Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang  

DINAMIKA KOLONISASI SEMUT RANGRANG (Oecophylla smaragdina) TERHADAP NILAI EKONOMI PERTANIAN DAN KAIT

Ditulis oleh : Dr. Irham Falahuddin, M.Si | 06/05/2017 WIB

DINAMIKA KOLONISASI SEMUT RANGRANG (Oecophylla smaragdina) TERHADAP NILAI EKONOMI PERTANIAN DAN KAITANNYA DALAM AL-QUR’AN

Irham Falahudin

Dosen Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, IAIN Raden Fatah Palembang

Email: irham_71@yahoo.com

 

ABSTRAK

Semut rangrang (Oecophylla) termasuk serangga dalam ordo Hymenoptera, family Formicidae. Terdapat dua spesies semut rangrang yaitu O. smaragdina yang tersebar di India, Asia Tenggara sampai Australia dan O. longinoda yang tersebar di benua Afrika. Setiap sarang semut memiliki ukuran yang berbeda, sehingga dinamika populasinya berbeda pada setiap koloni. Semut ini merupakan serangga sosial, hidup dalam suatu masyarakat yang disebut koloni. Koloni Oecophylla terdiri atas kasta reproduktif dan nonreproduktif. Ratu dan jantan merupakan anggota kasta reproduktif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika kolonisasi semut rangrang terhadap nilai ekonomi pertanian yang dihasilkannya. Selain itu melihat perannya seperti yang termaktub didalam al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara langsung hand collecting. Dari hasil penelitian didapatkan 8 koloni semut rangrang dengan ukuran koloni yang bervariasi. Mosaik sarang semut rangrang (Oecophylla smaragdina) yang didapat ukuran terbesar (69 cm: 14,2 cm) dan yang terkecil (13 cm: 11 cm) dengan bentuk sarang seperti segita dengan jumlah ruang rata-rata 2. Dinamika koloni semut rangrang (Oecophylla smaragdina) juga bervariasi dengan jumlah populasi terbanyak dalam satu sarang berjumlah 7508 ind/sarang dan paling sedikit 578 ind/sarang. Semakin besar populasi semut dalam satu sarang semakin besar nilai ekonominya.

 

ABSTRACT

Weaver ants (Oecophylla smaragdina) including insects in the order Hymenoptera, family Formicidae. There are two species of weaver ants is O. smaragdina spread across India, South East Asia to Australia and O. longinoda spread across the African continent. Each ant has a different size, so that the population dynamics is different in each colony. These ants are social insects, living in a society called colonies. Oecophylla colonies consisting of reproductive caste and nonreproduktif. Queens and males a reproductive caste members. This study aims to look at the dynamics of colonization weaver ants to agricultural economic value it generates. Additionally saw his role as that contained in the Qur'an. This study used survey method with direct sampling technique hand collecting. From the results, 8 weaver ant colonies with colony size varied. Mosaic weaver ant (Oecophylla smaragdina) obtained the largest size (69 cm: 14.2 cm) and the smallest (13 cm: 11 cm) with a shape like triangulasi nest with the average amount of space 2. Weaver ant colony dynamics (Oecophylla smaragdina) also varies with the number of the largest population in 7508 numbered ind nest / hive and at least 578 ind / nest. The larger the population of ants in one nest the greater the value ekonomiya.

Keyword: Dynamics colony; weaver ant (Oecophylla smaragdina); economy value agriculture

 

 

A. PENDAHULUAN

Semut rangrang merupakan salah satu genus tertua di dunia dan punya jangkauan teritori yang luas (Wilson dan Taylor, 1964). Semut merupakan salah satu serangga sosial yang memiliki sistem komunikasi untuk berhubungan dengan sesama anggota koloninya, dapat berupa sentuhan, suara, visual dan kimiawi (Romoser, 1981 dalam Harlan, 2006). Sistem komunikasi visual dan kimiawi dapat berupa feromon yang digunakan untuk menentukan lokasi makanan pada serangga. Aktivitas O. smaragdina terjadi sepanjang waktu, tetapi aktivitas pada siang hari lebih dominan dibandingkan pada malam hari. Aktivitas di malam hari lebih banyak dilakukan di dalam sarang.

