Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang   Selamat dan Sukse Atas Diraihnya Gelar Guru Besar (Professor) Kepada : Prof. Dr. Nyayu Khodijah, M.Si Prof. Dr. Izomiddin, MA Prof. Dr. Kasinyo Harto, M.Ag    Selamat dan Sukses Kepada Dr. Fitri Oviyanti. M.Ag, Dr. Leni Marlina. M.Pd.I, Dr. Indah Wigati.M.Pd.I, Dr. Yuniar.M.Pd.I dan Dr. Jummiana.M.Pd.I, Dr. Ahmad Syarifuddin, Dr. Abdul Hadi, Dr. H.M. Ridwan atas di raihnya gelar Doktor (S-3) Pada Ujian Promosi Doktor UIN Raden Fatah Palembang Dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta  

Komunikasi Lingkungan Masyarakat di Kawasan Suaka Margasatwa

Ditulis oleh : Dr. Yenrizal, M.Si | 27/04/2017 WIB

Komunikasi Lingkungan Masyarakat di Kawasan Suaka Margasatwa

(Studi pada Masyarakat Dusun Gersik Belido di Kawasan SM Bentayan, Sumatera Selatan)

Oleh : Yenrizal

(Dosen tetap pada FISIP,UIN Raden Fatah, Jl. KH Zainal Abidin Fikri Km 3,5 Palembang. Email : yenrizal_uin@radenfatah.ac.id)

 

ABSTRACT

 

Wildlife Refuge area (Suaka Margasatwa/SM) is one of the regions of Nature Reserve Area is set in PP. 28/2011, which stated that the SM area can be used for certain functions. In fact, many of the SM area was inhabited by communities, even long before established as SM. This is of course contrary to the concept of SM according to the rules of law, which in some cases, is often a conflict between the communities and the government. Against these conditions, the different points of view must be used, so the clash and conflict does not occur. One approach is to look at the reality of the people in the SM area is from the point of view of communication sciece. Society has a close relation with the environment, and it always happens to the communication process between them. This communication process is influenced by aspects of the history, origin, culture, and motivations of society itself. The reality can be seen in the SM Bentayan , Banyuasin and Musi Banyuasin regency, South Sumatra. An area of ​​19,300 hectares and designated as a Wildlife Refuge since 16th April 1981, was inhabited by a number of people, one of them formed their own settlement called Dusun Gersik Belido. Results of this study indicate that environmental communication community about SM Bentayan is purely economic motives, namely to place a living. They do not know the term forest conservation, environmental integrity, because there was never any communication regarding the process, both of its predecessors as well as the current generation. This coupled with the pressure from the government to tell them to get out of the area. The natural environment is considered as a mere object (anthropocentric), because it did not exist communication process that emphasizes sustainability and environmental protection aspects. Environment communication communities in SM Bentayan see that the just to place a living. Environment is considered as an object that is intended for humans, so that the term evolved Land Lord, which identifies the land belongs to all the people that can be controlled by anyone.

Keyword : Environment, Communication, Communities

 

  1. Latar Belakang

Sumatera Selatan merupakan daerah yang memiliki wilayah hutan cukup luas. Data dari Dinas Kehutanan Sumatera Selatan tahun 2011 menyebutkan bahwa luas kawasan hutan adalah 3.760.662 Ha (43% dari luas wilayah Sumatera Selatan). Kawasan hutan ini terbagi atas beberapa katagori yaitu : (1) Hutan Konservasi seluas 711.778 ha, (2) Hutan Lindung seluas 558.609 ha, (3) Hutan Produksi seluas 2.490.275 ha, (4) Hutan Produksi Terbatas seluas 236.382 ha, (5) Hutan Produksi Tetap seluas 1.669.370 ha, (6) Hutan Produksi yang dapat dikonversi 584.523 ha.

Fakta di lapangan, menurut Dinas Kehutanan menyebutkan keadaan fisik kawasan yang masih memiliki hutan adalah 44%, dan tidak berhutan 56%. Sementara kawasan hutan produksi 70% tidak berhutan, tidak produktif, kualitas lingkungan buruk, dan tidak ada jaminan kelangsungan. Data ini menunjukkan sudah teramat kritisnya masalah kehutanan di Sumsel, apalagi saat ini didorong pula oleh pengembagan perkebunan kelapa sawit oleh berbagai perusahaan besar, di samping pembukaan lahan dan pemukiman oleh warga setempat. Dinas Kehutanan juga mencatat bahwa tahun 2011, luas lahan kritis mencapai 3.886.062 ha (kritis 3.668.355 ha dan sangat kritis 217.707 ha). Dibanding tahun 2007, ini mengalami peningkatan cukup signifikan.

