi yang tidak semua orang mampu mendapatkannya. Kalangan menengah atas adalah pihak yang paling memungkinkan mengkonsumsi ikan ini. Jika dicermati kebiasaan ikan ini, justru Belido adalah salah satu jenis predator, ikan yang memangsa ikan lainnya. Apabila dilihat sebarannya, ikan ini juga tidak punya Sumsel saja, tapi banyak pula didaerah lainnya, seperti Kalimantan. Kalau kemudian populasinya dianggap langka dan semakin berkurang, budidaya adalah solusinya. Saya agak pesimis kalau ikan ini akan musnah, karena ia punya nilai jual tinggi dan bisa dibudidayakan.

                Oleh karena itu, menjadikan Ikan Belido sebagai ikon baru di Palembang, saya pikir bukan pada nilai sejarah ikan ini yang dianggap punya peran penting bagi Palembang, tapi karena sisi fungsionalnya bagi kalangan tertentu. Fungsi sebagai bahan baku pembuatan pempek dan kemplang yang bernilai tinggi, tentu saja harganya juga tinggi. Begitupun ia punya hubungan langsung dengan fenomena kerusakan perairan di Sumsel, sebagai habitat utama ikan ini.

                Andai hanya pada aspek itu saja dasar pembuatan ikon baru ini, inilah dasar fenomena budaya massa. Tak perlu ada pijakan sejarah, yang jelas ini punya niai jual dan akan dilihat banyak orang. Sektor pariwisata mungkin sisi terkena langsung, patung itu akan jadi lokasi berphoto baru yang akan jadi magnet manusia-manusia narsis. Inilah yang capaian budaya massa. Masa bodoh soal siapa dan apa itu Ikan Belido, yang jelas ada tempat nongkrong baru. Sederhana sekali.

                Dalam perspekti ilmu komunikasi, inilah yang disebut dengan makna simbolik yang bersifat sembarang. Patung Ikan Belido adalah simbol yang dimaknai orang dalam perspektifnya masing-masing. Disebabkan aspek filosofis ikan ini yang “tidak membumi”, maka pemaknaannyapun sebatas yang tampak dipermukaan, tak ada kajian mendalam mengapa dan apa itu Belido. Pada konteks generasi sekarang adalah generasi narsis, maka patung itu akan dimaknai pula sebagai patung tempat narsis. Publik tentu saja akan menyenangi ini, karena harus diakui Palembang minim sarana-sarana narsis seperti itu.

Di sisi lain, adakah yang paham bahwa Belido langka ataupun musnah karena  kerusakan habitatnya (lingkungan) akibat ulah manusia itu sendiri? Saya meragukan itu. Tapi baiklah, jika suatu saat nanti, sekitar 10-20 tahun lagi, saat ikan ini sudah benar-benar musnah, anak cucu kita masih bisa melihat bahwa inilah jenis ikan yang menjadi pertanda carut marutnya tata kelola air di Sumsel dan kerusakan lingkungan. Ikan Belido akhirnya jadi tumbal pembangunan berbasis budaya massa nan materialistis. Intinya Patung Ikan Belido hanya sebatas kenangan dan nostalgia masa lalu, yang sebenarnya tidak pula bermakna banyak bagi keseluruhan publik Sumsel.