Kemampuan kerjasama yang baik terlihat dalam setiap aktivitas semut. Ada beberapa semut yang memiliki nilai ekonomis baik secara materil maupun non materil. Keberadaan semut kadang menimbulkan masalah bagi manusia, selain itu juga ada manfaatnya dalam kehidupan manusia. Modal pembentukan sarang, merupakan salah satu kunci untuk pemahaman tentang mosaik sarang semut arboreal. Kita dapat membandingkan nilai penting komponen ekonomi dan lingkungan terhadap pengendalian biologis (Lordon dan Dejean, 1999).

Kemampuan pembentukan sarang, merupakan adaptasi bagi semut arboreal. Potensial ini berfluktuasi terhadap kemampuan kerja dari semut tersebut. Secara organisasi semut mempunyai tugas yang jelas. Oleh karena itu sarang menjadi bagian yang penting dalam dinamika populasi semut tersebut. Kemampuan taste ini akan mempengaruhi proses mosaik yang terbentuk dalam pembentukan sarang. Beberapa faktor penting dalam proses pembentukan sarang pada semut arboreal seperti rangrang adalah jenis makanan dan tumbuhan atau dahan sebagai tempat tinggalnya. Dominansi jenis tertentu dalam suatu populasi akan menentukan bentuk dan ukuran sarang yang dibuat. Terkadang manipulasi mosaik sarang dipengaruhi oleh dominansi semut pada pohon tersebut (Huang dan Yang, 1987; Way dan Khoo, 1992).

Studi ekologi hewan setidaknya mencakup tiga aspek pokok dalam mempelajari bentuk kehidupan hewan tersebut. Aspek tersebut meliputi deskriptif, kuantitatif, dan analitik sintetik ( Falahudin, 2013 ). Semut termasuk organisme yang bersifat motil, artinya dapat berjalan dari satu tempat ketempat lain. Jenis – jenis hewan tertentu tinggal di suatu lingkungan hidup yang sesuai dengan ciri – ciri kehidupannya. Sehingga ada yang hidup di tanah disebut dengan teresterial, di pohon arboreal dan di air dikenal dengan aquatik. Berpindah atau tidaknya dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, udara dan ketersediaan makanan.

Semut rangrang merupakan serangga eusosial yang mempunyai tugas dan fungsi yang jelas. Hal ini terlihat dari siklus hidupnya Kehidupan semut dimulai dengan telur. Jika telur dibuahi, yang diploid akan menjadi semut betina, jika tidak, maka akan menjadi semut jantan (haploid). Semut holometabolous, serta berkembang dengan metamorfosis lengkap, melewati tahap larva dan pupa (kepompong dengan yang exarate) sebelumnya mereka menjadi orang dewasa. Tahap larva dalam proses semut dalam pembentukannya misalnya, tidak memiliki kaki sama sekali  dan tidak bisa merawat dirinya sendiri. Perbedaan antara ratu dan pekerja dan antara kasta pekerja yang berbeda ketika mereka ada, ditentukan oleh makanan dalam tahap larva. Makanan ini diberikan kepada larva melalui proses yang disebut trophallaxis,  dimana semut regurgitates sebelumnya dipegang dalam tanaman makanan untuk penyimpanan komunal. Larva dan pupa harus disimpan pada suhu yang cukup konstan untuk memastikan pengembangan yang tepat, dan sebagainya sering dipindahkan di berbagai ruang merenung dalam koloni.

Proses kehidupan semut rangrang ini jelas terlihat dan tergambar dalam al-Qur’an seperti berikut ini “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16: 68-69).

Begitu pentingnya serangga sosial dialam yang mempunyai peran dalam kehidupan manusia. Begitu juga dalam surat yang lain Allah SWT menegaskan bagaimana kemampuan semut dalam membuat sarang dan mencari makan seperti beberapa surat yang artinya “tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya” (QS. Hud, 11: 56) dan “...sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki” (QS. Adz-Dzariyat, 51: 58).