Salah satu wilayah hutan konservasi adalah Suaka Margasatwa (SM) Bentayan yang terletak di dua kabupaten (Musi Banyuasin dan Banyuasin). Ini adalah satu dari enam kawasan SM yang ada di Sumsel. Kawasan ini memiliki luas 19.300 Ha, ditetapkan sebagai kawasan SM sejak 16 April 1981. Awalnya kawasan ini memang adalah wilayah hutan lebat dan belum dihuni penduduk. Sekitar pertengahan 1980-an, masuklah perusahaan-perusahaan HPH yang melakukan penebangan dan pengambilan kayu-kayu di lokasi ini. Setelah itulah, masyarakat mulai mendiami wilayah tersebut, baik yang berasal dari mantan buruh perusahaan HPH maupun yang datang kemudian. Mereka membangun permukiman, membuka lahan pertanian, sampai kemudian mendirikan perkampungan tersendiri yang berbentuk Dusun. Fakta-fakta ini terus terjadi sampai sekarang.

Saat ini terdapat dua dusun yang langsung masuk dalam kawasan SM Bentayan, yaitu dusun Belido I dan Belido II. Awalnya masyarakat menamakan dengan Dusun Gersik Belido.Jumlah penduduk (2010) mencapai 800 KK dan 1.400 jiwa. Mereka membentuk pola pemukiman tersendiri dan beraktifitas langsung di wilayah ini.

Keberadaan masyarakat di wilayah ini berefek langsung terhadap keutuhan kawasan SM Bentayan. Hal ini disebabkan aktifitas masyarakat yang memang berkaitan langsung dengan lingkungan alam sekitar. Mereka umumnya membuka kebun karet dan sebagian membuat persawahan pasang surut (Sumeks, 26 Desember 2012).

Masyarakat yang berada di kawasan hutan suaka, tentu saja kemudian harus berhadapan dengan pemerintah, dalam hal ini melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel. Konflik, bentrok fisik, dan bahkan sampai dengan ditahannya beberapa anggota masyarakat di Polda Sumsel di tahun 2004 dengan tuduhan perusakan dan perambahan hutan. Mediasi dan advokasi kemudian dilakukan oleh berbagai pihak, seperti dari DPRD Kabupaten Muba, Pemerintah Desa, dan dari kalangan LSM yaitu Walhi Sumsel. Atas dasar ini, keluarlah tiga kesepakatan utama pada tahun 2007 sebagai opsi dari keberadaan masyarakat di SM Bentayan, yaitu :(1) Masyarakat memperoleh ganti rugi atas usaha mereka di dalam kawasan, (2) Keberadaan masyarakat diakui, yakni areal pemukiman dan penghidupan mereka di-inclave, (3) Masyarakat akan direlokasi/Pemda akan memprogramkan Transmigrasi Lokal bagi masyarakat. Semua opsi ini diterima masyarakat, sayannya sampai sekarang tidak ada yang dilaksanakan. Akhirnya, masyarakat tetap mendiami wilayah tersebut.

Terhadap konflik yang terjadi dan posisi masyarakat di dalam kawasan SM Bentayan, menunjukkan bahwa tumpuan masyarakat terhadap lingkungan alam di sekitarnya sangat tinggi. Masyarakat di lokasi ini adalah masyarakat pendatang, yang berasal dari berbagai daerah lain di Sumsel. Keberadaan mereka dengan lingkungan SM Bentayan adalah didasarkan motif ekonomi, dimana tujuan awal datang ke lokasi ini adalah untuk mencari penghidupan baru, baik dengan menanam karet ataupun membuka perkebunan lainnya.

Melihat pada berbagai fakta dan kondisi masyarakat yang ada di kawasan SM Bentayan, maka perlu dilihat ragam perspektif untuk menelisik lebih dalam persoalan-persoalan dasar yang dihadapi. Salah satunya adalah pendekatan Ilmu Komunikasi, terutama kajian komunikasi lingkungan. Mengacu pada beberapa definisi komunikasi lingkungan seperti dari Jurin (2010), Corbet (2006), dan Cox (2006) mengatakan bahwa komunikasi lingkungan adalah sebuah generasi sistematis dan pertukaran pesan manusia dalam, dari, untuk dan tentang dunia di sekitarnya dan interaksi dengan alam. Sasarannya adalah pada sudut pandang masyarakat dalam melihat dan memaknai lingkungan alam dan digunakan untuk kelangsungan hidup ekosistem.

