Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang  

Indonesia “Darurat Ghibah”

Ditulis oleh : Dr. M. Adil | 28/08/2017 WIB

Indonesia “Darurat Ghibah”

Oleh: DR. Muhammad Adil

 

Fenomena ghibah, semula merupakan sesuatu yang tidak biasa, kemudian menjadi biasa saja.

Ketika menjadi biasa, sebetulnya luar biasa.

Ghibah menjadi perbuatan yang luarbiasa, tidak bisa dilepaskan dari pemberian dukungan kepada ruang dan waktu yang luar biasa mudahnya.

Dahulu terjadi hanya antar orang, terbatas dan lokalistik, sekarang bebas ruang dan waktu tanpa batas menyebar melalui dunia maya.

Eforia reformasi yang terjadi di negara kita mulai paruh 1998 telah membuka kran demokratisasi yang luar biasa derasnya.

Semua sekat-sekat yang dahulu dibatasi oleh rezim otoriter kemudian menjadi sangat terbuka.

Karena terbukanya sangat cepat, kadang lupa membuat saringan atau filterisasinya.

Dan, ini hampir terjadi dalam semua lini kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, seolah semuanya menjadi boleh tanpa adanya batasan.

Ini yang oleh sebagian orang disebut dengan reformasi yang kebablasan.

Munculnya banyak stasiun televisi sebagai media elektronik menyebabkan terjadinya persaingan pemberitaan, masing-masing berlomba ingin menyampaikan semua denyut nadi kehidupan masyarakat secepat-cepatnya, dan terlihat dari jargon masing-masing stasiun televisi.

Ada yang akurat, objektif, terpercaya, tercepat, paling tajam, paling dahsyat,dll.

Salah satu acara yang sempat menjadi sorotan oleh para ulama waktu itu antara lain adalah infotainment yang berisi tentang kehidupan para seleberitis tanah air dari A sampai Z.

Lembaga Bahstul Masail NU ketika itu sangat keras menolak kehadiran berbagai macam acara infotainment karena containnya berisi tentang cerita yang mengarah kepada menyebarkan kejelekan-kejelekan orang.

Mereka menganggap bahwa perbuatan ini mengandung unsur ghibah, mudarat atau dampaknya sangat besar, karenanya lembaga ini mengharamkan model tayangan acara seperti ini.

Kemudian, sebagai bentuk apresiasi dan kepedulian, pemerintah membuat lembaga pengawas terhadap aktifitas penyiaran.

Pemberitaan melalui dunia maya terus mengalami perkembangan yang luar biasa pesat dan dahsyatnya.

Dengan hadirnya media sosial (medsos) seperti sekarang, maka aktifitas ghibah tentu menjadi sesuatu yang tidak lagi menjadi persoalan, sudah biasa.

Karena sangat sulit untuk melakukan pengawasan dan mengatur setiap conten yang disebarkan, yang terjadi adalah menjadi santapan setiap saat, kapan saja, di mana saja, siapa saja.

Diserahkan kepada kita sebagai penikmat medsos untuk menyeleksi sendiri mana yang sesuai atau tidak, mana yang pantas, mana yang tidak pantas untuk disebarkan.

Karena menjadi tranding, aktifitas ghibah sungguh sangat mengkhawatirkan, sudah dapat dikatakan menjadi salah satu sumber keresahan nasional menyangkut karakteristik berbangsa dan benegara secara menyeluruh.

Memperhatikan kondisi sekarang ini, kita dapat mengatakan bahwa Negara kita sedang berada dalam kondisi “darurat ghibah”.

Ghibah menjadi perkara luar biasa (extra ordinary), selain narkoba, korupsi, dan terorisme.

Ghibah memiliki dampak yang luar biasa karena akan menimbulkan fitnah, jika dilakukan secara massif politis, bukan tidak mungkin dapat mengancam stabilitas keamanan nasional.

Bahaya Ghibah, Sudut Pandang Agama

Di antara persoalan yang definisinya langsung diberikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah persoalan ghibah. Definisi itu dapat dilihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad bahwa Rasulullah bersabda: 

“Tahukah kalian apa itu ghibah?,

Mereka menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.

Kemudian Nabi bersabda, ghibah itu adalah anda menceritakan tentang sahabatmu yang membuatnya tidak suka/benci. Di antara sahabat ada yang bertanya,

Bagaimana kalau pada diri sahabat saya itu kenyataannya memang demikian?

Maka Nabi bersabda, Apabila cerita yang Anda katakan itu sesuai dengan kenyataannya, maka anda
telah melakukan ghibah kepadanya.