Kemampuan semut rangrang dalam membuat sarang merupakan pelajaran berharga bagi kita manusia. Selain tempat yang baik, semut juga memperhatikan sanitasi dan sumber daya yang cukup. Peran penting dari proses terbentuknya sarang semut rangrang adalah pola-pola pembentukannya. Hal ini dapat dijadikan indikator lingkungan di alam, terutama dibidang pertanian. Kemampuan pembentukan sarang yang disebut kolonisasi. Proses kolonisasi ini berjalan sepanjang waktu. Kemampuan membuat sarang akan terjadi perubahan dinamika populasi semut rangrang. Oleh karena itu proses pembentukan sarang oleh semut rangrang akan membawa dampak nilai ekonomi bagi manusia. Nilai ekonomi yang praktis adalah manusia dapat memanfaatkan semut tersebut dari berbagai siklus kehidupan semut untuk menghasilkan nilai ekonomi. Selain bernilai ekologi proses pembentukan sarang semut rangrang juga bernilai ekonomi yang penting bagi masyarakat sekitarnya atau masyarakat pertanian. Nilai ekonomi yang didapat oleh masyarakat adalah nilai jual sarang, telur dan larva yang bernilai cukup tinggi yaitu 80.000 sampai dengan 100.000 perkilogramnya.

Dari beberapa uraian latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang dinamika kolonisasi semut rangrang (Oecophylla smaragdina) terhadap nilai ekonomi pertanian dan kaitannya dalam al-qur’an. Dengan demikian kita akan dapat menyeimbangkan kehidupan kita dengan alam dan bersahabat dengan serangga terutama semut rangrang.

 

B. BAHAN DAN METODE

Penelitian ini telah dilaksanakan diareal perkebunan kelapa sawit swasta di Desa Gasing, Tanjung api-api, Kabupaten Banyuasin terletak pada koordinat 104,40o- 105,15o Bujur Timur dan 1,3o-4o Lintang Selatan, Propinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dari bulan Maret 2013 sampai dengan Juni 2013.

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelapa sawit, Koloni semut rangrang, kloroform, lem, kapur ajaib.  Sedangkan alat yang digunakan kantong plastik ukuran 1 kg, kain kasa, pinset, gunting daun, botol sampel, sarung tangan, camera.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey penandaan. Studi dinamika kolonisasi semut rangrang (Oecophylla smaragdina)  dilakukan pada perkebunan kelapa sawit dibagian atas atau semut yang bersarang di dahan . Studi ini dilakukan untuk melihat gambaran ekologi dari fluktuasi kolonisasi semut rangrang. Dengan teknik survey kita melihat ada tidaknya koloni semut rangrang pada setiap lokasi.  Dari hasil studi area tersebut, maka pengambilan sampel koloni untuk menentukan dinamikanya dilakukan dengan teknik hand collecting (Agosti et al, 2000) yaitu metode pengambilan secara langsung dengan menggunakan tangan dan koloni dikoleksi kemudian menghitung populasi semut dan mengukur sarang dan melihat mosaiknya.

Prosedur dan cara kerja dilapangan dalam penelitian ini adalah:

  1. Mosaik Sarang
  1. Menentukan luas areal dan daerah jelajah dalam survey di areal perkebunan kelapa sawit.
  2. Kemudian setelah menentukan titik awal dalam survey, maka mengamati dan mengambil sarang semut yang terdapat di pohon kelapa sawit dengan cara menggunting sarangnya dan masukkan kedalam plastik putih yang besar yang telah diberikan kapas dengan larutan eter/kloroform.
  3. Waktu pengambilan sarang dari pukul 07.00-12.00 wib. Setelah dikoleksi dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
  4. Di laboratorium, sarang semut tersebut dianalisis secara morfometrik dengan mengukur panjang, lebar dan tinggi sarang serta ruang yang terbentuk.

 

 

2. Dinamika Populasi Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina)

  1. Setelah langkah kerja pertama selesai, selanjutnya menghitung populasi koloni yang terdapat disarang tersebut.
  2. Masing-masing sarang yang telah diukur tadi, dipisahkan dengan sarang lainnya kemudian setiap sarang dihitung jumlah semut jantan, betina, ratu, telur dan larva untuk menentukan dinamika populasinya dalam setiap sarang.
  3. Data yang terkumpul ditabulasi untuk memperkirakan nilai ekonomis yang didapat dari setiap mosaik yang diambil.