Perspektif ilmu komunikasi diharapkan bisa memberikan kontribusi yang berbeda dalam melihat aktifitas masyarakat dengan lingkungan, terutama kawasan SM. Diharapkan akan terlihat aspek sudut pandang masyarakat dan pola penyebaran pesan-pesan mengenai lingkungan mereka. Dari hal ini akan bisa terpetakan realitas masalah yang lain dalam melihat kondisi masyarakat di wilayah SM Bentayan.

  1. Kajian Pustaka

Penelitian ini memulai pemahaman pada komunikasi transaksional, yaitu orang/pihak berkomunikasi dianggap sebagai komunikator aktif mengirimkan dan menafsirkan pesan. Istilah transaksi menekankan pada realitas bahwa pihak yang berkomunikasi berada dalam keadaan interdependensi atau timbal balik, eksistensi satu pihak ditentukan pihak lainnya. Pendekatan ini menegaskan bahwa semua unsur dalam proses komunikasi saling berhubungan. Persepsi seorang peserta komunikasi saling bergantung dengan persepsi orang lain terhadap dirinya, bahkan tergantung pula konteks lingkungannya (Mulyana, 2001;68).

Melalui sudut pandang komunikasi transaksional, maka diturunkan dalam perspektif komunikasi lingkungan yang pernah dikemukakan oleh Cox (2006). Cox menegaskan melalui definisi ,secara i s , dan karena itu . Secara f adalaharana dengan . Hal ini adalah

Pandangan komunikasi transaksional dan komunikasi lingkungan sebagaimana dijelaskan oleh Cox, kemudian menemukan payungnya pada tradisi komunikasi sosiokultural, sebagaimana dijelaskan oleh Stephen W Littlejohn (2009). Tradisi sosiokultural berasumsi bahwa aspek sosiokultural mempengaruhi interaksi (Littlejohn, 2009;460). Aspek sosiokultural ini akan mencakup banyak hal, baik itu etnis, agama, mata pencaharian, pendidikan, termasuk dalam hal ini aspek lingkungan.

Littlejohn (2009;67) juga menyebutkan bahwa tradisi sosiokultural salah satunya terpengaruh oleh etnografi atau observasi tentang bagaimana kelompok sosial membangun makna melalui prilaku linguistik dan non linguistik mereka. Etnografi melihat bentuk-bentuk komunikasi yang digunakan dalam kelompok sosial tertentu, kata-kata yang mereka gunakan, dan apa maknanya bagi mereka.

Gagasan penting dari masing-masing pendapat di atas bisa dikatakan jarang muncul dalam beberapa penelitian komunikasi, khususnya komunikasi lingkungan. Hal ini bisa ditelusuri dari beberapa hasil penelitian, seperti Ekna Satriyati (2011) yang menyoroti mengenai “Pengelolaan Komunikasi Lingkungan Berbasis Nilai-Nilai Multikultural di Pulau Masalembu dan Kangean Madura”. Penelitian ini lebih cenderung pada aspek komunikasi antar budaya mengenai lingkungan. Tampak juga dari hasil riset M Najib Husain (2011) tentang “Tata Kelola Komunikasi Lingkungan pada Kepemimpinan Parabella berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Buton”, ataupun hasil riset dari R Engkeu Agiati (2010) yang berjudul “Adaptasi Komunitas Adat terhadap Lingkungan, Studi Komunitas Kampung Dukuh di Garut dan Kampung Kuta di Ciamis”.

Sedangkan hasil riset komunikasi lingkungan yang berbicara khusus tentang kawasan hutan konservasi, masih sangat jarang. Justru yang muncul adalah riset-riset dari disiplin ilmu lain. Yang cukup menarik adalah hasil dari tim Schele Up Indonesia (2011) berjudul “Studi Pemahaman dan Praktik Alternatif Penyelesaian Sengketa oleh Kelembagaan Mediasi Konflik SDA di Riau, Jambi, Sumbar dan Sumsel”. Riset ini melihat bahwa penyelesaian konflik SDA, terutama di kawasan konservasi, harus dalam kerangka pemahaman ADR (alterative dispute resolution), bukan dalam skema hukum positif semata. Harus ada mekanisme di luar persidangan, yang memungkinkan masyarakat terlibat aktif.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelas bahwa penelitian yang dilakukan kali ini dimulai dari asumsi-asumsi umum mengenai komunikasi lingkungan sebagaimana dijelaskan oleh Cox, diikuti dengan perspetif komunikasi trasaksional dan dibawah payung tradisi sosiokultural. Pendekatan inilah yang akan membawa peneliti bisa memahami objek penelitian lebih jauh dan luas lagi.

