Selamat Datang di Situs Resmi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang   Kepada Yth Wali Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN RF Untk menghadiri acara Silaturahmi dan pertemuaan wali MAHASISWA FITK ANGKATAN 2018 pada HARI: JUMAT TANGGAL: 14 SEPTEMBER 2018 Jam: 08.30 SD 11.00 Tempat: Academic Center UIN Raden Fatah  

Anak Gadis Tanah Airku

Ditulis oleh : Dr. Endang Rochmiatun, S.Ag.,M.Hum | 27/02/2017 WIB

“Anak Gadis Tanah Airku” :

 Aspirasi Perempuan Palembang Pada Tahun 1926

 

Oleh : Endang Rochmiatun**

“Anak Gadis Tanah Airku” demikianlah judul artikel yang pernah dimuat dalam sebuah surat kabar terbitan Palembang pada tahun 1926 yang ditulis oleh seorang perempuan Palembang yakni “Ning Dap.” “Ning Dap. adalah inisial penulis artikel tersebut dan juga merupakan seorang anak gadis Palembang. Adapun inspirasi dari  tulisannya ia dapatkan juga dari seorang perempuan Palembang yang telah beberapa kali mengisi sebuah rubrik “Soeara Kaoem Isteri” pada sebuah surat kabar yang sama dan pada tahun yang sama pula, yakni Surat Kabar “Kemoedi” tahun1926 dan diterbitkan di Palembang (Proefnummer, Palembang : Jacoeb, 1926). Adalah “Sitti Zakiah”, merupakan seorang gadis Palembang, dan ialah yang menyuarakan aspirasinya tentang pentingnya perempuan untuk menempuh pendidikan pada masa itu.” ...ingatlah hai kaoemku, bahwa ilmoe pengetahoean itoe ta’ habis-habisnja sampai nanti dihari kiamat...”, demikian salah satu ungkapan Sitti Zakiah yang dimaksudkan mengajak kaumnya (perempuan) untuk menuntut ilmu, dan pentingnya menuntut ilmu bagi kaum perempuan.

Jika R.A Kartini menyuarakan aspirasinya untuk meraih emansiapasi melalui surat-surat yang ditulis dan kemudian dikirimkan pada teman penanya yakni seorang perempuan Belanda bernama “Stella Zaehandelaar”, maka kedua perempuan Palembang tersebut di atas pada masa tersebut menyuarakan aspirasinya dengan bantuan dan dukungan dari Redaktur Surat Kabar “ Kemoedi”. Seperti dikatakan Sitti Zakiah pada tulisan edisi pertamanya :

“...Toean Redacteur jang terhormat. Ijinkanlah saja oleh toean boeat menerbitkan boeah pikiran saja dihalaman Kemoedi jang tjantik manis ini, seruan bagi kaoemkoe perempoean di Residentie Palembang ini...” (Kemoedi, 1926). Dan juga tulisan Ning Dap. : “...toelisan saudara Sitti Zakiah soedah memberanikan hati saja boeat mengeloerkan sedikit soeara hati saja tentang saudara-saudarakoe anak gadis di Palembang ini....” (ibid)

Seperti diketahui, surat pertama Kartini pada Stella ditulis pada 25 Mei 1899, yakni :

“...Aku..anak perempuan kedua dari bupati jepara, dan aku mempunyai lima orang saudara lelaki dan perempuan..almarhum kakekku adalah bupati di Jawa Tengah yang pertama membuka pintunya untuk tamu dari jauh seberang lautan...Semua anak-anaknya ...mempunyai kecintaan terhadap kemajuan yang diturunkan dari ayah mereka ;dan mereka pada gilirannya memberikan pada anak anak mereka pendidikan yang sama yang dulu mereka nikmati..Kami anak-anak perempuan yang masih terbelenggu oleh adat-istiadat lama hanya boleh memanfaatkan sedikit saja kemajuan dibidang pendidikan itu. Sebagai anak perempuan, setiap hari pergi meninggalkan rumah untuk belajar disekolah sudah merupakan pelanggaran besar terhadap adat negeri kami.ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumahnya....ketika berusia 12 tahun aku harus tinggal dirumah, aku dikurung didalam rumah...” (Kartini, Door duisternis tot licht, kumpulan surat-surat yang disunting J.H Abendanon, cetakan ke-4 1923 hlm.3)