 

C. HASIL DAN DISKUSI

1. Hasil

Adapun hasil penelitian mosaik sarang dan dinamika koloni yang didapatkan dapat terlihat dalam tabel 1 dan tabel 2 berikut ini:

Tabel 1. Ukuran dan Mosaik Sarang Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina) Pada Perkebunan Kelapa sawit

No Sarang

Panjang

(cm)

Lebar

(cm)

Jumlah

Ruang

Jumlah Koloni (ind/sarang)

1

54

9,5

2

1468

2

69

14,2

2

7508

3

47

18

1

1318

4

33

13,1

2

1434

5

33

11

1

578

6

65

17,2

2

4390

7

45

15,5

2

2816

8

33

13,1

1

1623

rerata

47,375

13,95

2

2641,875

 

 

 

 

 

Tabel 2. Dinamika Kolonisasi Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina) Pada Perkebunan Kelapa sawit

No Sarang

Jumlah

Jantan

(Persarang)

Jumlah

Betina (Persarang)

Jumlah

Telur

(Persarang)

Jumlah Larva

(Persarang)

Total

1

383

201

397

487

1468

2

1115

1642

2738

2013

7508

3

318

300

145

555

1318

4

289

587

201

357

1434

5

115

132

173

158

578

6

1102

1320

758

1210

4390

7

876

765

650

525

2816

8

356

378

432

457

1623

Jumlah

4554

5325

5494

5762

 

 

2. Diskusi

Sebagai serangga sosial, semut rangrang Oecophylla smaragdina memiliki aktivitas harian, antara lain meliputi perilaku menelisik (grooming),trofalaksis, pencarian makan, dan pemindahan koloni. Aktivitas pencarian makan berhubungan dengan daerah teritori. Teritori dapat bersifat absolut dan spatiotemporal. Teritori absolut yaitu daerah yang dipertahankan dari musuh yang datang di setiap waktu. Beberapa semut seperti Oecophylla smaragdina, Formica rufa, Iridiomyrmex purpureus merupakan semut engan teritori absolut (Holldobler & Wilson, 1990). Teritori spatiotemporal yaitu daerah tertentu yang hanya dipertahankan dari penyusup pada waktu tertentu. Bentuk teritori dapat bersifat dua dimensi dan tiga dimensi. Teritori Oecophylla smaragdina umumnya bersifat tiga dimensi (Holldobler & Wilson, 1990).

Kemampuan teritori ini juga mempengaruhi dalam pembuatan mosaik sarang. Selama penelitian, didapatkan delapan sarang dengan ukuran yang bervariasi (Tabel 1).  Semakin besar ukuran sarang maka semakin besar jumlah koloni yang didapat. Kemampuan semut dalam membuat koloni yang permanen tidak lepas dari sumber daya makakan yang tersedia serta kondisi lingkungan yang mendukung. Pada tabel 1,  jelas terlihat ukuran sarang yang besar yaitu nomor  sarang 2, 6, 1, 3 dan 7. Ukuran yang besar jumlah koloni yang dihasilkan secara beruratan 7508 ind/sarang, 4390 ind/sarang, 1468 ind/sarang, 2816 ind/sarang. Pemindahan koloni baru akan terlihat dari bentuk sarang muda atau sarang tua jika dibuka dan dianalisis tidak ditemui ratu dan jumlah populasinya juga sedikit.

Pada tabel 2, terlihat dinamika populasi semut yang ditemukan pada berbagai sarang di perkebunan kelapa sawit bervariasi. Pada satu sarang yang ukuran besar didapatkan jumlah anakan (telur dan larva) dengan jumlah total dari delapa sarang yang ditemukan 5494 telur dan 5762 larva. Dari jumlah tersebut cukup banyak menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat. Selama empat bulan jumlah sarang yang ditemukan dapat diamati setiap 10 sampai dengan 15 hari. Pada waktu tersebut biasanya telah terbentuk sarang muda yang baru. Dalam kurun waktu 10 hari sarang semut tersebut dapat dipanen yang rata-rata beratnya sekitar 1 kg/sarang.