  1. Tujuan Penelitian
    • Untuk mengetahui sudut pandang masyarakat dalam memaknai lingkungan SM Bentayan, baik dari aspek sejarah, budaya, dan tradisi yang berlangsung
    • Untuk memahami keterkaitan dan motif masyarakat dalam memaknai lingkungan SM Bentayan
    • Untuk memahami pola komunikasi masyarakat dalam memahami dan memaknai lingkungan SM Bentayan.
  • Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi. Dalam prosesnya, hal ini dimulai dengan pematangan proposal, kemudian turun ke lapangan. Proses penelitian lapangan adalah mendatangi kelompok masyarakat Gersik Belido, berbaur dengan mereka dan berdiam selama beberapa waktu di lokasi tersebut. Tujuannya adalah agar bisa lebih merekam proses komunikasi antar warga dalam memperlakukan lingkungan mereka.

Peneliti melakukan wawancara mendalam dan mengamati (observasi) objek penelitian, yaitu warga dusun Gersik Belido dalam berkomunikasi sehari-hari, terkait dengan keberadaan hutan SM Bentayan. Proses ini berlansung intensif, karena data yang didapat adalah data primer. Peneliti bisa lebih mudah dan leluasa dalam mendapatkan data, terutama dengan melakukan pembauran dan beradaptasi dengan warga sekitar.

Terdapat enam orang informan utama dalam penelitian ini, umumnya adalah para tokoh masyarakat setempat. Mereka ternyata memiliki pengaruh kuat sehingga pandangan mereka seringkali menjadi acuan bagi warga. Selanjutnya semua data dianalisis dengan teknk analisis interaktif, sebagaimana dijelaskan oleh Miles dan Huberman.

  • Hasil Penelitian
  1. Gambaran Wilayah

Bisa dikatakan bahwa warga yang menempati kawasan SM Bentayan, khususnya Dusun Gersik Belido adalah warga pendatang. Mereka ada yang berasal dari pemukiman terdekat dengan kawasan yang merupakan penduduk asli, ada juga yang datang dari kabupaten lain. Hal ini disebabkan karena daerah ini awalnya adalah hutan lebat yang tidak berpenghuni. Dari keterangan warga sekitar, kawasan hutan tersebut dulunya adalah daerah milik Marga Tungkal Ulu. Namun kemudian sekitar tahun 1970-an, di daerah ini dimasuki oleh perusahaan HPH, dimana hutan yang dulunya tidak terjamah manusia, akhirnya dibabat habis untuk diambil kayunya.

Penduduk mendiami wilayah ini sejak tahun 1981, dimulai dari Ahim, kemudian Sutibi, yang awalnya ingin membuka lahan perkebunan. Mereka tidak tahu dengan status kawasan, karena itu hanya main patok saja. Polanyapun masih berpindah-pindah. Sekitar tahun 2003, masuklah warga lain secara bersama-sama dengan dikoordinir oleh Muhammad Nur. Merekapun membentuk Kelompok Tani Permata Jaya Gersik Belido.

Sejak kedatangan rombongan tahun 2003 itulah, gelombang warga lain juga mulai datang dan membentuk rumah-rumah tersendiri. Atas inisiatif bersama, mereka membentuk pola pemukiman khusus, mematok lahan dan menentukan batas tanah secara bersama-sama pula. Alhasil, pemukimanpun terbentuk dan tertata cukup rapi. Sekilas kawasan ini seperti pemukiman transmigran.

Lokasi SM Bentayan sendiri, termasuk pemukiman yang dibuat warga, berada tidak jauh dari jalan lintas Sumatera, hanya sekitar 10 km. Jarak ini bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, baik roda 2 ataupun roda 4. Lancarnya akses ini disebabkan adanya jalan kecamatan yang menuju Desa Bertak (kecamatan Tungkal Ilir), sekaligus juga di sekitar daerah ini terdapat beberapa area tambang migas oleh perusahaan asing. Oleh karena itu jalan menuju Gersik Belido juga dilalui saban hari oleh kendaraan-kendaraan perusahaan migas.

  1. Masyarakat dalam Memaknai SM Bentayan

Keberadaan masyarakat Gersik Belido yang notabene adalah kaum pendatang, memiliki wilayah pemaknaan terhadap SM Bentayan yang hampir serupa. Hal ini terkait dengan motif kedatangan ke wilayah ini, yaitu untuk mencari penghidupan baru dengan membuka lahan pertanian yang masih kosong.