Adapun Ning Dap. Juga  menuliskan curahan hatinya :

...saja ini dilahirkan di Kota Palembang, waktu saja beroemoer 3 tahun saja ...orang toea saja pergi.... Moela-moelanya saja tiada soeka dimasoekkan ke sekolah Belanda itoe, karena familie-familie saja jang perempoean beloem ada jang pernah disekolahkan,apalagi dimasoekkan kesekolah belanda, jadi saja inilah jang pertama kali diantara familie saja jang boleh dikatakan diantara anak negeri saja jang disekolahkan pada sekolah Belanda....dalam sekolah jang beratoes moeridnya itu, tjoema sadja yang berasal dari Palembang, selainnya adalah anak-anak orang berpangkat bangsa Soenda, Padang dan Djawa. Tingkah lakoe dan boedi bahasa teman-teman saja itoe terlalu baik dan halus, baik pun teman  adik-adik saja jang laki-laki kelihatan betoel bagaimana ia menghormati kami perempoean. Alangkah lainnya dengan anak-anak moeda di tanah airku! Jang tiada sekali-kali memperdoelikan dan menghargakan saudaranya jang perempuan....”

Dalam tulisannya tersebut sepertinya “Ning Dap.” menceritakan bagaimana rasanya mendapat kesempatan memperoleh pendidikan modern di luar Palembang, dan itu dikarenakan pandangan dan sikap kedua orangtuanya yang memberikan kesempatan untuk anak perempuannya memperoleh pendidikan. Digambarkannya bahwa orangtuanya sebagai sosok orangtua yang telah memberi kesempatan memperoleh “pencerahan’ dengan bersekolah. Sebagimana dalam tulisannya :

...dialah saja rasa orang toea jang telah melapangi alamnja anak perempuan bangsa saja orang Palembang. Akan tetapi bagaimanakah dengan iboe bapa jang lain dan anak-anak gadis sedjawat dengan saja. Alangkah kasihan anak gadis-gadis itoe dikoeroeng di roemah sadja. Tiada mengetahoei apa-apa jang kedjadian di loear dan tiada poela melepaskan pemandangannya kekiri dan kekanan. Seolah-olah lapangan jang diwatasi dinding, loteng dan lantai jang tiada seberapa meter besarnja itoe, itoelah doenia, ja alamnya anak-anak gadis bangsa saja. (Kemoedi, Agustus 1926). Ia juga menuliskan kiasaannya tentang anak gadis di Palembang pada masa itu, ....berapa indahnya waktoe matahari terbit dan terbenam dan betapapoela tjantiknja waktoe malem hari, boelan bertjahaja diatas langit, di pagar oleh bintang jang berjoeta-joeta banjak itoe ? wah..segala ini saoedara saja perempoean hanja boeleh melihat ditjelah-tjelah dinding sadja..Kasihan ! ! ! (ibid.)

Senada dengan ungkapan hati dari “Ning Dap.” diatas, Sitti Zakiah pun mengungkapkan buah pikirannya dengan juga menceritakan bagaimana para ibu-ibu (kaum perempuan) di Palembang pada masa itu belum tahu  dan juga belum mengerti apa pentingnya anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Ia katakan bahwa “kemajuan suatu negeri itu bergantung pada majunya “Perempuan” Dalam tulisannya Sitti Zakiah mengungkapkan :

...Onderwijs (*artinya: pendidikan) adalah satoe factor jang teroetama boeat kemadjoean bangsa kita, dengan itoelah kita nanti akan dapat mentjapai segala tjita-tjita kita, dan sama dalam pergaoelan hidup dengan bangsa apapun di doenia ini. Sebab itu haruslah kita beoesaha bersama-sama boeat memadjoekan  bangsa dan tanah air kita dengan jalan menjoeroeh anak-anak kita nanti bersekolah di tempat kita ini atau menjoeroehnya ke sekolah jang tak ada ditempat kita ini  (Ket : ke luar daerah Palembang,maksudnya)

