Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang  

Pengkalan Lanang dan Pengkalan Betine

Ditulis oleh : Dr. Yenrizal, M.Si | 26/04/2017 WIB

Pengkalan Lanang dan Pengkalan Betine

Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.

(Dosen Komunikasi FISIP UIN Raden Fatah )

 

Menelusuri wilayah pedesaan Sumsel kita akan menemukan ragam tradisi dan nilai-nilai yang selalu saja menarik diamati. Semuanya menyadarkan kita bahwa setiap daerah, termasuk Sumsel, kaya dengan berbagai kebiasaan yang apabila dikaji ternyata penuh makna dan pesan-pesan khusus yang menunjukkan kepiawaian masyarakat dalam menjaga eksistensi sistem sosial yang mereka miliki. Sekaligus juga memperlihatkan penghargaan masyarakat terhadap keragaman dan kepedulian pada sesama.

Salah satunya adalah tradisi yang sampai saat ini masih tumbuh dengan baik yaitu kebiasaan mandi di sungai dengan membuat tempat-tempat pemandian khusus. Wilayah yang menarik diamati adalah daerah Rambang, Kabupaten Muara Enim (secara geografis lebih dekat ke Prabumulih). Sebenarnya tempat pemandian di sungai ini bukan hanya tradisi orang Rambang, hampir semua warga Sumsel punya karakteristik seperti itu sesuai topografi wilayah erat berhubungan dengan sungai.

Bagi orang Rambang, tempat pemandian ini disebut dengan Pengkalan Lanang dan Pengkalan Betine (daerah lain punya penamaan berbeda). Dikatakan Pengkalan karena disinilah tempat mangkalnya warga desa pada waktu pagi dan sore hari untuk mandi. Lanang adalah sebutan untuk laki-laki dan Betine adalah sebutan untuk wanita. Antara tempat mandi laki-laki dan wanita senantiasa dibedakan posisinya.

Di beberapa tempat, terutama di wilayah Muara Enim, posisi Pengkalan Lanang berada di hilir dan Betino ada di hulu. Bisa saja di sebuah aliran sungai di bangun lebih dari dua Pengkalan, namun harus diperhitungkan jarak yang jauh antara tempat laki-laki dan wanita, terutama untuk wilayah yang sungainya tergolong sungai kecil dan dibatasi oleh hutan/semak-semak. Sementara di sungai besar dan luas, dimana batas semak dan hutan tidak terlihat, posisinya adalah tetap harus berbeda antara laki-laki dan perempuan. Disini tidak terlalu diperhitungkan laki-laki harus di hilir dan wanita di hulu. Bisa saja saling seling posisi.

Ketentuan bahwa Pengkalan Betine di hulu dan Lanang di hilir ternyata punya makna tersendiri pula. Sengaja wanita ditempatkan dihulu karena biasanya jika wanita ke sungai mereka tidak sekedar mandi, tapi juga mencuci pakaian, sayuran untuk dimasak, beras dan bahkan air minum. Mereka butuh air bersih, jadi ditempatkan di hulu. Laki-laki sendiri hanya sekedar mandi, karena itu tidak jadi masalah ditempatkan di hilir, apalagi airnya selalu mengalir.

Bentuk Pengkalan sederhana sekali, yaitu salah satu aliran sungai yang dibersihkan, dibuat jalan masuk dari pemukiman, kemudian dipinggir sungai tersebut dibentangkan beberapa potong kayu dan diatasnya dialasi papan/kayu bulat. Bangunan ini juga ditambah dengan tangga kayu sederhana menjulur ke dalam/dasar sungai. Fungsinya sebagai tempat berdiri mencedok air atau jalan untuk berendam di sungai.

Apa makna Pengkalan Lanang dan Pengkalan Betino, terutama dalam konteks nilai kearifan lokal masyarakat dan prinsip-prinsip demokrasi yang terkandung didalamnya? Hal yang menonjol adalah masyarakat pedesaan Sumsel yang sangat terikat dengan sungai dan lingkungan. Hampir semua desa di Sumsel dilalui atau berada di dekat aliran sungai, bahkan banyak pula desa-desa yang pemukimannya dibangun di atas rawa.