Pemaknaan masyarakat terhadap kawasan SM Bentayan sangat menonjol adalah motif ekonomi. Pandangan dari beberapa informan semuanya menunjukkan hal tersebut. Sutibi (60 tahun), salah seorang warga yang pertama kali datang ke lokasi ini, menyebutkan bahwa ia memang sengaja ke wilayah tersebut untuk membuka ladang. Awalnya ia tidak tahu menahu bahwa daerah itu adalah kawasan Suaka Margasatwa yang dilarang untuk dimasuki. Semuanya saat itu hanya belukar dan bekas-bekas penebangan pohon oleh perusahaan kayu.

Hal yang sama juga disebutkan oleh Pak Cik (Zukifli), seorang tokoh masyarakat Gersik Belido. Ia juga memahami wilayah ini sebagai areal untuk mencari nafkah. Saat ini bahkan Pak Cik sudah memiliki lahan karet seluas 2 Ha yang siap panen (berusia sekitar 4 tahun). Semuanya berada di kawasan SM Bentayan.

Masyarakat memaknai kawasan ini adalah sebagai lahan untuk membuka perkebunan dan pemukiman. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi lahan ketika mereka datang, yang sudah tidak memiliki lagi ekosistem hutan (pohon besar/sedang, rimba, hewan dan binatang buas). Yang ada hanyalah hutan belukar dan tunggul-tunggul kayu sisa penebangan oleh perusahaan terdahulu. Oleh karena itu mereka juga memahami ini sebagai lahan yang tepat digunakan untuk bercocok tanam, terutama untuk perkebunan karet dan kelapa sawit.

Proses pemaknaan ini tidaklah berlangsung saat itu saja, namun melewati proses-proses tertentu yang kemudian mendatangkan keyakinan pada mereka. Dalam konteks pendekatan komunikasi, hal ini disebut dengan kondisi-kondisi pembentuk peristiwa komunikasi atau bisa juga disebut konteks terjadinya komunikasi. Komunikasi adalah sebuah proses, dan itu merupakan tahapan-tahapan yang dinamis hingga membentuk pemahaman tersendiri.

Pemaknaan masyarakat terhadap kawasan SM Bentayan juga tidak berlangsung demikian saja. Proses yang dilalui adalah dari kedatangan awal dua orang warga. Merekalah yang pertama kali melihat bahwa kawasan ini sudah tidak memiliki hutan, hanya tersisa belukar semata. Sementara daerah-daerah lain disekitarnya dikenal sangat cocok untuk ditanam jenis tanaman karet dan kelapa sawit. Kecocokan inilah yang kemudian membuat warga berkebun di wilayah tersebut. Mereka juga awalnya tidak menemukan petugas penjaga hutan, dan mereka bisa bebas dan leluasa untuk masuk. Tidak ada gangguan sama sekali saat itu.

Pemaknaan ini didasarkan atas tiga hal utama yaitu :

  • Kondisi tanah dan iklim yang cocok dengan kebiasaan warga sekitar
  • Kondisi lahan kawasan yang tidak lagi memiliki hutan menurut pandangan umum
  • Tidak adaya petugas penjaga hutan ataupun rambu-rambu yang melarang warga memasuki daerah tersebut.
  • Motivasi ekonomi yang dimiliki warga untuk masuk ke daerah Bentayan.

Kondisi yang membentuk hal di atas kemudian dikomunikasikan kepada warga lain secara berantai. Polanya adalah dari satu orang ke orang lain, dan kemudian dikomandoi oleh salah seorang tokoh masyarakat yang juga aktifis LSM. Ada semacam keterikatan dengan tokoh tertentu, yang kemudian membuat warga beramai-ramai memasuki kawasan SM Bentayan. Hal yang disampaikan disini adalah adanya lahan yang masih kosong dan bisa digunakan oleh warga setempat.

 

 

  1. Keterkaitan dan Motif Masyarakat

Dalam proses pemaknaan terhadap kawasan SM Bentayan, sudah pasti terjadi keterkaitan antara masyarakat dengan lingkungan alam disekitarnya. Keterkaitan ini akan berhubungan dengan pemaknaan terhadap simbol-simbol alam yang didapati oleh masyarakat, dan perlakuan masyarakat terhadap simbol-simbol tersebut.

Sutibi dan Zulkifli, dua orang tokoh masyarakat Gersik Belido mengakui bahwa kedatangan berbagai warga ke wilayah ini adalah untuk membuka kebun. Mereka umumnya berasal dari daerah berbeda, bahkan banyak pula yang merupakan etnis Jawa. Hal yang sama disampaikan oleh Muhammad Nur, koordinator warga yang datang secara berkelompok, menyebutkan bahwa kehadiran warga adalah untuk mendapatkan lahan pertanian.