Menurut Sitti Zakiah, perempuan yang bersekolah itu tidak semata-mata hanya bertujuan untuk nantinya mendapatkan gaji dengan menjadi : “Docteres, Klerken / dokter, ahli hukum (panitera) dan sebagainya, namun supaya memperoleh bekal untuk menjadi ibu yang nantinya atau kelak akan mendidik dan menjadi ibu yang sejati bagi anaknya. Dikatakannya :

...anak perempoean jangan diloepakan karena orang boleh melihat dan mengerti bahasa kemadjoean sesoeatoe negeri itoe bergantoeng kepada madjoenya perempoean. perempoean itu kita soeroehkan pergi masoek sekolah ini dan itoe boekan oentoek makan gadji sadja seperti djadi Doctores, Klerken dan sebagainja, melainkan sebagai kata Napoleon jang saja badja dalam boekoe karanganndja adalah perempoean itoe dimadjoekan boeat menjadi iboe jang kelak akan mendidik dan mendjadi iboe jang sedjati daripada anaknya... (Kemoedi,sabtoe 21 dhoelhidjah 1344/3 juli 1926).

Sitti Zakiah pun kemudian menggambarkan bagaimana kondisi para ibu (perempuan) di Palembang pada masa itu masih banyak yang berfikiran “koeno”. Meski dalam tulisannya, ia pun juga menggambarkan tentang kondisi Palembang pada masa itu (pada tahun 1926) sebagai kota yang ramai,yang telah banyak mengalami perubahan, baik dalam bidang ekonomi maupun pendidikan. Keprihatinannya terhadap kurangnya dorongan para ibu-ibu (perempuan) di Palembang untuk menyekolahkan anaknya dapat dilihat dari tulisannya :

..sangat piloe hati saja, kaoemkoe di Palembang ini..mereka beloem begitoe dojan oentoek memadjoekan atau mendjuroeh anaknja perempoean pergi ke sekolah jang agak tinggi ataoe jang lainnja, karena ia koeatir anaknja. Katanja koeatire akan adjaran christen dan lain sebagainja..meski ada djoega jang maoe memadjoekan anak perempoeannja, tapi hanja dikelas 3 ataoe 4 sadja teroes diberhentikan sadja..katanja ta’ bergoena lagi anak perempoean itoe disekolahkan lagi..tjoekoep soedah asal tahu diangka dan membatja –a-b-c-...inilah fikiran “koeno” jang pada zaman ini tidak lakoe lagi.(Ibid.)

Dalam beberapa tulisannya di beberapa edisi surat kabar “Kemoedi” Sitti Zakiah banyak menuliskan di akhir tulisannya dengan mengingatkan pentingnya para ibu untuk mendorong anak-anak perempuannya untuk bersekolah atau mendapatkan pendidikan baik yang ada di palembang pada masa itu dan sesudahnya maupun yang ada di luar Palembang. Dengan harapan menjadikan “Gadis” Palembang sebagai gadis yang pintar, baik serta selamat di dunia dan akherat. Ungkapan dalam tulisannya adalah :.

..telah semoestinja orang-orang toea mereka itoe memperhatikan akan toelisan saja, soepaya dihari besarnya nanti djangan terbawa-bawa djoega olehnja dengan berharap moedah-moedahan ia akan mendjadi seorang  anak jang  pintar dan baik serta selamat penghidoepannja dari doenia keachirat. Sebab itoe seharoesnya kaoemku di sini palembang oentoek memperhatikan anaknya perempoean dengan teliti serta menjoeroehnya mereka pergi menoentoet ilmu pengetahoean... .(Ibid.)

“...Ingatlah hai kaoemkoe, bahwa ilmoe pengetahoean itoe ta’ habis-habisnja sampai nanti di hari kiamat.”                                                                                        

Palembang, 24 Februari 2017

 

  • Beberapa paragraf dalam artikel ini telah dimuat di Surat Kabar : Sumatra Ekspres, 14 April 2016. Sebagian paragraph jugha merupakan hasil penelitian di LP2M UIN RF terbit dlm buku dg judul: Pemikiran Dan Peranan Perempuan Melayu Palembang Abad XIX-XX (Yogyakarta: Idea Press, 2015)                                                                                   

**     Dosen Sejarah Dan Kebudayaan di FAHUM UIN Raden Fatah Palembang/ (Wakil Dekan I FAHUM UIN Raden Fatah Palembang)