Kemampuan dalam pembentukan koloni tersebut tidak terlepas dari faktor ekologi. Salah satu unsur penunjangnya adalah sumber daya dan unsur peromon. Sumber daya adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh organisme, yang dapat dibedakan atas materi, energi dan ruang. Sumber daya digunakan untuk menunjukkan suatu faktor abiotik maupun biotik yang diperlukan oleh hewan, karena tersedianya di lingkungan berkurang apabila telah dimanfaatkan oleh hewan. Setiap hewan akan bervariasi menurut ruang (tempat) dan waktu. Oleh karena itu setiap hewan senantiasa berusaha untuk selalu dapat beradaptasi terhadap setiap perubahan lingkungan tersebut. Dalam penyesuaian diri tersebut hanya hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dapat bertahan hidup, sementara yang tidak mampu beradaptasi akan mati atau beremigrasi bahkan akan punah (Leonotis, 2012).

Secara ekonomi, maka selama empat bulan penelitian berarti bisa dihasilkan 2 kali panen dalam satu pohon. Keuntungan ekonomis bagi petani atau perkebunan kelapa sawit, selain dapat menjaga stabilitas lingkungan terhadap hama ulat. Juga dapat dipanen telur atau larvanya dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Selain itu semut rangrang di perkebunan kelapa sawit tersebut dapat mengganti atau menambah keragaman pada agroekosistem yang telah ada dapat dilakukan agar musuh alami efektif dan populasinya meningkat (Van Driesche & Bellows Jr., 1996), dengan cara: 1) Menyediakan inang alternatif dan mangsa pada saat kelangkaan populasi inang; 2) Menyediakan pakan (tepung sari dan nektar) parasitoid dewasa dan, 3) Menjaga populasi hama yang dapat diterima pada waktu tertentu untuk memastikan kelanjutan hidup dari musuh alami

 

D. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan diskusi dapat disimpulkan beberapa hal bahwa mosaik sarang semut rangrang (Oecophylla smaragdina) yang didapat bervariasi dari ukuran yang terbesar (69 cm: 14,2 cm) dan yang terkecil (13 cm: 11 cm) dengan bentuk sarang seperti segita dengan jumlah ruang rata-rata 2. Dinamika populasi semut rangrang (Oecophylla smaragdina) juga bervariasi dengan jumlah populasi terbanyak dalam satu sarang berjumlah 7508 ind/sarang dan paling sedikit 578 ind/sarang. Banyak sedikitnya populasi yang didapat tergantung dari mosaik dan ukuran sarang yang dipengaruhi oleh faktor ekologi yaitu sumber daya dan kondisi lingkungan yang baik. Semakin besar populasi semut dalam satu sarang semakin besar nilai jual ekonomisnya.

 

E. Ucapan terima kasih

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Rektor IAIN Raden Fatah Palembang, Promotor dan Co-Promotor (Prof. Dr. Siti Salmah, Prof. Dr. Dahelmi dan Dr. Ahsol Hasyim, MS),Direktur CV. PASUMA, Mahasiswa Pend. Biologi (2009-2010)Fak. Tarbiyah, Panitia AICIS 2013,serta kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

 

F. Daftar Pustaka

Agosti. D. Majer, D., Alonso L.E., Schultz, TR. 2000. Ants Standard Methods for Measuring and Monitoring Biodiversity. Washington: Smithsonian Institution Press.

 

  •  

 

Andersen, A. N. 1993. Ants as indicators of restoration success at a uranium mine in tropical Australia. Restoration Ecology. 1 : 156–167.

 

Anomius, 2011. Hama Tanaman Kelapa Sawit.  Http: // repo sitory. usu.ac. id/           bitstream /123456789/22733/4/Chapter%20II.pdf . diakses pada hari kamis, 30 Mei 2013, Pkl. 16 : 00 WIB

 

Atkins, A. 1992: On the taxonomic changes to lycaenid-associated ants of the genus Iridomyrmex. Vict. Entomol. 22: 72–73.