Mendasarkan diri untuk mendapatkan lahan pertanian, dengan asal usul etnis yang berbeda, kemudian mendorong masyarakat untuk mengekspoitasi areal yang berada di kawasan hutan ini. Mereka cenderung tidak memiliki keterkaitan erat, terutama secara sosial budaya dengan lokasi sekitar. Keterkaitan utama adalah motif ekonomi. Hal ini disebabkan oleh variasi etnis yang berada di wilayah ini, dimana terdapat raga etnis yang memiliki latar belakang pemahaman juga berbeda. Setidaknya terdapat beberapa etnis yang dominan di areal ini , yaitu Jawa, Riau, Lampung, daerah sekitar (Sungai Lilin, Makarti Jaya, Simpang Tungkal, Mangsang, dan Bayung Lincir). Ragam etnis ini memiliki pemahaman awal yang berbeda tentang kondisi alam disekitarnya, dan kemudian menyatu dalam satu sudut pandang yaitu membuka kebun untuk kepentingan ekonomi keluarga.

Hanya saja setelah mereka berdiam dan bermukim di areal ini, warga yang memiliki “jatah” 5 Ha/KK, membentuk pemukiman khusus dan melengkapi perkampungan mereka dengan berbagai fasilitas umum dan sosial. Dikatakan “jatah” lahan, karena ini dibuat berdasarkan kesepakatan bersama saja melalui Kelompok Tani Permata Jaya Gersik Belido. Mereka membuat aturan dan ketentuan sendiri, dan kemudian membaginya ke seluruh anggota kelompok.

Selain areal permukiman, mereka juga membuat batas-batas khusus, serta mempersiapkan areal untuk lahan pertanian. Luas keseluruhan wilayah yang “dikuasai” masyarakat adalah 1.600 Ha. Perinciannya, 100 Ha untuk pemukiman dan 1.500 Ha untuk perladangan. Jumlah ini tidak bertambah sejak 2003 lalu. Dalam hal ini warga menyadari bahwa posisi mereka berada di kawasan Suaka Margasatwa, dan sering berbenturan dengan petugas dari BKSDA. Oleh karena itu mereka mensepakati untuk tidak menambah areal lahan, tetapi tetap pada jumlah semula. Gambaran ringkas tentang pemukiman warga ini bisa dilihat dari gambar berikut :

 

Ke Belido II dan III

Peladangan

1.500 Ha

Penduduk Pribumi

SD

M

±2 Km

Jl. Asa Merah

Ke Bentayan

Ke Simp. Tungkal/jalan Lintas Sumatera

RT 21

RT 22

RT 23

RT 24

±8 Km

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan gambar di atas tampak bagaimana warga begitu teliti dalam membagi dan menentukan areal permukimannya. Semua lokasi di atas berada dalam kawasan SM Bentayan. Alasan warga dalam melakukan pembagian dan penataan ruang seperti di atas adalah untuk memudahkan dalam koordinasi dan keteraturan hubungan dengan warga lain.

Dalam proses penataan ruang tersebut, yang juga menunjukkan keterkaitan masyarakat dengan lingkungan setempat, didasarkan atas pengaruh tokoh masyarakat yang mereka akui. Mereka menyebutnya sebagai Ketua Kelompok, dan sekarang sudah menjadi Kepala Dusun (karena sejak Pemilu 2009, keberadaan mereka diakui secara administratif oleh Desa Simpang Tungkal sebagai dusun). Kepala Dusun/Ketua Kelompok inilah yang menentukan apa yang akan dilakukan, setelah sebelumnya melakukan rapat dengan warga.

Dalam memaknai karakteristik alam, masyarakat menyadari bahwa topografi dan iklim yang cocok untuk wilayah ini adalah tanaman karet dan kelapa sawit. Hal inilah yang ditanam secara massal oleh hampir seluruh warga. Pilihan ini juga menjadi alasan penting bagi warga untuk berargumentasi dengan pihak BKSDA. Mereka berasumsi bahwa yang diinginkan oleh pemerintah adalah tetap adanya hutan (dalam arti banyak pohon dan tumbuhan). Masyarakat menerjemahkannya dengan menanam tanaman karet dan kelapa sawit, yang dalam asumsinya juga mirip dengan tanaman hutan. Hal inilah yang dipelihara sampai sekarang.

  1. Pola Komunikasi Lingkungan Masyarakat Gersik Belido

Telah dijabarkan sebelumnya bagaimana keterkaitan masyarakat dengan lingkungan setempat, dengan motif untuk memaksimalkan pendapatan secara ekonomi. Dalam hal ini, lingkungan alam setempat (kawasan SM Bentayan), bagi masyarakat tetap dianggap sebagai wilayah yang harus dijaga, sesuai perspektif mereka.

