Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang   Selamat dan Sukse Atas Diraihnya Gelar Guru Besar (Professor) Kepada : Prof. Dr. Nyayu Khodijah, M.Si Prof. Dr. Izomiddin, MA Prof. Dr. Kasinyo Harto, M.Ag    Selamat dan Sukses Kepada Dr. Fitri Oviyanti. M.Ag, Dr. Leni Marlina. M.Pd.I, Dr. Indah Wigati.M.Pd.I, Dr. Yuniar.M.Pd.I dan Dr. Jummiana.M.Pd.I atas di raihnya gelar Doktor (S-3) Pada Ujian Promosi Doktor UIN Raden Fatah Palembang  

DOSA BESAR PEMALSUAN AKADEMIK

Ditulis oleh : Dr. Yenrizal, M.Si | 27/04/2017 WIB

DOSA BESAR PEMALSUAN AKADEMIK

Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.

(Dosen Komunikasi UIN Raden Fatah)

 

Dunia pendidikan Indonesia dihebohkan oleh kabar buruk tentang pemalsuan akademik. Isu yang menonjol adalah soal ijazah palsu. Ijazah palsu yang dimaksud disini bukan fisik ijazahnya yang palsu, tetapi proses mendapatkan ijazah itu yang tidak mengikuti alur sebenarnya. Parahnya lagi, ini justru menerpa beberapa kalangan dosen/pendidik, yang sejatinya adalah orang yang berperan menanamkan aspek kejujuran, etika, dan bertanggungjawab terhadap pencerdasan generasi-generasi masa datang. Kasus ini mencuat setelah adanya temuan tentang Universitas Berkeley di Indonesia.

Apabila kasus itu benar, maka sulit untuk mengatakan bahwa itu tidak salah. Jika dicarikan levelnya, apabila dosen atau pendidik terlibat dalam kasus ini, sama dengan dosa besar, yaitu dosa yang tidak terampuni lagi. Sebagai pengibaratan, jika korupsi menghancurkan kehidupan masyarakat, membuat miskin banyak orang, maka pemalsuan akademik punya efek lebih parah lagi. Ia berdampak pada penghancuran generasi masa datang, generasi yang akan meneruskan negara ini. Logika sederhananya, jika pengajarnya saja sudah tidak benar, maka yang diajarkannyapun akan menerima ilmu yang tidak benar pula. Ini diwariskan terus ke generasi berikutnya, dan semakin bertumpuk dosanya ketika kesalahan itu semakin panjang diwariskan.

Masalah etika agaknya memang menjadi problem berkepanjangan di negara ini, di level apapun. Etika ini semakin runtuh, ketika kalangan yang diharapkan menjadi benteng penjaga etika yaitu pendidik, ikut-ikutan pula mengotorinya. Sebenarnya dalam ranah ilmu pengetahuan terdapat unsur dasar keilmuan yaitu epistemologi. Ini bicara tentang bagaimana hubungan pencari ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan itu sendiri. Singkatnya, bagaimana seseorang mempelajari dan mencari ilmu pengetahuan. Guna bisa sampai ke level yang disebut ilmuwan, termasuk seorang pendidik, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, ada proses yang dijalani, dan ada metodologi yang dipakai, sehingga ilmunya itu bisa dipertanggungjawabkan ke publik. Kalau aspek ini tidak dilalui, maka ia bukanlah ilmuwan dan tidak pantas menyandang predikat akademisi di level apapun.

Orang yang melanggar aspek epistemologi ini, adalah orang yang sudah melakukan pelanggaran akademik tertinggi. Apalagi kemudian gelar akademik (Sarjana, Master, dan Doktor) bisa pula diraihnya, maka dosa itu semakin berat. Sejatinya, bagi seorang ilmuwan, gelar akademik bukanlah cita-cita, tetapi sesuatu yang akan mengikuti dan didapat dengan sendirinya, jika proses pendidikan telah dijalani dengan baik. Artinya, gelar tersebut adalah pengakuan dan penghargaan terhadap kemampuan akademis yang telah teruji pada proses pendidikan. Timbul pula pertanyaan, seberapa besar kalangan akademisi sekarang ini yang meneruskan kuliah betul-betul untuk mencapai pengakuan ilmiah ini?

Alih-alih pengakuan akademis, banyak pula yang bermotivasi “yang penting dapat gelar.” Toh, kalau sudah pegang gelar, publik tidak akan bertanya, darimana dapatnya, nilainya berapa, yudisiumnya apa, karyanya apa, berapa tahun tamatnya, dan berbagai pertanyaan dasar lainnya. Ini fenomena umum, dan sepertinya ada juga kalangan dosen yang punya motivasi seperti ini.

Andai ditelisik lebih jauh, sebenarnya pemalsuan akademik tidak sebatas soal ijazah tanpa kuliah saja (ijazah palsu), banyak pelanggaran-pelanggaran etika lainnya di kalangan pendidik (dosen) yang bisa dikatagorikan masuk dalam ranah etika bermasalah. Seperti kasus oknum dosen yang membajak karya ilmiah mahasiswa, plagiat, ataupun Tesis dan Disertasi yang dibuatkan orang lain. Bisa pula sebaliknya, si oknum dosen sendiri yang nyambi sebagai pembuat tesis/disertasi orang lain. Ini juga menjadi catatan penting, sekaligus menambah daftar dosa besar serta mencoreng nama dosen secara keseluruhan.