 

Buana dan Siahaan. 2003. Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit. Pertemuan Teknis kelapa sawit 21. P. 56-77.

 

Bluthgen, N., Stork, N.E., Fiedler, K., 2004. Bottom-up control and co-occurrence incomplex communities: honeydew and nectar determine a rainforest antmosaic. Oikos 106, 344–358.

 

Bolton, B. 1995. A new General Catalouge of the Ants of thee World. Cambridge Massachussetts: Harvard University Press.

 

Borror, C.A. Triplehorn and N.F. Johnson. 1992. An Introduction to the Study of Insect. Philadephia: W.B. Saunders.

 

Coley, P. D. and Barone, J. A. 1996. Herbivory and plant defenses in tropical forests. – Annu. Rev. Ecol. Syst. 27: 305–335.

 

Dirjen Perkebunan. 2007. Pedoman Umum Program revitalisasi Perkebunan (kelapa sawit, Karet dan kakao). Departemen Pertanian. Jakarta

 

Gibb, H. 2003: Dominant meat ants affect only their specialist predator in an epigaeic arthropod community. Oecologia136: 609–615.

 

Gibb, H.; Hochuli, D. F. 2003: Colonisation by a dominant ant facilitated by anthropogenic disturbance: effects on ant assemblage composition, biomass and resource use. Oikos 103: 469–478.

 

Hartley, C.W.S. 1977. The oil palm. Longman, London and New York : i-xvii: 1-806.

 

Haskins, C. P. 1978. Sexual calling behavior in highly primitive ants. Psyche 85: 407-415.

 

Holway, D.A, Lori Lach, Andrew V. Suarez, Neil D. Tsutsui, Ted Case, 2002. The Causes & Consequences of Ant Invasions. Annual Review: Ecology Systems. 33:181-233.

 

Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pests of Crops In Indonesia. PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve : Jakarta

 

Kartasapoetra. 1987. Hama Tanaman Pangan Dan Perkebunan. Bumi Aksara. Jakarta

 

Kusnaedi. 2005. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Leonotis, Amy. 2012. Makalah Ekologi Hewan (Hewan Dan Lingkungan). http://amybiologi.blogspot.com/2012/03/makalah-ekologi-hewan-hewan-dan. html.  diakses pada hari sabtu, 18 mei 2013, Pkl. 14 : 00 WIB

 

  •  

 

Peck S.L, B. Mcquaid, B. And C. L. Campbel. 1998. Using Ant Species (Hymenoptera: Formicidae) as a Biological Indicator of Agroecosystem Condition Environ. Entomol. 27(5): 1102-1110

 

Pracaya. 2002. Hama Dan Penyakit Tanaman . Penebar Swadaya . Palembang

 

Way, M.J, and K.C. Khoo. 1992. Role of Ants in Pest-management. Annu. Rev. Entomol 37: 479-503.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIODATA PENELITI

 

Nama                                    : Irham Falahudin, S.Pd. M.Si.

NIP                                         : 19711002 199903 1 002

Tempat, Tgl Lahir              : Bengkulu, 2 Oktober 1971

Pangkat/Gol. Ruang        : Penata Tk I/ III.d/Lektor

Jabatan                                : Ketua Jurusan Pend. Biologi

Unit Kerja                            : Fakultas Tarbiyah, IAIN Raden Fatah Palembang

Alamat Kantor                   : Jl. Prof. KH. Zainal Abidin Fikri KM 3,5 Palembang 30126

Alamat Rumah                  : Komp. Citra Kencana 2 Blok B.6 RT 57/13 Kel. Kebun Bunga KM. 9 Palembang 30152

Telp. Kantor                       : 0711 353276

Telp. Rumah/HP               : 0711 7422864/ 0813 746 65651

 

Pendidikan                         :

  1. S1 Pend. Biologi Universitas Bengkulu                      Tamat   1998
  2. S2 Biologi PPs-Universitas Andalas Padang            Tamat  2007
  3. S3 Biologi PPs-Universitas Andalas Padang            Tahun  2009

 