Sumiran, salah seorang warga setempat menyatakan bahwa penghidupan mereka bersumber dari lingkungan sekitar. Mata pencaharian utama adalah bertani, yaitu areal hutan sekitar. Ia menyadari bahwa rusaknya hutan disekitar mereka akan berdampak pada mata pencahariannya. Oleh karena itu, mereka tetap berusaha menjaga kelestarian hutan tersebut. Tentu saja hal ini dalam perspektif masyarakat setempat.

Sumiran menunjukkan contoh dari pembukaan kebun karet. Awalnya areal ini bukanlah hutan lebat, tapi sisa-sisa penebangan pohon dari perusahaan dulunya. Warga lalu bersepakat bahwa pembukaan kebun karet hanya boleh di areal tersebut, tidak menyentuh hutan lain. Alasannya adalah, jika hutan disekitarnya dibabat habis, dikhawatirkan binatang-binatang lain akan masuk ke perkampungan. Untuk menjaga ini, maka setiap pembukaan lahan baru harus seizin dari kepala dusun/ketua kelompok. Semuanya harus dikomunikasikan kepada pimpinan, sehingga ada mekanisme kontrol terhadap aktifitas warga.

Hal yang sama juga tampak dari penjelasan Sujono, seorang warga Gersik Belido, dan juga dari Pak Cik. Semisal, pembukaan rawa untuk lahan sawah. Hal ini dibolehkan, namun tidak boleh menimbun rawa. Yang dibolehkan adalah memanfaatkan rawa untuk kepentingan ekonomi warga, misalnya bersawah atau membuat kolam ikan. Lain dari itu, tidak diperbolehkan.

Bentuk-bentuk seperti di atas bisa dilihat sebagai salah satu mekanisme komunikasi lingkungan masyarakat setempat, yang melihat bahwa kondisi daerah mereka yang memang “bermasalah”. Komunikasi lingkungan yang mereka terapkanpun juga dalam konteks lingkungan yang bermasalah secara hukum. Semua warga menyadari akan hal ini.

Mengacu pada Cox (2010), kondisi yang dialami warga adalah salah satu cara berkomunikasi mereka dalam memahami realitas lingkungan yang ada. Cara komunikasi ini selalu dilandasi oleh pemahaman bahwa mereka bukan perambah hutan (karena memang tidak ada hutan diawal mereka masuk). Hal ini selalu disampaikan kepada warga lain, dan selalu muncul pada saat rapat-rapat warga dilangsungkan. Peran tokoh masyarakat sangat penting dalam konteks ini, sehingga pemahaman seperti itu terus diturunkan ke warga lainnya

Selanjutnya, pola yang dilakukan adalah dengan membangun opini bersama, dalam berbagai aktifitas warga, bahwa apa yang mereka tanam (karet dan kelapa sawit) adalah juga bagian dari melestarikan hutan. Mereka tidak membangun sesuatu yang menghancurkan hutan (kecuali pemukiman), tetapi menanam tanaman yang juga bagian dari hutan. Hal menarik tampak dari penjelasan Sutibi, “jika karet ini sudah besar dan sudah tua, bukankah itu juga sama dengan hutan. Burung juga bisa hidup disitu, walaupun binatang buas tentu tidak ada.”

Dalam proses komunikasinya, warga tidak terlalu memperhatikan simbol-simbol alam, seperti meningkatnya cuaca panas, curah hujan yang tinggi, angin kencang, termasuk ketiadaan hewan-hewan predator. Hal ini tidak menjadi perhatian. Kalaupun mereka merasakannya, itu dianggap sebagai fenomena biasa, dan tidak ada perlakuan khusus. Hewan predator sepert harimau, buaya, babi hutan, cenderung dianggap sebagai musuh, yang apabila bertemu akan diburu dan dibunuh.

Pola komunikasi lingkungan yang cenderung terjadi di masyarakat Gersik Belido, umumnya terpaku pada peran tokoh masyarakat. Keterkaitan ini muncul karena mereka merasakan tekanan yang kuat dari pemerintah (BKSDA), yang bisa mengancam keselamatan bersama. Oleh karena itu, awalnya selalu bersumber dari tokoh masyarakat. Para tokoh sendiri, juga tidak membuat keputusan sendiri-sendiri. Mereka selalu mengadakan rapat jika ada masalah-masalah tertentu. Semuanya dilakasanakan dengan dialog, walaupun pendapat paling didengar adalah para tokoh tersebut.