Dan jika ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya, maka anda telah berdusta atas namanya.”

Patut menjadi pertanyaan, apakah maksud dibalik penjelasan Nabi SAW tentang ghibah itu. Dapat dipahami bahwa sesuatu yang langsung dijelaskan oleh Nabi SAW tentang definisinya berarti persoalan itu sudah jelas. Akan tetapi, meskipun sudah jelas banyak orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Mestinya sesuatu yang sudah jelas tidak usah lagi ditanyakan karena memang sudah jelas.

Ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sudah jelas, lalu kemudian orang-orang sangat gampang untuk melakukannya, baik secara sadar mapun tidak disadari.

Orang kemudian ringan saja melanggarnya, seolah tanpa beban sama sekali.

Padahal Tuhan telah memberi warning kepada palakunya, misalnya dimuat dalam Q.S. al-Hujurat: 2 antara lain wa la yaghtab badhukum ba’dhaa yuhib buah adukum aiya’kulalah maakhihim ayyitan fakaliht muhuwat taqullah ainnallah tawwabun rahimun –Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu mera sajijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang).

Dalam Q.S.an-Nur: 19 disebutkan bahwa: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”

Peringatan keras tentang pelaku ghibah ini antara lain:

Pertama, bahwa dosanya lebih besar dari perbuatan zina.
Lebih besar dosanya dari zina,karena dampaknya dapat merugikan orang yang menjadi objek gunjingannya,  edangkan zina hanya kepada pelakunya saja.

Makanya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasa’i disebutkan oleh Nabi SAW bahwa kalau orang berzina bertaubat, lalu di terima oleh Allah SWT, maka dapat diampuni dosanya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni sampai orang itu memperoleh maaf dari orang yang digunjing itu.

Kedua, terhadap pelaku ghibah, akan berkurang pahalanya, sedangkan dosanya akan bertambah.

Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat bahwa pada hari kiamat nanti kebanyakan orang akan kaget karena pahala amalnya habis atau berkurang, sementara dosanya bertambah.

Di antara sahabat ada yang bertanya kenapa seperti itu?

Nabi SAW menjawab bahwa amal ibadah habis karena beralih ke pada orang yang digunjingnya dan dosanya bertambah karena dosa yang digunjingnya itu beralih kepadanya karena ulah ghibahnya.

Ketiga, pelaku ghibah akan diganjar dengan dosa yang nilai timbangannya lebih besar dari pelaku riba.

Riba saja, dosanya cukup besar.

Nah, ghibah ternyata lebih besar lagi dosanya.

Misalnya peringatan Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa: inna min arbaar-riba al-istithalatu fi irdhi al-muslim bighairihaq (sesungguhnya termasuk riba yang paling parah adalah mengulurkan lisan terhadap kehormatan seorang muslim tanpa hak).

Perbuatan riba itu masih bisa diper debatkan, dibutuhkan waktu yang kadang prosesnya cukup panjang, sedangkan ghibah ringan sekali, kadang tanpa disadari, karena berkaitan erat dengan perilaku lidahnya.

Jadi, ghibah ini dapat dilakukan oleh orang kapan saja, sangat gampang, mudah, ringan di lidah, tapi, besar dampak
nya.

Perbuatan ghibah berupa menggunjing, mengumpat, menceritakan, menyebarkan kejelekan atau keburukan orang itu dilarang, karena dapat berlajut kepada mengolok-olok dan menghina seseorang.

Jika sudah sampai pada fase ini, maka dia akan bertambah besar dampaknya, betul-betul dapat merugikan orang lain.

Dari satu orang akan berlanjut kepada orang lain, sehingga dapat menyebar kepada banyak orang, bahkan semua orang di tempat itu. Terhadap perbuatan seperti ini Tuhan memperingatkan dalam Q.S. al-Hujurat: 11 bahwa:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan)”.
Dalam Q.S. al-Humazah: 1 disebutkan bahwa: “Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, yakni janganlah kalian mencela orang lain. Pengumpat atau orang yang mencela adalah orang-orang tercela dan terlaknat sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT berikut, “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”.
Perbuatan ghibah dapat menggerus pahala yang kitamiliki, mengalir pindah kepada orang lain.

Mungkinung kapan Nabi SAW: falyaqul khairan au liyasmut (berkata baik atau diam saja)” atau pepatah lama “diam adalah emas”, mungkin berlaku sebagai benteng yang dapat dilakukan oleh setiap individu supaya tidak menjadi orang yang bangkrut missal di akhirat