Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang   Kepada Yth Wali Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN RF Untk menghadiri acara Silaturahmi dan pertemuaan wali MAHASISWA FITK ANGKATAN 2018 pada HARI: JUMAT TANGGAL: 14 SEPTEMBER 2018 Jam: 08.30 SD 11.00 Tempat: Academic Center UIN Raden Fatah  

Bambu dan Makna Lingkungan

Ditulis oleh : Dr. Yenrizal, M.Si | 22/04/2017 WIB

Bambu dan Makna Lingkungan

Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.

(Doktor Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah)

 

                Saat masih kanak-kanak dulu, sekitar tahun 1980-an, saya dan teman-teman paling suka main bedil-bedilan kecil dari buluh cina (Bambusa multiplex). Jenis bambu ini seperti rumput atau ilalang karena ukurannya kecil. Warga di desa kami sering menjadikan tanaman ini sebagai pagar di halaman rumah. Tingginya paling-paling sekitar 1 m, dan jarang menjadi lebih tinggi karena dipotong untuk mempercantik bentuknya. Memainkan ini asyik sekali, dan memang sebagai kanak-kanak di desa, jenis mainan seperti inilah yang bisa kami lakukan. Kami berlagak bagai seorang prajurit yang bertempur, menembak dengan peluru dari biji-bijian atau kertas koran yang dibasahkan.

                Di masa dulu juga, orang-orang tua kami suka mencari bambu dengan berbagai jenis, dan kemudian direndam di aliran air atau rawa-rawa selama sekitar sebulan. Bambu yang direndam dipercaya menjadikannya berkualitas bagus dan tahan terhadap rayap. Bambu ini kemudian diolah menjadi dinding rumah, pagar, lantai rumah dan sebagainya. Begitupun, setiap menjelang lebaran, nenek dan ibu-ibu biasanya sibuk mengolah jenis bambu talang (Schizostachyum brachycladum Kurz), mengambil serus-seruas, diisi beras, dibakar dengan posisi berdiri, maka jadilah ia lemang. Menu luar biasa dan wajib kala itu.

                Bambu memang melekat sekali dengan komunitas masyarakat pedesaan, komunitas awal pembentuk masyarakat lain yang lebih luas. Bisa dipastikan dimanapun lokasinya, penduduk Indonesia sangat kenal dan dekat tumbuhan yang satu ini. Tumbuhan ini menjadi sangat dekat dengan masyarakat karena memang sangat mudah diperoleh (kala itu) dan ia bisa tumbuh dimanapun. Tak perlu dipupuk dan dibersihkan, bahkan tergeletakpun di tanah, ia akan tumbuh dengan sendirinya.

                Bisa kita lihat bagaimana sebaran bambu ini ada di seluruh daerah Nusantara. Tiap daerahpun punya sebutan sendiri untuk bambu ini, yang menunjukkan bahwa mereka mengenal dan dekat dengan tanaman jenis rumput ini. Orang Aceh menyebutnya Trieng, di Bali sebut Ting, orang Batak menamai dengan Bulu, di Sumbar di sebut Buluh, Madura mengatakan Keles/Pereng, di Jawa disebut Pring/Bambu, dan sebutan lainnya di berbagai daerah. Semuanya merujuk pada tanaman yang sama.

                Pribahasa Melayu sendiri juga banyak yang menggunakan kata-kata bambu, seperti “bagai aur dengan tebing”, “bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat”, “bagai pohon bambu ditiup angin”, dan lain sebagainya. Dalam konteks masyarakat Melayu, juga komunitas tradisional lain yang lazim pakai sastra tutur, sebuah pribahasa ataupun pantun, biasanya tidak muncul begitu saja. Kata-kata itu mengandung petuah, ajaran, yang datangnya dari melihat realitas alam semesta tempat mereka hidup. Pemaknaan terhadap realitas alam inilah yang kemudian dijadikan bagian dari kehidupan sehari-hari, yang mewujud dalam berbagai bentuk kebudayaan. Orang komunikasi menyebut ini sebagai bentuk etnoekologi komunikasi.

                Masyarakat memaknai alam, memaknai lingkungannya, memaknai semua yang ada disekitarnya. Sudah kelaziman pula, memaknai ini didasarkan pada nilai guna dan fungsinya bagi keutuhan dan kelangsungan hidup manusia. Pada titik tertentu, pemaknaan ini bisa berubah, bergeser, yaitu pada saat realitas sosial di masyarakat juga berubah. Perubahan ini bisa karena faktor internal masyarakat, dan yang paling dominan karena faktor ekternal, terutama industrialisasi dan modernisasi. Saat pula pikir masyarakat dari generasi ke generasi terus digerus dengan godaan-godaan materialistis sebagai imbas dari industrialisasi, maka lingkungan alampun dimaknai sebagai wilayah materi semata. Terjadilah eksploitasi besar-besaran, bukit di pangkas, rawa ditimbun, sungai dikeringkan, tanah digali. Untuk sesaat, manusia masih merasakan untungnya, tapi hanya sesaat. Jangka panjang, kemelaratan, kekeringan, longsor, banjir, kebakaran hutan, kabut asap, jadi menu sehari-hari.