Pengalaman saya ketika menjalani program doktor maupun program magister beberapa waktu lalu, serta kehidupan sebagai dosen yang dijalani selama ini, persoalan seperti ini bisa disebabkan oleh banyak hal, walaupun sebenarnya ini terpulang kepada individu si dosen bersangkutan. Tentu saja, tidak bisa digeneralisir semua dosen berprilaku negatif seperti itu, tetapi harus diakui ada dan mungkin cukup banyak yang punya kecenderungan negatif.

Faktor penyebab pertama bisa dikatakan adalah individu si dosen, terutama motivasi dalam mendapatkan gelar akademik. Apabila motivasi utamanya sekedar dapat gelar, maka ada kecenderungan untuk menghalalkan segala cara, sangat tipis kemungkinan akan berusaha semaksimal dan sehalal mungkin, karena proses mendapatkan gelar akademis bukanlah hal yang mudah. Saat dua semester awal dulu, saya menjalani pendidikan doktor di Universitas Padjadjaran, saya merasakan beratnya beban untuk mengerjakan tugas kuliah. Beratnya ini disebabkan oleh kuantitas tugas yang banyak (tiap dosen rata-rata satu tugas per minggu), waktu yang mepet, tuntutan kualitas tugas (tentu kualitas level Doktor akan berbeda dengan level Strata 1 atau magister), dan referensi yang tidak mudah dicari apalagi hampir semua bahan berbahasa asing. Efeknya, hampir setiap hari harus berkutat di depan laptop, entah itu siang atau malam.

Faktor kedua, berkaitan dengan aspek pertama, kemampuan si dosen sangat menentukan sekali, baik kemampuan teknis (seperti penggunaan teknologi informasi), maupun penguasaan terhadap bidang ilmu yang digelutinya. Sekarang ini, jujur saja bahwa pembelajaran sangat terbantu oleh kemajuan TI, terutama internet. Kerepotan mencari referensi bisa diatasi dengan fasilitas yang ada di internet. Akan tetapi, sulit juga memadukan hal tersebut jika pengetahuan dosen terhadap bidang ilmunya masih minim (terutama level doktor). Jalan pintas terhadap ini adalah, buat tugas apa adanya, atau pinjam punya teman, atau bisa juga dibuatkan orang lain. Sekali lagi ini terkait dengan motivasi.

Faktor ketiga, sekarang ini tuntutan terhadap beban kerja dosen dibebankan dengan label sertifikasi. Setiap dosen dituntut untuk senantiasa membuat karya ilmiah, mengajar, meneliti dan mengabdi. Sementara di sisi lain, suara-suara miring soal fakta bahwa nilai kesejahteraan yang diperoleh masih belum berimbang, cukup membebani. Ini menjadi masalah tersendiri, yang dalam berbagai aturan teknis justru dianggap banyak membelenggu dosen tersebut. Apakah tuntutan profesi ini berkaitan dengan prilaku beberapa oknum dosen yang menghalalkan segala cara? Kita tidak bisa memastikannya, perlu pembuktian ilmiah pula untuk hal ini. Tetapi fakta bahwa beban kerja dosen cukup berat dan nilai kesejahteraan belum berimbang, kiranya sudah jadi pengetahuan bersama.

Menjadikan faktor kesejahteraan sebagai alasan menghalalkan segala cara, tentu tidak bisa diterima akal sehat. Profesi dosen bagaimanapun adalah profesi terhormat, karena disini ada label intelektual, pendidik, kelompok yang akan mencerahkan bagi generasi berikutnya. Selain itu dosen juga dituntut untuk bermanfaat besar bagi masyarakat disekitarnya, jangan hanya jadi menara gading, tapi menara air yang menyejukkan dan memberikan kemudahan.

Sebagai kaum intelektual, menarik untuk melihat klasifikasi yang dibuat oleh Gramsci, yang membedakan antara intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah kelompok yang puas dengan apa yang ada padanya, cenderung meneruskan saja apa yang sudah ada, tidak ada kreatifitas. Mereka cenderung terpisah dengan lingkungan sekitar, berkutat didalam saja. Sebaliknya intelektual organik adalah kalangan yang selalu gelisah dan selalu berusaha mencari sesuatu yang baru. Ia tidak bisa diam dengan kondisi disekitarnya. Kaum organik ini sangat menjunjung tinggi kejujuran dan kreatifitas, sebaliknya kalangan tradisional lebih mementingkan stabilitas internal semata. Yang penting ia aman.

 Lebih kontras lagi, bisa dilihat gagasan Julien Benda tentang pengkhianatan intelektual. Salah satu indikasinya adalah kaum intelektual yang melakukan pergeseran etika dasar menjadi relativisme moral. Yang sudah dianggap salah, lambat laun di geser menjadi sesuatu yang relatif. Nilai etika umum akhirnya “disesuaikan” dengan kondisi tertentu. Akhirnya terjadilah berbagai kebobrokan tersebut. Asumsinya dirubah, gelar akademik tidak mesti dengan kuliah, yang penting kompetensinya dan diakui publik. Kuliah dan menjalani proses dianggap semata hanya seremonial belaka. Kebenaran-kebenaran buatan seperti inilah yang kemudian diteruskan ke generasi berikutnya. Akibatnya terciptalah generasi-generasi pembohong berikutnya. Fakta-fakta inilah yang menunjukkan bahwa pemalsuan akademik ada di lingkungan perguruan tinggi kita, dan tentu saja ini menjadi benalu bagi proses pendidikan di negara ini.

*) Tulisan ini sudah pernah di muat di Sriwijaya Post