Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang  

Narsis di Ruang Publik

Ditulis oleh : Dr. Yenrizal, M.Si | 26/04/2017 WIB

Narsis di Ruang Publik

Oleh : Yenrizal

(Doktor Ilmu Komunikasi FISIP UIN Raden Fatah)

 

Tentu sudah menjadi istilah yang akrab ketika kita mendengar kata Narsis. Kata ini identik dengan prilaku seseorang yang dianggap berlebihan dalam gaya, sikap, maupun ucapan. Dalam istilah komunikasi dan sosiologi, ini identik dengan kata Etnosentris, memandang orang lain selalu dari sudut pandangnya sendiri. Pada  dasarnya,narsis mengarah pada seseorang yang gemar memamerkan dirinya secara berlebihan, dalam bentuk apapun.

Sebenarnya jika dilihat dari sejarah istilah ini, narsis berawal dari mitologi Yunani yang menceritakan seorang pemuda bernama Narcisius. Sosok pemuda ganteng, rupawan dan menjadi idola saat itu. Kerupawanan ini rupanya menjadikan Narcisius menjadi angkuh dan sombong. Pada akhirnya ia tidak disukai dewa-dewa saat itu dan akhirnya justru menjadi frustasi karena jatuh cinta pada bayangannya sendiri, yang dilihatnya memang sangat rupawan. Dari sinilah kemudian narsis diadopsi oleh masyarakat, dan sekarang menjadi salah satu bahasa gaul yang cukup populer di Indonesia.

Menjadi narsis pada dasarnya sangat manusiawi, dalam arti kata setiap manusia punya potensi untuk berprilaku seperti itu. Mengacu pada teorinya Abraham Maslow tentang tingkatan kebutuhan manusia, maka narsis bisa diidentikkan dengan kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk menunjukkan potensi dan kemampuan. Hanya saja, setiap orang punya cara masing-masing untuk mengaktualisasikan dirinya. Ada yang bersikap malu-malu, menunjukkan dengan kinerja dan prestasi yang dimiliki, dan membiarkan publik menilai sendiri. Ada juga yang pada dasarnya tidak memiliki prestasi, namun bersemangat untuk mempublikasikan dirinya seolah-olah punya prestasi. Ada pula yang memang punya prestasi, dan kemudian rajin pula mempublikasikannya. Ketiganya bisa dikatakan narsis, namun dua terakhir adalah narsis yang ekstrem.

Dari tiga bentuk di atas, maka yang kedua tentulah yang paling menjadi masalah, kendati yang ketiga juga terkesan lebay (berlebihan). Dua bentuk terakhir tersebut, sama-sama punya kemiripan, yaitu gemar mempublikasikan dirinya. Motifnya bisa bermacam-macam. Jika mengacu pada Maslow, maka itu lebih sekedar untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Selanjutnya biarlah publik yang menilai. Penekanannya pada kepuasan personal yang akan didapat orang tersebut. Kepuasan yang dirasakan setelah mampu mempublikasikan apa yang sudah dilakukan.

Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Samuel K Bonsu (2007) tentang iklan kematian orang-orang Asante di Ghana, bisa dijadikan sebagai pembanding prilaku narsis seperti di atas. Orang-orang Asante punya kebiasaan untuk mempublikasikan peristiwa kematian kerabatnya di media massa. Bentuknya seperti iklan yang diikuti dengan ucapan belasungkawa dari berbagai pihak (di Indonesia ini juga banyak ditemui di berbagai media massa). Bonsu berhasil menyimpulkan bahwa ternyata iklan kematian tersebut bukan hanya sekedar pemberitahuan tentang kematian seorang anggota keluarga, tapi juga merupakan alat manajemen impresi/manajemen kesan dan sekaligus alat berkompetisi untuk mendapatkan citra dan status sosial sebagai bagian dari ‘orang penting’ yang ‘baik’.