                Pada kondisi demikian, ada kecenderungan bahwa manusia sudah berada pada taraf melupakan identitasnya sendiri, identitas dalam arti kata hubungannya dengan lingkungan alam ini. Banyak unsur di alam ini yang sebenarnya adalah identitas bagi manusia disekitarnya, tapi sayang identitas ini kerap dianggap tidak penting, atau terkadang justru dibuat identitas baru yang menghilangkan identitas awal. Saya percaya bahwa identitas masyarakat tersebut ada pada alam disekitar mereka. Orang Antropologi menyebut ini dengan kosmologi.

                Atas dasar itu, sebagaimana penggambaran di awal tulisan ini, ataupun berbagai pengalaman dan kebiasaan di masyarakat lokal, maka bambu sebenarnya adalah identitas. Bukankah negara ini adalah wilayah tropis? Bambu sendiri adalah salah satu tanaman tropis, yang sedari awal sudah diketahui sebagai tanaman ramah lingkungan, multifungsi, mudah dalam budidaya, dan punya peran besar dalam menyimpan air dalam tanah dan luar tanah. Tentu kita masih ingat bagaimana cerita-cerita orang tersesat dalam hutan yang kehabisan air minum. Batang bambu adalah solusi, tinggal pancung, didalamnya ada air siap minum. Itulah cadangan air luar tanah.

                Identitas itulah yang kemudian melekat dalam semua aktifitas masyarakat, walaupun kemudian muncul pula pandangan negatif, bahwa orang yang menggunakan bambu untuk rumahnya, adalah orang miskin. Karena tidak mampu membeli kayu, pohon bambupun jadilah. Saya pikir ini adalah masalah kuasa struktur. Sedari dulu, kita sudah dibiasakan (distrukturkan) untuk memandang kayu, dan cenderung disebabkan karena kayu punya nilai jual tinggi. Sifat kayu yang mudah diolah, bisa dipaku, lebih cepat bisa difungsikan. Alhasil, ramai-ramailah kayu ditebang, dibelah, dijual dan dijadikan segala macam produk. Ini sangat dekat dengan struktur ekonomi kapitalistik, dan memang itulah yang terjadi.  Persoalannya, saat kayu sudah habis, apa yang bisa dilakukan? Inilah titik lemahnya, sehingga kayu tidak punya argumen kuat untuk dijadikan identitas masyarakat.

Peremajaan kayu (reboisasi) tidak bisa sebentar, butuh bertahun-tahun, umumnya di atas 10 tahun. Berbanding terbalik dengan bambu, ia bisa tumbuh cepat dan banyak dalam satu rumpun. Bambu juga sangat tahan terhadap api, misalnya kebakaran. Walau batang dan daunnya sudah habis, dalam waktu singkat ia akan tumbuh lagi. Sebuah referensi pernah menyebutkan, saat bom atom menghanguskan Hiroshima dan Nagasaki, satu-satunya tanaman yang tersisa adalah bambu.

Karena itulah bambu sebenarnya adalah identitas masyarakat daerah tropis, terutama Indonesia, termasuk tentu saja orang Melayu. Bambu adalah identitas, sebagaimana Cina yang menggadang-gadangkan diri sebagai Negara Tirai Bambu. Sudah saatnya identitas ini dikembalikan ke orang-orang Melayu, dan tentu saja dengan memulai menanamnya, membudidayakan, dan memanfaatkan.

Saat ini, semua itu menjadi begitu relevan, terutama dengan program pemerintah untuk melakukan restorasi atau perbaikan dan penghijauan kembali lahan gambut yang pernah terbakar hebat di 2014 dan 2015 silam. Gambut adalah salah satu wilayah habitat pohon bambu. Tak salah, dan bahkan harus didorong agar bambu masuk dalam skema pelaksana restorasi nantinya. Tentu saja, karena identitas masyarakat bukan hanya bambu, tapi seluruh yang ada di alam ini, maka perlu dimasukkan tanaman lain seperti Sagu, Aren, Pinang, dan Jelutung.  Ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Sekali merestorasi, banyak manfaat tercapai, lahan hijau, karhutla bisa dicegah, dan identitas masyarakat bisa ditegakkan kembali.