Hanya saja, belakangan seiring dengan mulai banyaknya warga yang datang, dan juga banyak pula warga yang pindah, seringkali terjadi hal-hal yang mengganggu dalam proses komunikasi mereka mengenai keutuhan lingkungan tempat tinggal. Bentuknya adalah jual beli lahan. Proses jual beli lahan mulai terjadi, walaupun tidak memiliki dasar surat-menyurat yang kuat secara hukum positif. Tetapi efeknya adalah mulai muncul penguasaan pribadi terhadap lahan dan mulai ada warga yang menguasai lahan dalam jumlah banyak. Hal ini berakibat pada munculnya prilaku individualistis dan mulai berkurangnya sikap kebersamaan warga. Efeknya adalah lingkungan kemudian mulai dilakukan eksploitasi lebih luas.

Gambaran ringkas pola komunikasi lingkungan yang dilakukan warga Gersik Belido adalah sebagai berikut :

 

 

Gambar 2

Pola Komunikasi Lingkungan Masyarakat Gersik Belido

 

Noise (jual beli lahan, individualistis, pendatang baru)

Tekanan Aturan (kawasan SM, tindakan BKSDA)

Makna Ekonomis, Keutuhan SDA

Makna Ekonomis, Keutuhan SDA

Tokoh Masyarakat

Warga

Lingkungan Alam (SM Bentayan)

Rapat, Dialog, warisan cerita

Benang merah yang bisa ditarik dari penjelasan di atas sesuai hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, sudut pandang masyarakat dalam memaknai SM Bentayan adalah sudut pandang kaum pendatang yang ingin membuka lahan baru. Sudut pandang sesuai etnis asal mereka tidak lagi terlihat. Masyarakat dalam memaknai SM Bentayan merupakan sebuah proses yang berlangsung dari pihak-pihak tertentu, terutama cerita dan keterangan warga yang sudah ada sebelumnya. Pemaknaan ini juga didasarkan atas kondisi fisik SM Bentayan yang menurut anggapan mereka sudah tidak memiliki hutan lagi.

Pola komunikasi lingkungan yang terbentuk adalah sebuah pola interaktif antar sesama masyarakat dengan melihat kawasan SM Bentayan (lingkungan alam) sebagai objek ekonomi. Oleh karenanya, pola yang terjadi juga dilandaskan pada kepentingan ekonomi. Unsur dialogis terjadi adalah antara anggota masyarakat dengan tokoh masyarakat, didasarkan atas permasalahan bersama yang mereka rasakan. Selain itu gangguan proses komunikasi lingkungan juga terjadi, terutama karena banyaknya warga lain yang masuk, dan kemudian terjadi pula proses jual beli lahan.

 

Catatan :

Makalah ini disajikan dalam Seminar Nasional Ekologi dan Konservasi, Universitas Hasanuddin, Makassar, 20-21 November 2013

 

Daftar Pustaka

Agiati, R Engkeu, 2008, Adaptasi Komunitas Adat Terhadap Lingkungan (Studi Komunitas Adat Kampung Dukuh di Garut dan Kampung Kuta di Ciamis, Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran

Jurin, Richard, dkk, 2010, Environmental Communications, Skill and Principles for Natural Resources Managers, Scientist, and Engineer, Springer Doerdrecht Heidelberg, Newyork London.

Huberman, A. Michael & Miles B. Matthew. 1992. Analisis Data Kualitatif. Penj. Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.

Husaini, M Najib, 2011, Tata Kelola Komunikasi Lingkungan Pada Kepemimpinan Parabela Berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Buton, Konferensi Komunikasi Nasional “Membumikan Ilmu Komunikasi di Indonesia” Depok, 9-10 November 2011, Jawa Barat

Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth Publising Company

Mulyana, Deddy, 2001, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Remaja Rosda Karya, Bandung

Satriyati, Ekna, 2011, Pengelolaan Komunikasi Lingkungan Berbasis Nilai-Nilai Multikultural di Pulau Masalembu dan Kangean Madura, Konferensi Komunikasi Nasional “Membumikan Ilmu Komunikasi di Indonesia” Depok, 9-10 November 2011, Jawa Barat

Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Data dan Informasi Kehutanan Sumatera Selatan Tahun 2011, Palembang

Sumatera Ekspres, 26 Desember 2012

Cox, Robert, 2010, Environmental Communication and Public Sphere, Sage Publication, Los Angeles, Washington DC, USA

Marga adalah bentuk pemerintahan asli di Sumatera Selatan yang bersifat otonom. Kepala Marga disebut Pasirah. Marga dihapuskan seiring dengan keluarnya UU No. 5/1979 tentang pemerintahan desa.