Mengacu pada hasil penelitian tersebut, maka prilaku yang muncul bukan lagi untuk kepentingan personal (sebagaimana Maslow), namun punya sasaran lebih besar, yaitu persepsi publik. Pencitraan, itulah kuncinya. Untuk mendapatkan hal tersebut, maka tak ada jalan lain, prilaku narsis harus dimunculkan. Memanfaatkan setiap momen, kesempatan, ruang, media, dan jaringan yang ada, untuk menonjolkan diri. Bukan untuk kepuasan pribadi, tapi untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat.

Bersikap narsis, tentu akan menonjolkan aspek yang baik-baik dari dirinya. Kalaupun ada sisi negatif, itu di simpan dulu. Berkamuflase sangat diperlukan, agar aspek yang dimunculkan bisa mendatangkan simpati publik. Persoalannya adalah, ketika yang melakukan itu adalah pejabat publik atau orang yang berniat ingin menjadi pejabat publik, maka kamuflase berpotensi menimbulkan penyesatan. Sikap narsis punya tendensi menjadi pembohongan kepada publik.

Bagi mereka yang sudah bertekad, ataupun memang dituntut, untuk bersikap narsis, maka segala potensi yang dimiliki akan dikerahkan. Sekali lagi, ini berkaitan dengan pencitraan dan persepsi publik. Ranah publik harus direbut, karena disitulah citra bisa dinaikkan. Bersikap narsis adalah satu pilihan mendasar.

Dalam konteks kebebasan informasi saat ini, ruang publik terbesar yang rentan jadi ajang narsis-narsisan adalah penggunaan media massa (melalui iklan/advertorial), dan menciptakan media-media luar ruang, yang khusus untuk mempublikasikan dirinya. Media luar ruang ini bisa berbentuk spanduk, banner, baliho, sticker, dan sebagainya. Satu keberhasilan kecil saja, bisa diekspose besar-besaran seolah-olah prestasi itu sudah mencapai level dunia. Sasarannya sekali lagi adalah simpati dan persepsi publik. Pada sisi inilah, narsis menjadi ancaman serius bagi pengetahuan publik. Pengetahuan publik bisa saja hanya berdasarkan kamuflase-kamuflase yang dimunculkan, yang seolah-olah itulah kebenarannya.

Saat sekarang, dimana pemilukada di berbagai daerah dan Sumatera Selatan, sudah semakin dekat, maka prilaku narsis juga marak terjadi. Bisa dikatakan ini adalah bentuk narsis politik. Motifnya adalah pencapaian jabatan politik melalui pemilukada. Muncullah berbagai iklan-iklan politik, yang semuanya memiliki keseragaman, yaitu mengiklankan diri dan membaiat bahwa dirinya adalah yang terbaik. Apakah memang betul sang bakal calon tersebut adalah sebaik yang diiklankan? Tidak pernah ada informasi mengenai hal itu. Sesuai dengan konsep narsis, maka informasinya sangat sepihak, yaitu dari yang bersangkutan.

Menjadi pemandangan keseharian melihat tebaran spanduk, baliho, banner, dan sticker di pinggir-pinggir jalan. Begitu juga di media massa, setiap hari selalu muncul iklan-iklan yang narsis. Semuanya menerpa publik, dan diserap dalam wilayah kognisi masyarakat. Apakah kemudian masyarakat terpengaruh positif terhadap hal itu? Hari pencoblosan nantilah yang akan menentukan.

Bagi publik, sikap hati-hati dan selektif adalah yang paling mungkin dilakukan. Dasarnya, bisa dilihat dari pandangan Erving Goffman mengenai dramaturgis yang dilakukan manusia. Terutama dalam konteks persaingan politik, manusia akan selalu melakukan permainan peran mengenai dirinya. Pada saat menjadi calon pejabat publik, peran sebagai orang baik-baik, tanpa cacat, akan dimainkan. Apalagi sosok-sosok calon ini tentu memiliki modal finansial memadai sehingga prilaku narsis bisa dilakukan secara maksimal. Yang perlu diwaspadai dan dicermati adalah sikap narsis yang berkamuflase. Seseorang sebenarnya tidak memiliki prestasi, namun dengan permainan peran, ia bisa memproklamirkan bahwa ia telah berbuat banyak. Kecerdasan publiklah yang dituntut di sini, sekaligus bisa menilai  integritas sosok tersebut.