Hasil Penelitian dan Karya Tulis Ilmiah

  1. Komposisi Dan Struktur Komunitas Hewan Permukaan Tanah Pada Lahan Gambut Di Sumatera Selatan. Tesis 2007.
  2. Penerapan Teori Belajar Thorndike Pada pembelajaran Biologi Dalam Konsep Ekosistem Sebagai Salah Satu Pendekatan Dalam Meningkatkan Pretasi Belajar Siswa Kelas 1.2 SLTPN 8 Bengkulu. Skripsi 1998.
  3.  Pengelolaan Sampah Masyarakat Perkotaan dalam Dimensi Ekologi Budaya (Tamaddun, No. 1/Vol V/2005)
  4. Prospek Pendidikan Sains pada Perguruan Tinggi Islam: Rencana Pengembangan IAIN Raden Fatah Palembang menjadi UIN serta Pengembangan Program Studi Baru. (Mimbar Akademik, No. 2 Vol. 1/2005)
  5. Budaya Instan Masyarakat Terhadap Teknologi: Dampak Teknologi Rekayasa Genetik bagi Perlindungan Hukum Keanekaragaman Hayati dan Permasalahan Lingkungan. (Tamaddun, No. 1 Vol. VII/2007)
  6. Perkembangan Teori Evolusi dalam Perspektif Sains Modern dan al-Qur'an. (Mimbar Akademik, No. 1 Vol. 3/2007)
  7. Manusia Sebagai Makhluk Sosial, Biologis Dan Kultural Dalam Tinjauan Teori Sosiobiologi Dan Kebudayaan (Studi Tentang Sejarah Perkembangan Asal-Usul Manusia ) (Tamaddun, No. 2 Vol. VII/2008)
  8. Inovasi Pendidikan Mengajar Berbasis ICT Dalam Proses Belajar.(Jurnal STITQ Vol I/2009)
  9. Prospek Pendidikan Umum Pada Institusi Perguruan Tinggi Islam (Studi Kasus Pada Pembentukan Jurusan Tadris Di Iain Raden Fatah Palembang) (Jurnal Akademik Vol. /2009)
  10. Pemberdayaan Masyarakat Dalam  Pengelolaan Lingkungan (Implementasi  Dari UU Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah) (Buku Fiqh Lingkungan PPs IAIN RF 2009)
  11. Buku Pedoman Panduan Praktikum Lapangan, Fak. Adab, 2008

 

 

Pertemuan Ilmiah

Kegiatan

Sebagai

Tempat

Waktu

Workshop Penelitian Naskah

Peserta

IAIN RF-Palembang

07-09-2005

Simposium Internasional

-“-

UNAND-Padang

12-09-2005

Bedah Buku Nasional

-“-

IAIN IB Padang

04-02-2006

Seminar Nasional

-“-

IAIN RF-Palembang

16-09-2006

Lokakarya Pemanfaatan SPSS

 

Seminar  Hasil Penelitian

 

 

Annual Conferences Islam Studies (ACIS)

Seminar Nasional Biologi

Seminar International “ Epistemology of Islam Studies”

Seminar Nasional “Sosialisasi Pemilu 2009”

Seminar Biologi dan Kesehatan “kanker Mulut Rahim”

Seminar Internasional Ekonomi Islam 2009

Seminar dan Kongres Biologi XX 2009

Workshop TOEFL 2009

SEMIRATA BKN PT WIL. B

Seminar Nasional Biologi VIII

SEMIRATA BKN PT WIL. B

Seminar Nasional Entomologi

-“-

 

Pemakalah

 

 

Proceeding

 

Pemakalah

Proceeding

 

Moderator

 

Pemakalah

 

Proceeding

 

Peserta dan pemakalah

Peserta

Pemakalah

Pemakalah

Pemakalah

Pemakalah

IAIN RF-Palembang Padang/BKSD dan Univ. Andalas

 

 

Diktis Depag RI di Palembang

UIN Malang

Palembang

 

Palembang

IAIN Palembang

 

 

PPs IAIN RF Palembang

UIN Malang

 

Palembang

Riau

ITS- Surabaya

Banjarmasin

PEI Bandung

 

22-09-2006

 

2007

 

 

2008

 

2009

2009

 

2009

2009

2009

 

2009

 

2009

 

2009

2010

2010

2011

2011