Pengkalan, selain sebagai tempat mandi dan mencuci, juga arena pertemuan warga setelah seharian bekerja di kebun. Interaksi dan sikap kebersamaan sangat menonjol. Prinsip yang kelihatan disini adalah kesadaran akan kebersamaan dan kesetaraan. Baik Kepala Desa, Kepala Dusun, Tokoh Adat, petani biasa, ibu-ibu, remaja, semuanya berkumpul di Pengkalan. Tak ada pembedaan status sosial ketika berada di sini. Semua mandi di air dan tempat yang sama. Hal ini berlangsung saban hari, pagi dan sore.

Uniknya lagi, setiap orang yang mandi di Pengkalan harus menggunakan Telasan, yaitu selembar kain tipis yang digunakan sebagai penutup badan untuk mandi. Aturan umum, tidak boleh menggunakan celana dalam ataupun celana pendek ketika mandi, apalagi tanpa busana sama sekali. Masyarakat menyebutnya tak elok/tidak pantas. Biasanya setiap orang membawa kain telasan sendiri. Kalaupun tidak ada, biasanya disitu sudah tersedia telasan yang sengaja ditinggalkan warga lain untuk mandi.

Dilihat dari sudut pandang prinsip kebersamaan dalam demokrasi, inilah sebuah wujud rasa kebersamaan yang tidak memperlihatkan perbedaan-perbedaan status sosial. Semua orang hakekatnya adalah sama dan semua punya hak serta kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Pada Pengkalan biasanya terjadi komunikasi seputar kegiatan sehari-hari dan aktifitas yang mereka lakukan. Dengan posisi sama-sama berada di sebuah tempat yang menunjukkan kesetaraan tersebut, komunikasi bisa berlangsung bebas dan mengalir begitu saja. Selain itu, pemakaian telasan menunjukkan kesamaan posisi dan penghargaan terhadap nilai-nilai etis, dimana harus menutup aurat dan taat pada koridor ketentuan adat dan tradisi.

Pengkalan dan penggunaan telasan adalah interaksi sehari-hari masyarakat yang terpaut dengan nilai-nilai yang dimiliki alam serta kedekatan jarak sosial. Hal ini memperlihatkan minimnya sekat-sekat sosial yang dimiliki masyarakat, kendati tetap dalam koridor saling menghargai dan taat kepada pihak yang lebih tua. Makna demokrasi bahwa perbedaan dan kebersamaan selalu dipupuk dalam berbagai aktifitas keseharian senantiasa ditonjolkan.

Sampai saat ini, Pengkalan masih tetap utuh dan tetap ada di masyarakat. Kendati sudah cukup banyak warga yang punya kamar mandi di rumah sendiri, namun tradisi mandi ke sungai tetap saja dilakukan. Memang mandi di Pengkalan tidak seramai dulu, salah satu penyebab adalah banyak terjadi perubahan aliran sungai (seperti ditimbun) dan kondisi air sungai yang tidak lagi jernih (karena pencemaran dan sebagainya).

Tradisi Pengkalan bisa menunjukkan bahwa kebersamaan dan interaksi sosial yang rapat adalah ciri khas masyarakat Sumsel, terutama di pedesaan. Pengkalan juga menjadi sebuah ruang publik yang sengaja diciptakan agar sikap kebersamaan antar warga selalu terjalin. Apabila tradisi ini kemudian hilang dan ruang-ruang publik ini berganti posisi, bisa dipastikan sikap kebersamaan warga secara perlahan-lahan juga akan berubah menjadi sikap individual. Pada beberapa desa hal itu sudah terlihat, dan kemungkinan wilayah lain juga berangsur-angsur terjadi.

Faktor utama karena sungai tak lagi jernih, lokasi sungai juga sudah dipenuhi oleh aktifitas lain (seperti industri, pabrik, perumahan, dan sebagainya), sehingga akhirnya timbul rasa canggung ketika harus mandi ke sungai. Padahal bagi warga Sumsel, sungai bukan sekedar tempat mandi, tapi disitulah nilai-nilai kearifan lokal dan kebersamaan warga bermula. Pada saatnya nanti mungkin kita hanya akan mendengar cerita tentang Pengkalan, sebuah kisah nostalgia orang-orang zaman dulu. Tulisan ini mungkin akan jadi bagian kecil cerita tersebut. Tapi setidaknya, generasi berikut paham bahwa tradisi orang-orang Sumsel tak bisa dilepaskan dari sungai, dan Pengkalan adalah salah satunya.

*) Tulisan ini sudah pernah dimuat di HU Sriwijaya Post, 23 Agustus 2010